Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
91. Cuma karena Kasian


__ADS_3

...Happy reading ...


Sesuai dengan janjinya tadi pagi siang ini sebelum makan siang dirinya berpamitan pada sahabatnya Aliza dan juga kak Anton tentunya.


"Aliza, Kak Anton aku pamit dulu ya?" pamitnya dengan Aliza masih mengenggam tangannya


"Sudah ku bilang jangan buru-buru, makan siang di sini saja." Timpal Anton yang berdiri di samping Aliza.


"Tidak perlu kak, aku ada janji sebentar lagi jadi maaf tidak bisa menerima ajakan makan siang darimu." Helena merasa tidak enak hati tapi ia sudah berjanji pada Luna tadi.


"Naa kalau kamu sering lewat sini mampirnya?" Aliza kembali mengingat agar sering mampir ke apartemen sewa ini.


"Oke..Lain kali aku akan mengunjungiku, byee!" Helena menghampiri supir ojek online yang susah menunggunya sedari tadi.


"Bye Naa hati-hati!" Aliza melambaikan tangan dibalas oleh Helena yang juga melambaikan tangan pada Aliza setelah naik ojek online yang akan mengantarnya ke panti karena Erfan dan Luna sudah pergi terlebih dahulu tadi


Tidak perlu waktu lama hanya sekitar 15 menit saja ojek online sudah berhenti didepan pekarangan panti asuhan yang terlihat hangat seperti biasanya dengan banyak anak-anak yang sedang bermain dengan gembira.


Langkah Helena kembali terhenti saat pandangannya tertuju pada Erfan dan Mona yang duduk di kursi panjang yang muat untuk tiga orang. Bukan hanya itu bahkan tangan Mona mengenggam erat tangan Erfan.


Erfan?


Nyutt...


Hati Helena kembali berdenyut nyeri kakinya tidak lagi bisa melangkah, ia hanya terpaku di tempatnya tanpa bisa melakukan apapun.


Ada apa Helena kau ini? kenapa sih gemetar gini, apa salahnya mereka bersama dan tentu saja mendapat mereka akan persetujuan dari keluarganya. nyali Helena tambah ciut


"Mama Helena!" sapa Luna menangkap sosok Helena yang berdiri di dekat pintu pagar


"Iya sayang Mama sudah datang!" Helena mengacak rambutnya dengan gemas.


"Mama gendong!" pintanya mengangkat tangannya minta di gendong, Helena meraih Luna dalam pelukan langsung dihadiahi oleh ciuman di kedua pipinya


"Manisnya, Luna mau apa ayo katakan." tanya Helena ini seperti Luna ingin meminta sesuatu darinya.


"Luna ingin Mama tetap bersama Luna ya." balasnya dengan polos

__ADS_1


"Tentu saja sayang." Helena membawa Luna duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Luna cepat Ayo kita main!" ajak salah seorang temannya memanggil nama Luna agar dia ikut bermain.


"Nah itu teman-temannya sudah meminta Luna untuk bermain." tunjuk Helena pada beberapa anak seusia dengannya yang mengajaknya bermain.


Luna mengangguk kemudian berlari kecil menghampiri teman-temannya dan kembali bermain dengan tawa dan canda, terlihat begitu hangat.


"Halo Helena ya, apa aku boleh duduk?" tanyanya ramah bahkan tersenyum.


"Duduk saja lagian kursi ini bukan milikku." balas Helena tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Mona langsung duduk di sebelahnya ikut melihat anak-anak bermain dengan begitu antusiasnya.


"Hah pantas saja." ucap Mona menghela napas panjang, Helena hanya diam tidak berniat menanggapi perempuan di sebelahnya


Mona melirik Helena dengan ujung matanya, masih dengan Senyum melihat permainan anak-anak.


"Ehm pantas saja kak Fan mengejarmu." Mona kembali berkata yang membuat Helena langsung menoleh padanya, Ada apa sih?


"Ada apa kenapa kau melihatku begitu?" Mona menanggapinya dengan sinis


"Kak Fan baru saja berkata padaku jika dia sedang mengejar cintamu tapi aku benar-benar tidak menyangka dia melakukan hal itu." lagi-lagi dia bicara tanpa melihat Helena


"Kau Zira kan gadis yang pernah diselamatkan belasan tahun lalu kan?" Mona memastikan status Helena yang sebenarnya


"Lalu kenapa memangnya, ada yang salah dari hubungan kami?"


"Ck..kau sepertinya terlalu bangga, tapi pada kenyataannya dia cuma merasa kasihan denganmu."


"Kasihan?" tanya Helena memangnya kenapa dirinya harus dikasihani padahal dirinya bukan seorang pengemis.


"Ya, lihatlah dirimu, melalui matamu saja aku bisa tau hidupmu tidak baik-baik saja dimasa lalu benarkan? padahal kau tersenyum tapi matamu penuh kesedihan." Mona malah terlihat mengejek dengan senyum miringnya


Helena bahkan mengangkat kedua alisnya karena bingung apa maksud perkataan perempuan ini sebenarnya kenapa mengatakan hal yang tidak masuk akal.


Mona hanya sekedar mengada-ada saat mengatakan semua itu, dirinya tau bahwa Helena bukanlah tipe wanita yang disukai oleh Erfan, dengan menyingkirkan Helena jalannya akan mulus.

__ADS_1


Tapi walau Helena tidak bisa mengerti semua perkataan perempuan ini setidaknya satu yang di mengerti bahwa Erfan hanya kasihan pada dirinya.


"Ck. ck sekarang sepertinya aku juga merasa kasihan melihatmu, sungguh gadis malang."


"Apa aku memintamu mengasihaniku begitu? Kenapa kau kasihan padahal aku sangat bahagia sekarang Luna dan juga Erfan ada bersamaku, jadi apa yang kau kasihani?"Helena malah balik bertanya padanya yang terlihat terkejut.


"Kau!" mona malah kesal kenapa Helena tidak marah.


Helena kembali melihat Luna yang bermain dengan teman-temannya sesekali tertawa gembira "Hah. Aku malah kasihan padamu karena sepertinya Cintamu tidak diterima oleh Erfan, benarkan?" Helena menoleh padanya yang makin terkejut.


"Ba-gaimana kau bisa tau?"


"Seperti perkataanmu tadi, aku juga bisa melihat dari matamu dan bahasa tubuhmu. Tapi kau kasihan sekali ck. ck." Helena mengeleng kepala tidak habis dengan perempuan ini benar-benar bodoh. Dia memprovokasi orang yang salah.


"Apa hak mu mengatakan hal seperti itu tentangku hah." Mona bangkit dan berdiri di depan Helena yang juga sudah bangkit.


"Hak apa maksudmu, aku tidak tau!" Helena menyilangkan tangannya didepan dada seakan tidak tau apa-apa dengan ekspresi polosnya saat melihat Erfan mendekati mereka


"Wanita murahan, kau berlagak bodoh!" bentak Mona mendorong tubuh Helena hingga kembali terduduk di kursi raman


"Mona ada apa denganmu!" Erfan mencekal tangan Mona hingga berbalik melihat dirinya.


"Kak Fan!"


"Ini panti asuhan, apa hakmu berkata begitu kasar disini!" terlihat Erfan begitu marah apa lagi semua anak-anak yang tadi bermain melihat mereka.


"Tapi ini bukan salahku, ini gara-gara dia!" tunjuk Mona menuduh Helena, Luna pun menghampiri ketiga orang dewasa itu.


"Mama baik-baik saja kan?" tanyanya dengan khawatir terlihat begitu imut.


"Mama tidak apa-apa kok." jawab Helena memeluk Luna.


"Kau boleh pergi dari sini Mona." ucap Erfan yang membuat Helena bingung.


"Tapi kak!"


"Aku bilang pergi, aku tidak suka ada orang yang berbicara kasar ada di sini!" geram Erfan tetap tidak membentaknya karena banyak anak-anak di sini.

__ADS_1


Mona pun pergi dengan kedongkolan di hatinya, Helena lah yang sebenarnya harus diusir dari tempat ini.


...*****...


__ADS_2