
Setelah seharian dirumah akhirnya hari ini Helena sudah diperoleh masuk kantor oleh Erfan
Helena sudah beraktivitas seperti biasanya karena libur kerja berakibat dengan gajinya dipotong tapi entah kenapa Erfan lebih memperhatikannya membuat Helena merasa risih karenanya.
Seperti sekarang Helena sedang sibuk berkutat dengan komputernya tapi notifikasi masuk berturut-turut membuat ponselnya bergetar beberapa kali, Helena meraih dan langsung membuka pesan itu.
Dari Erfan?
"Bagaimana Helena apa kau sudah menerimaku jadi kekasihmu?" membaca Pesan pertama membuat Helena tersenyum simpul.
"27 jam 38 menit lebih aku menunggu jawaban darimu, jawablah!" kalimat ini diakhiri dengan emot mengharapkan sesuatu.
Yang benar saja? dia menghitung waktu begitu? Helena menoleh kearah Erfan yang ada di ruangannya.
"Apa kau sibuk siang ini?"
"Ayo makan siang dikantorku, aku membawa bekal hari ini!" pesan terakhir makin membuat Helena tersenyum dan membalasnya
"Baiklah!"
Helena melihat kearah Erfan di kantornya melalui dinding kaca transparan sedang melambai tangan seraya menunjuk bekal diatas mejanya pada Helena yang dibalas senyum.
Kenapa dia terlihat imut sekali! Helena merasa meleleh jika terus diperlakukan manis seperti ini.
Helena mengulum senyum dan kembali berkutat dengan komputer di depan tapi senyumnya pudar mengingat perlakuan ibu Erfan yang tidak menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1
Helena tersenyum miris, ini yang di takutkan untuk jatuh cinta karena ia akan merasa sakit bahkan sebelum hubungannya dimulai.
Apa aku harus menerimanya tapi orang tuanya tidak merestui hubungan ini. Helena tertunduk melihat keyboard komputernya dengan pikiran tidak menentu.
"Ih Helena kamu lihat gak tadi?" Sindy menyikut lengan Helena hingga menoleh kearahnya.
"Lihat apa kak?" tanya Helena dengan polosnya.
"Pak Erfan itu tersenyum tadi, uhh manis banget tau catat ini sebagai keajaiban dunia, karena dia tidak pernah tersenyum setulus itu." Sindy melihat kearah Erfan diikuti oleh Helena pula.
Masa sih?
"Iss Sindy, kamu gak cocok bicara begituan ingat anak dan suamimu!" timpal Anton walau dirinya juga bingung kenapa bosnya itu tersenyum tadi.
"Diam kamu! Aku cuma berharap pak Erfan beneran jatuh cinta dan memulai hidup baru lagi." Sindy menangkup kedua tangannya berharap yang terbaik untuk bosnya ini.
"Keponakan?" Helena dan Sindy berucap bersamaan
"Ya Deon Zergano itu." balas Anton lagi dengan mengebu-gebu.
"Dari mana kak Anton tau?" kali ini Helena memang merasa sangat penasaran hubungan Nadin dan juga Deon, apa hanya sebatas gosip saja.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, melihat mereka ********* di tempat tidur yang sama! Bahkan pak Erfan menyuruhku memotret mereka saat itu sebagai bukti." ucap Anton membuat kedua wanita ini melongo seolah tidak percaya.
"Apa!" mereka bahkan hampir berteriak
__ADS_1
"Stt stt.. diam! kalian ini!" Anton melihat kesamping kanan dan juga kiri memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka bertiga.
"Sayang sekali pak Erfan diduakan oleh istrinya." Sindy menopang dagu dengan kedua tangannya dengan tatapan sendu merasa kasihan.
"Benar aku juga merasa kasian."
"Oh ya tadi kak Anton bilang sebagai bukti, bukti untuk apa sih?" Helena baru teringat dengan perkataan Anton tadi.
"Untuk menceraikan wanita itu karena sedari dulu pak Erfan menikahinya untuk menjaga nama baik tuan muda Deon Zergano." jelas Anton terburu-buru seraya membereskan mejanya.
"Oh ya aku pergi dulu ya, aku harus mengantar seseorang ke bandara," pamit Anton dengan masih mengirim beberapa email pada bosnya
"Siapa?" tanya mereka bersamaan lagi.
"Adikku mau kuliah diluar negri pesawatnya berangkat satu jam lagi, byee!" Anton berjalan kearah pintu keluar.
"Byee kak!"
Helena merasa kehidupan Erfan seperti dipermainkan oleh keluarganya sendiri apa ada keluarga seperti itu, yah Helena juga merasakan hal seperti itu bukan?
Erfan memburamkan dinding kaca ruangannya 15 menit yang lalu, tapi wajah Helena yang sedang tersenyum terus menari-nari di pelupuk matanya membuat dirinya tidak bisa fokus bekerja
Ia hanya memainkan bolpoin di jari jemarinya karena tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
"Kenapa aku terus memikirkannya? aku kan hanya merasa kasihan?" pikiran Erfan seolah tidak mau mengakui jika di hatinya sudah ada Helena hingga membayangkannya sepanjang waktu.
__ADS_1
****