Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
117. Berbahagialah


__ADS_3

...Happy reading...


Hari semakin hari hubungan keduanya makin dekat ditambah dengan kehadiran Luna yang membuat siapa saja bahagia didekatnya tidak terkecuali Helena.


Mereka sedang bermain di taman dengan banyak anak dan orang tua lain hingga terlihat begitu ramai, serta beberapa pedagang kaki lima yang ikut berjualan mencari peruntungan.


Helena bangkit dari duduknya melihat karena pandangannya tertuju pada makanan favoritnya saat kecil. "Kak, Aku ingin beli cilok di sebelahnya sana ya tolong jaga Luna." ucapnya mulai melangkah tanpa menunggu jawaban dari Erfan.


Biar aku saja yang pergi kau duduk saja


Ada apa denganmu kak jangan terlalu memanjakanku nanti bisa-bisa aku akan malas untuk sekedar berjalan cebik Helena


Aku hanya memanjakanmu dan Luna saja, jika kau malas berjalan ada aku yang akan menggendongku, hanya kalian kedua gadis yang paling spesial dalam hidupku


Helena melepaskan tangan Erfan dengan kasar karena tidak suka dimanja begini, apa lagi bermalas-malasan akan berakibat pada berat badannya yang naik


Sudahlah kak pokoknya kau tunggu disini, aku tidak akan pergi lama


Hati-hati


Erfan melihat Helena yang pergi menjauh dari pandangannya kemudian dirinya kembali fokus pada Luna yang sedang bermain


Helena begitu senang akhirnya setelah sekian lama dirinya bisa makan cilok lagi, Helena mengantri dengan orang yang terlihat begitu ramai yang ingin membeli


Menunggu membuatnya bosan mulai dari jemari yang dimainkan, ujung bajunya yang dipilin tidak menentukan, bahkan menggoyangkan kakinya karena terlalu bosan.


Helena memiringkan kepalanya melihat antrian didepannya hanya beberapa orang lagi membuat dirinya kembali tersenyum senang karena sebentar lagi bisa makan enak.


Hingga tiba giliran nya Helena memesan cilok sesuai keinginannya yang pedas dan untuk Luna yang tidak pedas mungkin saja dia mau pikirnya. Rupanya satu porsi berisi cukup banyak, makin menambah semangatnya

__ADS_1


"Berapa pak?" tanya Helena menerima dua porsi cilok miliknya


"20 ribu saja semuanya." ucap tukang cilok


Helena mengangguk dan mulai merogoh saku jaketnya dan juga saku celana tapi tidak ada apapun didalam sana


"Maaf saya lupa bawa uang, saya akan kembali setelah mengambil uangnya sebentar." Helena ingin berbalik tapi tangannya malah dicegat oleh tukang cilok.


"Tidak bisa begitu mba, cuma alasan kan pokoknya mba gak boleh pergi!" ucap tukang cilok tidak ramah


"Tapi saya lupa bawa uang!" Helena berusaha meronta melepaskan tangan tukang cilok itu


"Alasan saja cepat berikan, atau saya teriak nih!" ancamnya membuat Helena merasa takut melihat beberapa orang yang menatapnya


"Ini uangnya dan ambil kembaliannya."ucap seorang pria paru baya yang membuat Helena langsung menoleh melihatnya


"Nah gitu dong!" tukang cilok langsung menerima uang itu tanpa rasa ragu.


"Nona Helena kita bertemu lagi." balasnya tersenyum pada Helena


"Iya pak, terima kasih traktirannya, oh ya Pak Seto ngapain disini?" tanya Helena tidak mungkin pelayan setia berlibur dengan pakaian kerja yang biasa dipakai.


"Baiklah langsung saja, Nyonya ingin bertemu dengan Anda nona." Pak Seto mengatakan niatnya menemui Helena


"Bibi?" dalam benak Helena bertanya-tanya kenapa Bibi ingin bertemu dengannya, tiba-tiba ketakutan menyelimuti dirinya, bagaimana jika Bibi menyuruhnya pergi dari hidup Erfan dan Luna.


"Iya, silahkan sebelah sini Nona." Pak Seto menunjukkan jalan, ragu Helena melangkah dengan perasaan takut yang menyelimuti hatinya.


Helena mengikuti langkah pak Seto dengan pikiran yang terus berkelana apa sebenarnya sebab Bibi memanggil dirinya dan ingin bertemu.

__ADS_1


"Silahkan masuk nona!"Pak seto membukakan pintu mobil mempersilahkan Helena masuk kedalam mobil yang didalam sudah ada nyonya Zergano


"Ba-baik, terima kasih pak." Helena dengan masih menenteng plastik berisi ciloknya, Helena masuk dan menutup pintu mobil.


Sunyi tidak ada yang mulai berbicara untuk beberapa detik mereka saling terdiam.


"Bi-bibi apa kabar?" tanya Helena memecahkan keheningan dan memberanikan diri untuk bicara, yang jelas dirinya kali ini ia akan menentang jika disuruh menjauhi Erfan dan Luna.


"Baik." jawabnya singkat, Mereka kembali terdiam, terdengar Bibi beberapa kali menghela napas.


"Maaf Helena."


"Hah?" sepertinya pendengaran Helena salah mendengar ucapan dari Bibi. lagi-lagi Bibi membuang napasnya.


"Maaf atas segala tindakan Deon padamu, Bibi minta maaf, mungkin permintaan maaf sudah terlambat karena sepertinya kondisimu sudah lebih baik." Bibi melihat kondisi Helena yang memang sudah baik-baik saja tapi tidak dengan Cucunya Deon yang seperti kehilangan semangat.


"Tolong jangan bahas lagi, jangan meminta maaf seperti ini." Helena menggeleng rasanya tidak pantas menerima permintaan maaf dari orang yang lebih tua.


Bibi meraih tangan kanan Helena dan menangkup dengan tangannya


"Sebenarnya Deon sangat merasa bersalah karena hal itu, ia sangat ingin meminta maaf secara langsung hanya saja Erfan tidak pernah mengijinkan kalian bertemu." Bibi menjeda dengan menghela napas sebelum berkata lagi


"Maaf sekali lagi Helena, seharusnya aku tidak melarang hubunganmu dengan Erfan kalian cocok dengan Luna yang juga sangat menyukaimu, seharusnya masalah ibumu tidak berpengaruh padamu, benarkan?"


"Ma-maksud bibi?"


"Jadi hidup bahagialah dengan Erfan dan Luna yang sangat menyayangimu, aku merestui hubungan kalian." ucapnya dengan senyum bahkan mengusap punggung tangan Helena, mereka seperti dulu lagi.


"Be-benarkah?" tanya Helena seolah tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya

__ADS_1


...****...


__ADS_2