Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
10. Terluka


__ADS_3

...Happy reading...


"Lengkap sudah penderitaanmu Helena!" Teriaknya ditempat sepi seperti ini karena dia bingung bagaimana cara membayar uang pria itu


Tringgg....


Langkah Helena terhenti mendengar gawainya berbunyi ia merogoh tas nya mencari benda pipi itu. Begitu dapat di lihatnya nama Aliza tertera di sana.


"Eh tumben Aliza nelpon." Helena langsung menggeser tombol hijau di layar ponsel untuk menjawab panggilan


"Halo ada apa Zaa?" Tanyanya to the point


"Aiss sombong banget, gua rindu tau!" cebiknya kesal


"Udah itu aja?"


"Naa, tega banget ih, aku rindu sekebon nih!" rengeknya dari sebrang sana yang menandakan dirinya kesal.


"Bukan tega Zaa, ini panggilan internasional mahal, hemat Zaa kamu gak lama lagi disana,  mana gua belum dapat gaji lagi," cebik Helena karena belum mendapatkan gajinya bulan ini.


"Loe curhat gitu?"  Balas Aliza jengah dengan sikap Helena yang terlalu irit


"Zaa. Udah ah chat aja biar lebih hemat."


Helena langsung memutuskan panggilan dari pihaknya, Aliza terkadang boros kalau lagi banyak uang


Helena mengirimkan beberapa pesan suara untuk mengobati rasa rindunya maupun sahabatnya.


Helena pulang setelah berhasil melarikan diri dari pria tampan tadi, ia sudah sampai di rumah, segera disambut oleh berbagai pertanyaan ibunya yang menanyai tentang pria yang dikencani


"Sudahlah bu, aku tidak mau melakukannya lagi," Helena merasa tubuhnya lelah.

__ADS_1


"Tapi kita bisa melihat biodata lelaki yang lain, ibu hanya berusaha, ketika kau diluar negeri bahkan tidak punya teman pria," beralasan agar Helena terbujuk olehnya.


"Jangankan teman pria bahkan teman perempuan saja dia tidak punya karena dia seorang pendendam." Keysa yang baru turun langsung menghina Helena tanpa celah.


"Keysa jaga kata-katamu!" Bentak Fara ibu Helena seraya menunjuk wajah Keysa.


"Oho kau sudah berani membentakku dirumahku sendiri memang perempuan yang tidak tau malu," cibirnya seraya tertawa kecil.


"Ku kira kau lebih tidak sopan bukannya itu yang tidak tau malu," balas Fara yang membuat Keysa tambah meradang.


"Lihat saja saat rumah ini jadi milikku tidak ada dari kalian yang bisa tinggal disini!" Keysa menunjuk wajah Helena dan ibunya dengan amarah.


"Keysa jaga ucapan yang kau katakan! Ayahmu masih sehat tapi kau sangat buru-buru membagi harta kekayaannya!" Teriaknya


"Kau-," Keysa yang tidak bisa menjawab lagi hanya mengepalkan tangan disisi tubuhnya dengan kesal.


"Bu, kau cukup tangguh, aku kira kau akan terus menerima perkataan tajam dan hinaan dari Keysa." Helena tertawa kecil melihat pertengkaran keduanya.


"Bu jangan bercanda, bukankah semua penghinaan dan penindasan nya dari kecil hingga sekarang apa kau lupa bahwa itu semua karenamu? Apa kau lupa?" tanya Helena tepat didepan ibunya yang terlihat terkejut


"Aku mual mendengarmu!" Helena berbalik kearah pintu masuk tadi.


"Helena..."


Helena pergi meninggalkan ibunya yang terpaku dengan kepergian nya didepan pintu rumah.


"Helena maafkan ibu!" Ucapnya lirih melihat kepergian putrinya dengan merasa sesak di dada


Helena pergi tidak tau arah hingga tanpa sadar ia berjalan ditengah jalan hingga persimpangan ia tersenggol oleh mobil lewat hingga jatuh terduduk diaspal.


"Aww.. sakit!" Keluhnya kesakitan.

__ADS_1


Orang yang menyenggolnyya turun dari mobil yang tidak segaja menabrak seseorang pejalan kaki hingga terduduk diaspal dengan kesakitan ia pun bergegas keluar memeriksa.


"Nona apa kau tidak apa?" tanyanya panik berlutut melihat kaki perempuan ini terluka.


Helena tertunduk menahan sakit sebelum ia  melihat siapa yang harus bertanggung jawab atas dirinya yang terluka. Helena menyampir rambut ke belakang telinga dan menoleh.


"Kau lagi?" Kaget Helena melihat Erfan yang berada didepannya lagi.


"Kau lagi! kenapa kalau aku lagi! Lagian kau sedang apa disini malam-malam begini?" tanya Erfan melihat tampilan Helena masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat kabur tadi.


"Apa urusanmu hah? Sial, aku selalu bertemu kesialan berjumpa dengannya" ucapan terakhir di ucapkan dalam hati.


"Tentu saja urusanku! Apa kakimu baik-baik saja?" Tanya Erfan berlutut mendekati mencoba melihat kaki Helena yang terluka.


"Aku baik-baik saja!" Helena bangkit dari duduk dan mulai berjalan terseok-seok kerena sakit di kaki nya


"Tidak, Kau harus pergi kerumah sakit bersamaku!"


"Tidak usah"ucapnya ketus dan berjalan menjauhi Erfan.


"Maaf tapi aku harus membawamu kerumah sakit," tapi anehnya Helena bahkan tidak melawan malah patuh saja saat Erfan menggendong dan membawanya masuk kedalam mobil serta memasang sabuk pengaman padanya


Beberapa menit kemudian dokter sedang memeriksa keadaan Kaki Helena yang terluka dan mulai meneteskan obat yang membuat Helena meringis kesakitan.


"Dokter pelan sedikit, lihat dia kesakitan!"bentak Erfan seakan ikut merasa kesakitan!


"Baik," dengan hati-hati dokter mulai memperban kaki Helena yang terluka hingga terbalut rapi.


"Lukanya tidak parah hanya saja jangan terlalu banyak bergerak dan tidak boleh kena air, itu akan membuat lukanya terbuka lagi, anda sebagai suaminya bisa menjaga makanannya jangan makan pedas dan makanan beralkohol." Jelas dokter dengan terus menuliskan resep obat.


"Ini resep obat berupa obat perban yang diganti 12 jam sekali disertai obat oles agar lukanya cepat mengering.

__ADS_1


****


__ADS_2