Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
94. Dengarkan penjelasanku


__ADS_3

...Happy reading...


Jam makan siang hari ini Helena tidak makan siang atau menjemput Luna, dirinya sudah terlebih dahulu meminta Izin jika mungkin akan kembali terlambat.


Helena meminta supir taksi menghentikan mobilnya di salah satu toko kue, untuk sang adik. Ya hari ini adalah ulang tahun adiknya yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke 10 tahun 


Helena meletakkan kue yang dibeli disebelahnya dan sesekali tersenyum mengingat tingkah adiknya yang manis


Tanpa disadari ada sebuah mobil yang terus mengikutinya dari belakang hingga sampai ke tujuan.


Helena turun dari mobil ini adalah rumah sakit  untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus antara usia 5 sampai 12 tahun


Helena melangkah pasti memasuki tempat itu, Dia langsung menemui adiknya yang bernama Zaren


"Zaren!" panggil Helena melihat adiknya keluar bersama suster yang mendampinginya.


"Kakak!" balasnya berusaha tersenyum.


"Ayo duduk dan pakai juga topi ulang tahunmu!" ajak Helena menuntun adiknya untuk duduk bersamanya


"Terima kasih!"


Helena tersenyum saat melihat senyum dari sang adik yang begitu ceria bahkan sangat antusias dengan kue ulang tahun yang dibawa.


Helena mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahunnya dan juga Zaren yang menepuk tangan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Helena.


"Selamat ulang tahun Zaren, selamat ulang tahun. yeah selamat ulang tahun Zaren!" Helena bersorak kecil mengakhiri lagu ulang tahun.

__ADS_1


Mereka berdua saling bertepuk tangan setelah Zaren meniup lilinnya tanpa mereka sadari dari dua sudut berbeda ada yang melihat interaksi mereka berdua, yang satu melihat dengan haru.


"Helena memang sangat baik." ucapnya menyeka sudut matanya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Sementara yang lainnya malah mendekatinya dengan tatapan tajam, pikirannya yang berburuk sangka hingga berdiri di sebelahnya.


"Oh jadi ini penyebabnya kau sudah punya seorang anak dan menyembunyikannya dariku?" ucap pria itu berkacak pinggang walau terlihat marah tapi matanya tidak menyiratkan kemarahan sedikitpun.


"Pak Erfan kenapa kau ada di sini?" Helena terlonjak kaget hingga berdiri


"Kenapa memangnya?" Erfan dengan tidak tau malu malah seperti menantangnya.


"Kau mengikutiku!"


"Ya aku mengikutimu, jadi jawab pertanyaanku, apa dia anakmu?" Erfan mengulangi lagi pertanyaannya seraya menunjuk Zaren


"Bukan, lalu kenapa kau tidak menerimaku, kau menerima Luna seperti anakmu sendiri tentu saja aku juga akan menerimanya." Bagi Erfan yang terpenting sekarang dirinya harus bersama Helena, dan dia juga akan menerima bocah lelaki ini.


"Bukan itu maksudku!" Helena mencoba menjelaskan tapi sepertinya akan susah karena temperamen Erfan yang tidak menentu.


"Kalau bukan kenapa kau tidak menerimaku!" Erfan makin menyudutkan Helena pokoknya hari ini cintanya harus diterima.


"Aku butuh-"  Zaren yang melihat mereka berdua bertengkar tiba-tiba menangis kencang dan berhambur memeluk Helena.


"Zaren anak baik, jangan nangis ya?" Helena membalas memeluknya


"Helena-" Erfan terdiam saat Helena memberi isyarat baginya untuk diam.

__ADS_1


"Zaren anak baik, jangan menangis lagi kasian kak Zira nya." Zaren beralih memeluk pria paru baya yang baru saja menghampiri mereka


"Paman Tara!"


"Maaf Helena Zaren pasti merepotkanmu lagi," ucapnya masih memeluk berusaha menenangkan bocah lelaki yang bernama Zaren itu.


"Tidak kok paman, aku sudah terbiasa, aku hanya merayakan ulang tahunnya." balas Helena dengan senyum karena Zaren adalah adiknya sendiri.


Paman Tara beralih melihat Helena dan pria disebelahnya bergantian yang masih terlihat jengkel dengan segala pemikiran yang ada di otaknya.


Apa jangan-jangan bocah ini anak dari pria itu dan Helena, tidak ini tidak mungkin!! Erfan berspekulasi sendiri, ia pun berbalik pergi meninggalkan mereka.


"Terima kasih telah merayakan ulang tahun untuk Zaren, ibumu juga membuat pesta ulang tahun dirumah jika ada waktu datanglah."


Helena hanya menyungingkan senyum tanpa menjawab apapun karena dirinya tidak berencana kembali ke rumah itu lagi.


"Sepertinya seseorang sedang menantikan penjelasan darimu." ucap paman Tara menunjuk Erfan yang sudah pergi terlebih dahulu.


"Iya paman kalau begitu aku pamit dulu!" Helena pamit sepertinya benar kata paman Tara dirinya harus memberikan penjelasan kepada Erfan yang salah paham sejak awal.


Helena berjalan keluar dari tempat penitipan anak menyusul Erfan dengan sedikit berlari karena langkah besarnya hingga mereka hampir sampai diparkiran.


"Pak Erfan tunggu, dengarkan aku dulu!" panggil Helena berlari karena Erfan tidak mendengarkannya.


"Pak Erfan!" Panggil Helena lagi sedikit berteriak serta berhasil meraih tangan Erfan yang membuat langkah mereka terhenti.


"Dengarkan penjelasanku dulu, aku mohon!" pinta Helena bersungguh-sungguh terlihat wajah datar Erfan

__ADS_1


***


__ADS_2