
...Happy reading...
Seperti biasanya akhir pekan Helena membersihkan seluruh isi apartemen Erfan tanpa terkecuali walau setengah hati karena kejadian kemarin.
Mulai dari kamar, kamar mandi, ruang tamu, beberapa pajangan terletak di rak-rak dan semua tempat didalam apartemen ini.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Helena yang sangat rajin hingga bekerja tanpa lelah seakan melampiaskan amarahnya dengan bekerja.
Helena sedang mengelap beberapa pajangan yang berdebu, bergantian dengan yang lainnya hingga Luna datang padanya dengan segelas air putih.
"Mama apa kau tidak lelah?" tanya Luna dengan polosnya ingin ikut membantu tapi Helena tidak mengizinkannya.
"Tidak sayang, kerjakan PR mu dulu ya," ucap Helena seraya mengusap lembut puncak kepala Luna dengan sayang, Luna memberi segelas air putih pada Helena yang tidak tega menolak, Helena menetukan dan menegak air hingga tak bersisa.
"Makasih sayang lanjutin pr nya,"pinta Helena diangguki oleh Luna dan kembali kedapur menaruh gelas sebelum akhirnya kembali mengerjakan PR nya.
Helena beralih pada beberapa laci di sebelah Tv membuka satu persatu merapikan isinya, hingga ia tidak sengaja menemukan sebuah foto yang membuat dirinya mematung.
Foto seorang lelaki remaja dengan perempuan kecil yang membuatnya teringat masa lalunya. Memori bertahun-tahun lalu.
"Ini 'kan?"
Flashback.......
14 tahun yang lalu.....
Helena yang masih berumur sepuluh yang tidak tau tujuannya kemana ataupun arah bahkan tidak melihat jalanan yang ada di depannya dengan baik ia berjalan sempoyongan karena tubuhnya lemah
Hingga seorang lelaki remaja mengangkat tubuhnya sebelum sebuah mobil melintas melewati mereka.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja adek manis?"
Helena tidak menjawabnya malah air mata nya jatuh berderai tanpa diminta, terlihat sisa air matanya mengering bertambah dengan air mata lagi.
"Apa ada yang sakit, jangan menangis!" Lelaki remaja itu berusaha menenangkan adik manis ini tapi air matanya tambah menangis
Helena mengeleng pelan karena dirinya baik-baik saja tidak terluka, tapi hatinya terluka karena kepergian sang ayah dari dunia ini.
Ayah yang telah pergi membuat dirinya tidak punya semangat hidup lagi, tatapan matanya kosong tidak bersemangat sama sekali.
Anak mana yang akan senang karena hal ini, ditambah dengan ibunya yang pergi entah kemana, dirinya seperti sendiri di dunia ini.
"Apa kau sudah makan?" tanya lelaki remaja itu lagi khawatir dengan adek manisnya kenapa-kenapa.
Lagi-lagi Helena kecil kecil mengeleng kepala, karena tidak ada yang memperhatikan dirinya setelah pemakaman sang ayah bahkan pakaiannya masih kotor karena sisa tanah yang menempel.
"Ayo ikut kakak akan membawamu ke suatu tempat," ajaknya tetap mengendong Helena kecil membawanya pulang menemui banyak orang.
Helena dibawa ke sebuah rumah besar yang ditempati oleh banyak anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah itu.
"Fan kamu bawa siapa? Ayo bawa dia masuk!" tanya ibu panti khawatir melihat betapa mengenaskannya keadaan gadis kecil ini.
Helena kecil dibawa oleh mereka kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan yang lebih bersih.
"Siapa dia ini Fan?" tanya ibu panti melihat ketakutan pada wajah gadis itu.
"Tidak tau Bu, tadi adik manis ini hampir ditabrak mobil, aku membawanya kesini karena dari tadi ku tanya dia tidak menjawab." Jelas lelaki remaja itu apa adanya karena ia juga tidak tau menahu.
"Ya ampun, beruntung dia baik-baik saja, siapa namamu nak?"tanyanya dengan lembut
__ADS_1
Helena tidak menjawabnya ia malah menarik ujung pakaian kakak yang telah menyelamatkan tadi dengan ketakutan tapi senyum kakak itu membuat dirinya memberanikan diri menjawab.
"Adek manis siapa namamu?" tanya lelaki remaja itu lembut wajahnya juga dihiasi senyum.
"Zira.." Ucapnya lirih yang hanya terdengar oleh lelaki remaja disebelahnya dan memberi tahukan nama gadis kecil ini.
"Zira, nama yang bagus," ucap mereka tersenyum pada Helena kecil
Karena memang itu nama yang sering dipanggil sejak kecil oleh sang ayahnya, ragu-ragu membalas senyum mereka .
Hingga seminggu kemudian Helena sudah akrab dengan semua penghuni di panti bahkan mereka semua terhibur karena atraksi dari kakak Fan yang menyelamatkannya.
"Zira, apa kau bisa menari?"
Helena kecil mengangguk kecil dan berdiri di antara mereka semua seraya menari asal diikuti dengan anak-anak lainnya juga begitu riang dan gembira.
Helena kecil sangat menikmati bersama mereka semua hingga datang ibunya yang menjemput dirinya walau dia menolak tetap saja dia dipaksa pulang.
Helena yang berada didalam gendongan kakak Fan takut-takut melihat ibunya bahkan memegang erat tangannya yang dilepaskan paksa oleh ibunya
Helena menarik apapun hingga memutuskan kalung perak kakak Fan yang sering digunakannya.
Kakak tampan dan ibu yang mengurus panti mencoba mencegatnya tapi tidak ada yang menghalangi ibu Helena, atau akibatnya akan fatal.
Semua sunyi melihat kepergian Helena yang menangis dengan kencang tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Hingga sampai hari ini Helena tidak pernah mengetahui keberadaan mereka lagi padahal sangat ingin berterima kasih.
Flashback off...
__ADS_1
***