
...Happy reading ...
Helena buru-buru bangkit saat melihat tatapan tajam dari atasannya yang membuatnya bertambah kaget.
Bagaimana mungkin Helena tidak terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba bahkan wajah Helena sudah memucat melihat dirinya
Ada apa dengan perempuan ini apa perlu seperti melihat hantu saja. Erfan melihat gelagatnya
"Makanlah kau akan merepotkan jika pingsan disini nanti," ucap Erfan berlalu ke ruangannya setelah mengatakan hal itu pada Helena
"Te-terima kasih pak!" Helena tergagap membalas ucapannya
Hufftt kenapa dia datang seperti itu mengagetkan saja bahkan langkah kakinya tidak terdengar.
Setelah kepergian Erfan Helena duduk kembali dikursinya saraya membuka makanan siang yang diberikan oleh Erfan barusan dengan senyum.
Helena menyeruput minumannya bergantian dengan sandwich yang enak ini hingga habis.
Hingga beberapa saat kemudian Anton dan Sindy kembali dari makan siangnya tapi masih melihat Helena didepan komputer.
"Belum selesai juga, Helena?" Tanya Sindy mengusap bahu Helena
Helena tersenyum kecil melihat kekhawatiran dari wajah Sindy "Dikit lagi ini kok kak,"
"Mau aku bantu?" Sindy menawarkan bantuan mungkin saja bisa membantu Helena.
"Gak usah kak nanti Helena dikira gak bertanggung jawab dengan pekerjaan ini," Helena merasa canggung menerima bantuan dari seniornya pada hari pertamanya bekerja.
"Kamu yang sabar ya, pak Erfan memang begitu kalau menghadapi karyawan barunya, lihat dia," Sindy menunjuk Anton yang duduk di mejanya "Dia dikerjai oleh pak Erfan pergi ke restoran di depan kantor hingga 15 kali bolak balik."
Sindy turut prihatin mengingat penderitaan Anton saat itu yang ingin mengundurkan diri sebelum sampai seminggu dia bekerja.
Anton yang tidak terima dengan perkataan Sindy malah balas menyindirnya.
__ADS_1
"Sindy kamu ini membuka rahasia umum ya, keterlaluan, lihat dia Helena dia saat masuk kesini kerjanya tidak ada yang becus," Anton meremehkan wanita yang lebih tua beberapa tahun di atasnya itu
"Anton kau mulai lagi?" Kali ini Sindy pun tidak terima dengan perkataan Anton yang sangat merendahkan dirinya.
"Hah? Jelas-jelas kau yang mulai tadi!" Anton juga tidak mau kalah.
"Kau tidak sopan dengan yang lebih tua!" Sindy benar-benar dibuat kesal oleh Anton
"Karena kau tua makanya mulutmu setajam itu, dasar wanita!"
"Kau!-"
"Kak Sindy, kak Anton sudah ya pak Erfan lihat kita loh!" Helena yang tidak tahan dengan pertengkaran mereka melihat Erfan yang terlihat tidak ramah sama sekali melihat mereka bertiga.
Sindy dan Anton yang tidak menyadari keberadaan Erfan menoleh melihatnya yang terlihat mengerikan. Buru-buru mereka kembali ke meja masing-masing sebelum mendapatkan hukuman.
Helena yang juga takut melihat raut wajahnya berubah tiba-tiba perlahan kembali duduk di kursinya tidak mau mencari masalah di hari pertama bekerja
Hingga waktu terasa sangat singkat sampai sudah waktunya pulang kerja tapi Helena belum menyelesaikan semua dokumen ini hanya tersisa dua dokumen saja.
"Helena kau tidak pulang?" tanya Anton yang sedang membereskan di mejanya
"Benar sebentar lagi malam, kau pulang dengan siapa nanti?" Kini beralih Sindy yang khawatir melihat Helena tidak beranjak.
"Aku akan naik bus saja kak, tidak jauh dari sini ada halte bus kan?" Helena tadi memang melihat halte bus saat berjalan kaki menyusuri trotoar untuk menuju kantor ini.
"Baiklah berhati-hati lah kau seorang gadis jangan pulang terlalu larut malam," ucap Sindy menepuk pelan bahu Helena.
"Baik kak!"
"Bye!" Ucap mereka berdua bersamaan tapi detik berikutnya mereka kembali saling melempar tatapan tajam.
Helena menyungingkan senyum melihat kepergian mereka berdua kembali sibuk dengan pekerjaannya ia harus menyelesaikan semua ini dan pulang karena harus memasak juga.
__ADS_1
Dilantai ini masih ada Erfan diruangannya dan Helena diruang yang terpisah, tapi entah mengapa Erfan tidak pulang lebih awal. Helena dengan cepat menepis pikirannya yang memikirkan pria itu.
Belum sampai jam enam sore Helena sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia membereskan mejanya yang berantakan karena ulahnya, sebelum menyerahkan semua dokumen ini kembali.
Helena berjalan dan mengetuk pintu ruangan atasannya itu hingga diizinkan masuk, Helena menyerahkan semua dokumen ini pada Erfan.
"Saya sudah menyelesaikan semua ini pak , bolehkah saya pulang dulu?" Pinta Helena dengan suara pelan tidak mau menganggu konsentrasi pria di hadapannya ini.
"Hemm." Balasnya singkat
"Terima kasih pak saya pulang dulu kalau begitu." Helena beringsut keluar dari ruangan itu
Erfan tidak menghiraukan Helena yang pergi dari ruangannya, ia sibuk dengan banyak dokumen di hadapannya yang menumpuk tidak menentu.
Tringg....
Erfan mengalihkan pandangan dari dokumen ke ponselnya yang berbunyi nyaring menandakan ada panggilan masuk ibu angkatnya.
Erfan meraih ponselnya dan menekan tombol hijau di layar ponsel untuk menjawab panggilan itu serta meletakkan ponsel di telinganya.
"Ayah!" Sapaan bersemangat yang menyapa pendengarannya Erfan langsung tahu milik putrinya
"Iya sayang, ada apa?" tanyanya lembut
"Luna mau dijemput sama Ayah, dan Kak Helena juga Luna sudah sangat lapar karena menunggu," keluhnya
"Kan Luna bisa makan disana sama nenek?"
"Beda Ayah masakan kak Helena lebih enak daripada masakan bibi disini," balasnya
"Hmm baiklah, Ayah jemput sekarang ya?" Erfan menutup map yang tengah dibaca karena putrinya lebih penting dari segalanya
***
__ADS_1