
...Happy reading...
"Be-benarkah?" Helena seolah tidak percaya dengan perkataan yang baru saja didengarnya, apakah dia bermimpi?
"Helena menikahlah dan berikan adik untuk Luna, tapi aku mohon tolong temui Deon sekali saja dia sangat tertekan dengan apa yang menimpamu waktu itu." Tetap saja Bibi menyebut nama cucunya yang amat disayangi sepenuh hati.
Sebenarnya Nyonya Zergano sudah membawa Deon ke banyak dokter tapi tetap saja dia tidak bersemangat sama sekali, hanya melamun sepanjang hari. Yang membuatnya tidak ada pilihan lain selain menemui Helena.
"Terima kasih Bi, Baiklah aku akan berusaha meminta pada Erfan dan pertimbangkan hal ini, Bibi jangan khawatir." Helena tidak bisa menahan air mata sangking terharu dengan sikap Bibi.
"Jangan menangis, sebagai hadiah untuk kalian bertiga aku akan membuat pesta pernikahan untuk kalian, jangan ditolak." Nyonya Zergano menghapus air mata Helena dan membawanya dalam pelukan.
"Terima kasih Bibi!" gumam Helena membalas memeluk dengan rasa haru
"Panggil aku ibu." pintanya masih memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri.
Helena mengurai pelukan dan mengenggam tangan Ibu Erfan dengan wajah sendu."Ibu, terima kasih!"
"Sudahlah berhenti menangis, cepat kembali Erfan pasti mengkhawatirkanmu." ucapnya tersenyum bahagia dengan serta air mata, Helena mengusap pipinya yang sudah dialiri air mata.
"Sekali lagi terima kasih!"Helena tidak berhenti tersenyum.
"Pergilah!"
__ADS_1
"Aku pergi, sampai jumpa!"Helena keluar dari mobil seraya melambaikan tangan sebelum akhirnya berbalik pergi dari sana.
Setelah berterima kasih Helena memilih pamit pada Ibunya Erfan, karena tadi tidak pamit pada Erfan takutnya dia khawatir karena aku pergi terlalu lama.
Dari kejauhan terlihat Erfan bersama Luna sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu, Helena berlari kecil menghampiri mereka.
"Kalian sedang cari apa?" tanya Helena berdiri di belakang mereka berdua ikut ikut celingak-celinguk mencari apa yang sebenarnya mereka cari.
"Mama, akhirnya Mama di sini kami sedang mencarimu dari tadi." Luna langsung memeluk pinggang Helena dengan erat.
"Dari mana saja kenapa lama sekali?" kini Erfan yang penasaran kemana perginya Helena tadi, bahkan saat dicari ditempat penjual cilok pun tidak ada.
"Maaf membuat kalian khawatir tadi banyak Antrian kak jadi agak lama, Maaf!" Helena mengaruk tekuknya yang terasa berkeringat karena berbohong walau setengahnya benar.
"Kau tidak percaya, padahal aku menunggu ini dengan susah payah." kesal Helena langsung duduk di kursi taman dengan agak keras
"Ayah berhenti menyalakan, yang penting sekarang Mama ada di sini." ucap Luna duduk di sebelah Helena
"Baiklah, jadi kalian makanlah." Erfan memilih mengalah dari pada perdebatan mereka bisa panjang nanti.
Helena mengangguk cepat bersama Luna makan cilok seakan tidak memperdulikan Erfan yang juga berada di sana.
Setelah puas bermain Mereka akhirnya pulang ketika hari sudah menjelang sore. Karena rasa lelah yang mendera mereka akhirnya tidur setelah selesai membersihkan diri.
__ADS_1
Helena terbangun dari tidurnya mendapati Luna disisinya masih tertidur dengan nyenyak memeluk guling.
Helena beranjak dengan malas walau bagaimana pun kali ini dirinya harus memasak, karena setelah kejadian beberapa minggu lalu membuat tangannya terluka sejak saat itu Helena dilarang memasak.
Helena sudah sampai di dapur tapi betapa terkejut dirinya melihat Erfan sedang menata banyak makanan yang baru selesai dimasak yang terlihat dari asapnya masih mengepul.
"Kak Erfan kau memasak lagi?" tanya Helena kesal padahal dirinya sangat ingin memasak.
Erfan menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Helena dengan tersenyum melihat kekesalan di wajahn Helena. Erfan berdiri di depan Helena.
"Jangan marah aku melakukan semua ini untukmu. untuk tanganmu juga." Erfan mengenggam tangan Helena dengan menatap matanya.
"Tapi aku baik-baik saja sekarang!"
"Tidak, kau harus patuh, setidaknya kau boleh memasak lagi pada minggu depan!" ujar Erfan tak bisa dibantah tapi bukan Helena namanya jika tidak membantah.
"Tapi kak, aku tidak terbiasa dimanja seperti ini!" lirih Helena tidak bisa kesal lagi melihat mata Erfan yang berbinar.
"Kalau begitu biasakan, karena sekarang kamu adalah wanitaku!" ucap Erfan seketika itu wajah Helena tertunduk dihiasi senyum tanpa bisa dikendalikan. mungkin pipinya sudah memerah karena malu.
Dia bilang aku wanitanya, Aaa rasanya hatiku benar-benar berbunga-bunga.
"Duduklah, sebentar lagi kita makan malam, aku akan membangunkan Luna dulu." Erfan pergi meninggalkan Helena yang dengan segala pemikirannya.
__ADS_1
...****...