
...Happy reading...
"Kau kenapa kau juga tertawa?"Tanya Erfan geram melihat tawa Helena yang seakan membenarkan perkataan Luna yang mengatakan dirinya sudah tua.
Helena yang ditatap begitu hanya bisa membeku tidak ingin ada pertikaian didepan Luna.
20 menit kemudian Yuna mereka sampai pada tempat yang dituju, ini bukan tampak seperti taman tapi tempat para anak kecil bermain dengan ibu-ibu mereka.
"Ayah Luna main ayunan ya?" Luna meminta izin sang ayah sebelum bermain
"iya tapi hati-hati!" Erfan menyetujuinya melihat Luna bermain dari kejauhan.
"Ya kak Helena titip ayah ya, biar gak didekatin sama wanita lain," bisiknya saraya menunjuk pada kumpulan beberapa ibu-ibu yang ikut membawa anaknya bermain disini.
Pandangan Erfan tertuju pada putrinya yang bermain dengan riang, hanya dengan melihat kebahagiaannya Erfan merasa tetram dan bahagia.
"Pak, pak? "panggilan Helena membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?" balasnya dengan kesal melihat Helena duduk tidak jauh darinya.
"Handphonemu berbunyi," Helena menunjuk asal bunyi suara.
"Aku tau!" cebiknya kesal
Entah kenapa sejak Helena kembali tinggal bersamanya membuat Erfan berkali-kali tidak bisa menahan amarahnya bahkan sering marah dan kesal dengan tidak jelas.
Saat melihat nama yang tertera digawainya Erfan berjalan sedikit menjauh dari tempat duduknya dengan terus memperhatikan Luna yang beralih bermain jungkat jungkit dengan anak lainnya.
"Ya Ada apa?" ucapnya ketus begitu panggilan tersambung.
"Kenapa kau tak membiarkan aku menemui Luna?" sahut dari sebrang tidak kalah kesal.
"Luna, memangnya dia anakmu?" Ucapan Erfan memang sepenuhnya benar.
"Aku...walau aku bukan ibu kandungnya tapi aku sangat menyayangi nya!" kilahnya asal karena ia sangat ingin kembali bersama Erfan.
"Drama mu tidak berpengaruh pada ku,Nadin!" kesal Erfan hingga meneriakinya
__ADS_1
"Tolong Erfan pertemukan aku dengan Luna." Nadin memohon
"Mimpi saja!"
Erfan menutup telpon sepihak karena kesal dan kembali melihat putrinya yang beralih bermain ayunan didorong pelan oleh Helena
Walau mengesalkan wanita itu juga punya sisi ke ibuan tanpa sadar senyum menghiasi wajah Erfan saat melihat keduanya.
"Hey apaan kau ini, pelan pelan." Erfan mengingatkan padahal Helena hanya mendorong pelan.
"Ada aku, Luna akan aman pak!" Helena melanjutkan mengayunkan ayunan yang membuat Luna tertawa kegirangan
Usai puas bermain Erfan mengajak Luna dan Helena untuk pergi ke suatu tempat
Ternyata adalah sebuah panti asuhan dengan dua lantai tapi lokasinya tidak terlalu luas karena berhimpitan dengan rumah penduduk.
"Ayo turun, Bantu aku menurunkan makanan yang ada di bagasi mobil." Erfan berucap seraya melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
Helena dengan sigap menurunkan Luna dari dalam mobil dan mengikuti langkah Erfan mengambil beberapa barang di bagasi mobil.
Sapa anak-anak disana mulai mengurumuni Luna bergantian memeluknya dengan riang seakan teman yang lama tidak berjumpa, melihat itu Helena malah teringat dengan Aliza yang belum di hubungi beberapa hari ini.
"Anak-anak! Luna membawa makanan untuk kalian semua, ini makanan spesial," Erfan menenteng keranjang makanan dan membawanya masuk kedalam
"Ayo ayo kita masuk kedalam!" ajak Erfan berjalan terlebih dahulu.
Helena tersenyum melihat kehangatan yang tercipta di sini, sekelebat bayangan berputar di pikiran Helena tentang panti asuhan ini seperti dirinya pernah punya kenangan disini
Tapi ini tidak mirip dengan tempat dirinya dulu pernah tinggal apalagi rumah ini lebih indah untuk sekedar panti asuhan.
Helena yang asik dengan isi pikirannya tanpa menyadari Erfan memanggil dirinya hingga Luna menarik lengannya
"Kak Helena, kak Helena!" lamunan Helena buyar seketika karena tangannya ditarik oleh Luns
"I-iya sayang ada apa?" kesadarannya kembali menatap Luna dengan senyum manisnya
"Ayo masuk!" Ajak Luna dengan beberapa anak lainnya yang ikut menarik tangannya agar masuk
__ADS_1
Helena dibawa masuk oleh anak-anak manis ini melewati pintu masuk masuk melewati beberapa ruangan hingga sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti tempat makan
Anak-anak duduk disana berjejer rapi tanpa diminta sangat disiplin termasuk Luna yang duduk juga diantara mereka semua.
Erfan membagikan makanan dengan senyum pada setiap anak, bahkan mengusap puncak kepala mereka yang membuatnya gemas.
Mereka pun makan bersama bahkan Erfan atau pun Luna tidak canggung sama sekali, bahkan saling melempar candaan.
***
Pulang dari panti asuhan tadi sore Helena sedang bersantai di dalam kamarnya dengan laptop pemberian Erfan didepannya sedang mengirim Email dengan Aliza.
Tok...Tok....
Helena yang sedang santai-santai bergegas membuka pintu melihat Erfan saat pintu terbuka lebar sedang melihatnya jengah.
"Ada apa pak?" tanya Helena apa yang membawa Erfan untuk menemuinya.
"Aku dan Luna akan pergi ke rumah teman malam ini jadi kau tidak perlu memasak untuk kami, mulai besok daftar makanan yang harus kau masak ada memo yang aku tempel di kulkas," jelas Erfan panjang kali lebar.
"Baik," Helena mengangguk patuh tapi kenapa Erfan begitu pun tidak pergi juga.
"Jangan mengacaukan isi rumahku ini, jika tidak tamat riwayatmu!" ancamnya menunjuk wajah Helena hingga ia mundur perlahan kebelakang.
Helena mengangguk sebagai tanda setuju, tapi juga takut dengan ancaman Erfan jika menjadi kenyataan, Helena bergidik ngeri melihat kepergian Erfan.
"Ayah, apa kak Helena tidak ikut?" Luna berdongak melihat ayahnya yang tinggi menjulang.
"Tidak sayang, oh ya bantu Luna bersiap-siap aku ada keperluan sebentar," Erfan berlengang pergi mendengar ponselnya berdering dan menekan tombol hijau layar ponsel untuk menjawab panggilan.
"Ayo bersiap!" ajak Helena mengandeng tangan Luna untuk kembali masuk kedalam kamarnya untuk bersiap.
"Ada apa?" tanyanya singkat langsung pada intinya
"Dimana kau kenapa belum datang?"
****
__ADS_1