
...Happy reading...
Hari ini sama seperti hari sebelumnya kemarahan Erfan pada Helena semakin menjadi bahkan Erfan selalu bicara dengan ketus seakan dia tidak lelah karena marah. Padahal marah juga butuh tenaga.
Erfan sudah pergi pagi-pagi sekali bahkantidak sarapan seperti biasanya katanya sih ada keperluan diluar sekalian makan diluar.
Sementara itu Helena sudah mengemas beberapa barang untuk pergi bersama Luna, yah semalam Luna mengatakan akan berekreasi bersama teman, guru serta orang tua ke kebun anggur.
Hari rekreasi segaja dipilih akhir pekan agar orang tua pun bisa ikut ke kebun anggur diperkebunan kota itu.
Luna terpaksa mengajak Helena karena ayahnya tidak bisa datang, bagaimana lagi ayahnya bukan miliknya seorang tapi masih banyak yang membutuhkan dirinya.
Tapi Erfan tadi pagi mengatakan akan berusaha cepat pulang menyusul mereka
" Ayah pergi dulu ya, akan ayah usahakan pulang dan menyusul Luna disana." Ucap Erfan lembut berlutut di hadapan putrinya.
" Benarkah?" Dijawab dengan anggukan oleh Erfan seraya menarik putrinya dalam pelukan serta menghujani kecupan di puncak kepalanya.
"Ayah pergi dulu sayang," pamit Erfan walau sudah menjelaskan maksudnya tapi setelah dia pergi Luna jadi murung walau sesekali tersenyum bercanda dengan temannya.
Mereka sedang menempuh perjalanan menuju kebun anggur dengan bus, anak-anak dipandu oleh guru agar bernyanyi dengan riang hingga tidak terasa sudah sampai tujuan.
"Anak-anak kita sudah sampai, turunlah dengan teratur!" Guru yang sudah keluar terlebih dahulu memberi intruksi agar berhati-hati.
Satu persatu anak turun hingga tiba waktu Luna dan Helena turun dari bus bersama, Helena memakai tas punggung berisi banyak barang seraya mengenggam tangan Luna.
"Waw kebun anggurnya luas sekali, Ma!" Luna mengedarkan pandangan melihat begitu luasnya kebun anggur itu.
__ADS_1
"Benar sayang ayo kita ikut mereka juga dan mulai piknik kita."ajak Helena mengandeng tangan Luna menyusuri jalan setapak dan rumput hijau yang membentang luas seperti lapangan sepak bola.
Beberapa menit berjalan akhirnya mereka tiba di tengah perkebunan anggur. Banyak yang mulai mengelar tikar untuk duduk termasuk Helena dan Luna.
Mereka mengeluarkan juga beberapa makanan yang mereka bawa, nikmat sekali rasanya makan cemilan seraya menikmati pemandangan. Sempurna!
Di antara mereka hanya Luna yang tidak ditemani oleh ayahnya, Helena melihat itu wajah murung lagi, Luna pasti mengingat Ayahnya lagi.
"Semua sudah duduk! sekarang kita main tebak-tebakan, bagaimana?"
"Yeah, Luna suka tebak-tebakan!" Luna kembali bangkit danmulai bersemangat karena ada permainan.
"Di sini ada beberapa buah anggur, jika ada yang bisa menjawabnya apa nama buah anggur ini maka boleh mencicipi dan petik sepuasnya untuk dibawa pulang!"
Pertama, tebak nama anggur ini, bentuknya seperti jari berwarna ungu kehitaman, buah anggur apa namanya?"
"Jika orang tua tau jawabannya bisikan pada putra putri kalian agar mereka menuliskannya di papan!" Ujar gurunya.
"Guru saya saya!" seru Luna meloncat agar tidak terhalang dari pandangan gurunya.
"Wahh Luna dan Nicho benar Sweet saphire, jawabannya!"
"Yeah Mama kita benar!" Luna meloncat senang dan memeluk tubuh Helena.
"Putri cantik Mama yang hebat!" Helena mencubit pelan pipi Luna dengan gemas.
Seorang guru mengantar satu tangkai besar buah anggur pada mereka berdua dan juga pada temannya yang bernama Nicho dan yang lainnya dibagi agar bisa mencicipinya juga.
__ADS_1
"Wahh sepertinya enak ,Ma!" Luna meraih satu buah anggur itu dan memakannya dengan senang.
Helena pun begitu ia hanya bisa tersenyum supaya Luna juga ikut tersenyum.
"Ma, apa ayah tidak datang?" tanyanya saat sedang memakan buah anggur miliknya. "Simpan untuk kita bawa pulang yang, Ma. supaya bisa makan bersama, Ayah."
"Tentu saja ayah akan datang, Luna main sama teman-teman saja ya?" Helena menunjuk temannya yang sedang main bersama.
"Iya, Ma!" Luna pun berlari kearah teman sekelasnya yang lain membuat Helena bernapas lega setidaknya dalam sesaat dia tidak mengingat Ayahnya.
"Kemana perginya Erfan dia bahkan tidak menghubungiku untuk menanyai tentang Luna!" geram Helena
Helena memainkan jemarinya dibenda pipih berbentuk persegi sebelum meletakkan ditelinganya, ia berusaha menghubungi Erfan.
"Cih Aku benci sama lelaki macam dia ini, awas aja kalau Luna nangis" omelnya yang rupanya Erfan sudah mengangkat dan mendengar seperempat tidak mungkin hanya tiga atau dua kata terakhir dari perkataannya.
"Apa! Luna menangis, apa yang dikatakan!" Bentaknya membuat Helena Terlonjat kaget.
"Iya eh tidak, iya Luna terus menanyai mu!" Helena kalang kabut hingga tidak tau apa yang diucapkan.
"Tunggu aku akan segera kesana!" Balas Erfan cepat seraya melihat jam tangannya dan meninggalkan ruang kerja yang baru dimasuki dan sekarang dia pergi lagi menemui putrinya.
"Tunggu!" Percuma Helena bahkan tidak bisa menjelaskan apapun karena Erfan sudah mematikan sambungan telpon.
Erfan melajukan mobil mobil dengan kecepatan penuh menuju ketempat Luna dan Helena berada, untung jalanan dalam sengang membuat Erfan leluasa mengendarai mobilnya.
Dalam waktu singkat Erfan tiba disana dan langsung keluar dari mobilnya menyapu pandangan mencari sosok Helena dan putrinya.
__ADS_1
Akhirnya ia melihat mereka, Luna sedang bermain sementara Helena yang sedang memakan buah anggur dengan saling tertawa riang dengan ibu-ibu di sebelahnya .
****