Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
129. Rumah kita


__ADS_3

...Happy reading...


Sepanjang perjalanan Helena dan Luna tidak hentinya tertawa mengingat tingkah tiga pasangan yang tadi terkena hukuman tadi bahkan sudut mata mereka mengeluarkan air.


"Berhentilah tertawa kalian membuatku tidak fokus menyetir." Erfan merasa tidak fokus ingin rasanya tertawa juga tapi apalah daya harga dirinya terlalu tinggi, akan jatuh harga dirinya jika tertawa terbahak.


"Kak kau tidak lihat mereka tadi benar-benar lucu haha!" Helena memegang perutnya sendiri merasa kram akibat terlalu banyak tertawa.


"Iya ayah, mereka tadi seperti ini." Luna menirukan gaya ayam yang tadi di lakukan oleh tiga pasangan.


"Terserah kalian saja." Erfan memutar matanya jengah, tapi tawa mereka membuatnya tidak fokus pada jalanan di depannya


Hingga akhirnya ia menghentikan laju mobil tepat di depan sebuah rumah mewah sontak saja Helena dan Luna menoleh ke arahnya.


"Loh kenapa berhenti bukankah rumah kita masih jauh, rumah siapa ini ayah?" tanya Luna bingung bahkan memiringkan kepalanya melihat Erfan


"Benar, rumah siapa ini?" Helena juga ikut bertanya


"Tentu saja rumah kita, ayo turunlah!" ajak Erfan dan membuka pintu mobil untuk mereka berdua


"Rumah kita?" Helena dan Luna saling berpandangan dengan bingung, sejak kapan rumah ini menjadi rumah mereka.


"Ayo turunlah, kita lihat di dalamnya." Erfan kembali bersuara saat melihat mereka tidak kunjung turun dari mobil. Mereka pun turun beriringan dengan kebingungan yang sangat terlihat dari wajah mereka.


"Kak apa benar ini rumah kita? kapan kau membelinya?" tanya Helena menggandeng tangan Erfan seraya melirik sana sini memperhatikan arsitektur luar rumah yang sangat asri di pandang mata.


"Bukankah rumah kita dulu masih bagus kenapa ayah beli rumah baru?"

__ADS_1


"Kalian ini cerewetnya sama saja, ayo masuk jangan banyak tanya." gemas Erfan mencubit hidung mereka berdua bergantian.


Erfan membuka pintu utama dengan kunci yang dipegang seperti yang terlihat diluar, didalam rumah ini juga terlihat begitu luas dengan perabotan yang sudah lengkap.


"Ayah rumah ini besar sekali!" kagum Luna walau rumah neneknya juga besar tapi rumah ini terlihat sangat disukai olehnya.


Helena ikut tersenyum melihat Luna berlari kesana kemari menyusuri rumah besar ini, dan sudah lengkap dengan perabotannya, walau tidak terlalu banyak pajangan.


"Gimana sayang apa kau suka?" tanya Erfan yang sudah memeluk pinggangnya dari belakang dan dagunya bertumpu pada bahu Helena.


"Iya aku suka kak hanya saja..." Helena ragu untuk melanjutkan perkataannya takut jika nanti Erfan malah tersinggung


"Hanya apa, apa ada sesuatu yang salah? Katakan!" Erfan mendaratkan beberapa kecupan di bahu dan pipi istrinya yang terlihat memerah.


"Tidak kak, tidak ada yang salah, hanya saja rumah ini terlalu besar untuk kita tempati bertiga saja, tapi bukannya aku tidak suka." Helena menggenggam tangan Erfan yang memeluknya erat agar tidak tersinggung dengan perkataannya


"Jadi maksudmu?"


"Aish sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi hem?"


"Bagaimana mungkin, jangan begini Luna ada di sini nanti dia melihat kita seperti ini!" Helena sudah ketar ketir saat Erfan mendarat kecupan di ceruk lehernya


"Biarkan saja, bukankah dia harus terbiasa mulai sekarang."


"Menjauhlah, kau ini akan mengajari hal yang salah pada anak-anak."


"Ayah, Mama lihatlah di belakang ada kolam renang!" ujar Luna yang datang mendekat membuat Helena gelagapan dan langsung melepaskan diri dari pelukan suaminya

__ADS_1


"Be-benarkah?" balas Helena gugup dan mengikuti langkah Luna dari pada terus bersama ayahnya, yang membuat jantungnya tidak aman.


"Wah kolam renangnya indah sekali!" kagum Helena dengan pemandangan yang begitu menakjubkan


"Mama bolehkah kita tinggal di sini saja?" tanya Luna sangat berharap bisa tinggal di sini, pasti dirinya akan betah di rumah.


"Tentu saja boleh sayang hanya saja rumah ini terlalu besar untuk kita tempati bertiga saja, bagaimana jika untuk malam ini kita tinggal di sini saja." jelas Helena memberi solusi


"Mama benar, yeah kita tinggal di sini malam ini!" Luna loncat dengan kegirangan dan kembali masuk untuk menghampiri ayahnya dan mengatakan mereka akan menginap di sini malam ini.


Benar saja mereka akan tinggal di rumah besar ini untuk malam ini saja, Helena bersama Erfan dan juga Luna sedang berkutat di dapur memasak makan malam bersama, lebih tepatnya Helena memasak dan mereka berdua mengacau n


Keluarga kecil itu nampak begitu bahagia, sesekali mereka tertawa karena tingkah ayah dan anak yang sedang bergurau dengan bermain tepung.


"Kalian ini bukannya membantu malah membuat dapur berantakan seperti ini!' Helena berkacak pinggang melihat keduanya yang sudah belepotan tepung.


"Maaf Mama lihatlah ini semua karena Ayah yang mulai." Luna menunjuk ayahnya yang juga sudah belepotan tepung


"Aku tidak...."


"Lupakan, sekarang kalian berdua harus mandi atau jangan berharap bisa mendapatkan makan malam."


"Tapi..."


"Cepat mandi!" Luna pun berlalu pergi mandi karena ulah ayahnya


"Sayang sepertinya kau juga harus mandi!" dengan gerakan pelan Erfan mengusap kedua tangannya yang penuh dengan tepung pada kedua pipi Helena yang sedang mengaduk masakan di atas kompor.

__ADS_1


"Kak Erfan!" kesalnya tapi Erfan sudah berlari menyelamatkan dirinya sendiri.


...****...


__ADS_2