Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
23. Malu dong!


__ADS_3

...Happy readingĀ ...


"Ayo bersiap!" ajak Helena mengandeng tangan Luna untuk masuk kedalam kamarnya untuk bersiap pergi


Sementara itu Erfan langsung bicara dengan orang disebrang sana melalui ponsel, "Ada apa?" tanyanya singkat langsung pada intinya


"Dimana kau! kenapa belum datang?" Yolan yang khawatir mungkin Erfan tidak menepati janjinya untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.


"Aku akan datang sebentar lagi," Erfan menaiki tangga menuju kamarnya dilantai atas karena dia harus mandi dan berganti pakaian juga.


"Awas jika kau tidak datang, aku akan kesana menculik putrimu yang manis itu," Ancamnya bercanda tapi berbeda dengan ekspresi Erfan yang paling tidak suka diancam apalagi menyangkut putrinya.


"Beraninya kau!" Teriaknya menggema bukan hanya ditelinga Yolan tapi juga diseluruh penjuru kamarnya.


"Aku hanya bercanda, jadi cepatlah ajak juga perempuan yang kemarin itu, siapa namanya Mon.. Monic? Ahh aku lupa nama nya," Yolan meruntuki dirinya karena tidak bisa mengingatkan nama perempuan cantik itu.


"Mona maksudmu?" Tebak Erfan tepat sasaran.


"Hanya itu kado yang ku inginkan Luna dan Mona," pinta Yolan dengan begitu percaya diri.


"Ambil saja Mona jika kau mau tapi tidak dengan Luna mengerti!"


"Yaya ayo datang cepatlah!" Yolan sangat ingin bertemu dengan Luna karena sudah berhari-hari tidak berjumpa juga dengan perempuan bernama Mona itu.


"Hmm," Erfan malas menanggapinya dan memutuskan sambungan telpon beralih menghubungi Mona untuk bersiap-siap


"Halo, Mona!"


"Ya kak?" Balasnya senang pasalnya Erfan berinisiatif menghubungi dirinya terlebih dahulu.


"Bersiaplah, aku akan menjemputmu 20 menit lagi untuk menghadiri pesta ulang tahun temanku," jelas Erfan yang sebenarnya malas.


"Benarkah?" Mona tambah bersemangat karena ini pertama kalinya Erfan mengajak dirinya ke sebuah pesta.


"Hmm,"


"Kalau begitu aku akan bersiap sekarang juga!" Mona bahkan sudah mengobrak-abrik isi lemarinya mencari baju yang pas dikenakan.


Erfan tidak menjawab lagi kembali memutuskan sambungan telpon sepihak, yang sebenarnya ia sangat malas berurusan dengan Mona tapi jika Yolan menyukainya, dirinya juga yang beruntung karena tidak diganggu lagi.


Sementara itu Luna baru selesai mandi duduk di atas tempat tidur dengan masih mengenakan handuknya yang bermotif kuda pony berwarna-warni.


"Kenapa Mama tidak akan ikut juga?" tanya Luna duduk seraya melihat Helena memilih pakaian untuknya.


"Mama ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini, kalau tidak nanti bos nya marah," kilah Helena sudah memilih pakaian yang cocok, mulai memakai kan baju untuk Luna yang menurut dengan patuh.


"Apa Mama tidak takut tinggal sendirian dirumah?"tanya Luna yang memang itu kekhawatiran Helena yang sebenarnya.


"Gak hanya saja Mama tidak biasa tinggal sendirian dirumah ini, Mama baru tinggal disini," Ujar Helena seraya menyisir rambut Luna yang sebahu membuat dirinya bertambah imut.


"Kalau begitu Luna minta sama ayah untuk bawa Mama juga,"

__ADS_1


"Tapi-" belum selesai Helena bicara Luna sudah melesat pergi menemui ayahnya dengan rambut belum tertata


"Luna.!" Panggil Helena tapi apa yang mau dikata Luna sudah menaiki tangga menyusul ayahnya yang berada di kamarnya


"Aah Luna ini, Erfan pasti berpikir yang tidak-tidak tentangku nanti," cebik Helena hanya bisa pasrah.


"Ayah, ayah!" Panggil Luna melesat masuk tanpa permisi.


"Iya sayang ada apa? Kenapa belum selesai juga, kita akan pergi sebentar lagi." Erfan melihat putrinya yang belum selesai didandani karena rambutnya masih berantakan.


"Ayah boleh ya membawa kak Helena ikut serta dengan kita, boleh ya yah?" Luna tidak menanggapi pertanyaan ayahnya malah langsung meminta Helena agar boleh ikut.


"Tidak sayang nanti paman Yolan akan marah padamu," jawab Erfan karena tidak mau Helena ikut, karena perempuan itu licik sekali.


"Tidak akan, Luna akan membela kak Helena sampai Paman Yolan tidak akan berani memarahinya," jawab Luna seakan rela jadi tameng untuk melindungi Helena.


"Baiklah asal kamu senang saja sayang," Erfan tidak ingin terlalu berdebat dengan putrinya memilih menyetujui permintaannya. jika tidak maka urusannya akan sangat panjang.


"Yeah terima kasih ayah!" Luna mendaratkan sebuah kecupan di pipi ayahnya dan berlari keluar dari kamarnya dengan riang


"Dasar perempuan itu, pasti meminta Luna agar aku mengizinkan kau pergi dengan kami, awas saja kau gadis licik," Geram Erfan bahkan mengeraskan rahangnya gemeletup giginya hingga terdengar nyaring.


Luna kembali menghampiri Helena yang berdiri menunggu dirinya cemas di ujung tangga sana.


"Mama! Mama dibolehin pergi dengan kami yeah." Luna kegirangan sendiri Helena yang mendengarnya hanya melongo tidak percaya Erfan menyetujuinya.


"Tapi sayang-" tapi detik berikutnya Helena merasa tidak enak hati, bisa saja Erfan berpikir tentang dirinya yang tidak baik.


"No Mama jangan membantah ayo kita bersiap sekarang!" Luna menarik lengan Helena menuju kamar Helena yang berada di sudut sana untuk berganti pakaian Helena juga.


***


"Kita akan kemana Ayah? Apa Paman Yolan sudah pindah rumah?" tanya Luna yakin betul karena sudah pernah mengunjungi rumah Yolan beberapa kali.


"Kita harus menjemput seseorang nanti kita akan pergi kesana setelahnya," jawab Erfan berhenti tepat didepan sebuah apartemen yang di sana seorang perempuan sudah menunggu dengan gaun seksi.


Erfan menurunkan kaca mobil melihat perempuan itu diluar sana sekalian menyapanya walau sebenarnya Erfan jengah.


"Mona masuklah, kita harus berangkat sekarang," ucapnya tanpa berniat turun membantu perempuan itu naik.


"Baiklah," Mona ingin berjalan memutari mobil tapi dihentikan oleh Erfan.


"Bukan disana, tapi dikursi belakang!" Erfan bicara dengan santai, tanpa bertanya lagi Mona masuk dikursi belakang paling tidak dia bersama Erfan.


Begitu masuk dan duduk di kursi belakang tatap dua perempuan yang duduk didepan menghujamnya dengan tidak percaya.


Luna yang menganggap Mona saingan Mama Helena nya malah mengeratkan pelukan pada Helena. Sementara Helena tidak percaya Erfan bisa se cuek itu padahal ada cewek cantik dan seksi menggodanya. Helena bahkan tidak bisa berkata-kata menyaksikannya.


"Mereka siapa?" tanya Mona yang mencengkeram sisi gaunnya karena amarah, bagaimana bisa ada wanita lain selain dirinya didalam mobil ini? Mona tidak habis pikir.


"Ini putriku Luna, kalian baru bertemu kenalkan sayang ini Aunty Mona," ucap Erfan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

__ADS_1


"Halo Aunty..." sapa Luna sekilas.


"Halo." balas Mona dengan senyum ramah karena putri Erfan mungkin saja menyukainya.


"Dan ini... Helena dia temanku," timbal Erfan lagi tidak mungkin menyebut Helena pembantu atau pengasuh dan untuk apa seorang pengasuh duduk di kursi depan apa lagi menghadiri pesta.


"Helena!" ucapnya memperkenalkan diri sendiri bergantian dengan Mona


"Mona!" balasnya dengan senyum dipaksa.


Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani mereka diselingi oleh celoteh Luna pada Helena tanpa mengubris Erfan dan Aunty barunya.


15 menit kemudian mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang besar dihiasi dengan berbagai pernak pernik tapi tampak sempurna untuk seorang pria.


Yolan yang melihat kedatangan Erfan dan putrinya langsung pamit pada rekan bisnis yang bicara masalah proyek dengannya.


"Luna! akhirnya kau datang juga!" Yolan yang sudah dihadapan mereka langsung membawa Luna dalam gendongannya dan menghujani pipi gembulnya dengan kecupan karena gemas yang membuat Luna tertawa.


"Hihi Paman geli!" keluhnya dengan tawa yang tidak bisa ditahan.


"Sudahlah Yolan jangan menganggu Luna, dia bisa lelah nanti," Erfan merebut Luna dari gendongan Yolan dengan paksa.


"Ini Mona dan ini Helena," ucap Erfan yang membuat Yolan langsung mengenal Mona dan yang lainnya adalah Helena.


"Selamat ulang tahun Tuan Yolan, senang bertemu denganmu," Helena menyapa terlebih dahulu tidak mau membuat Erfan malu karena membawanya.


"Terima kasih,"


"Selamat untuk ulang tahunmu," Mona sama sekali tidak bersemangat mwngucap selamat hanya sekedar formalitas.


Setelah saling mengucapkan selamat kepada Yolan Yolan mereka melangsungkan acara hingga akhirnya acara makan-makan, Yolan sengaja meminta Luna agar makan cake bersamanya dan yang lainnya sudah duduk tidak jauh dari mereka.


Erfan menyeruput minumannya seraya melihatnya tajam seolah mengintimidasi Yolan, perempuan manis bernama Helena itu makan cake dengan lahapnya bahkan seperti orang kelaparan karena dia memang belum makan tapi tidak nampak begitu sebenarnya, dan Mona dengan anggun makan yang dibuat se elegan mungkin.


"Jadi Luna siapa di antara mereka berdua yang kamu sukai?" tanya Yolan mungkin saja Luna menyukai salah satu diantara mereka.


"Stt.. jangan keras-keras sini Luna bisikkan," Luna melambaikan tangan pada Yolan agar mendekatkan telinganya.


"Mama Helena adalah Mama Luna loh bahkan tinggal diri yang sama dengan Luna, bisa bobo sama Mama Helena," bisik Luna mengungkap yang sebenarnya.


"Mama Helena?" lirihnya tersentak dengan kenyataan bagaimana Erfan menyetujui Luna memanggil perempuan itu dengan sebutan Mama? padahal mereka baru kenal.


"Iya ini rahasia loh, jadi Paman jangan bilang sama ayah ya?" ucapnya lagi setengah berbisik


"Oke deh, kalau begitu Paman mau ngejar Aunty Mona saja,"


"Bagus Paman, biar gak jomblo lagi malu sama dong sama Luna!"


"Loh kok malu sama Luna sihh?" tanyanya tidak mengerti maksud perkataannya


"Gini loh paman, Luna tuh udah Gede, tapi paman masih aja jomblo, Malu dong paman masa adik sepupu belum lahir juga!" cebiknya malas turun dari pangkuan paman dan pergi ke arah ayahnya.

__ADS_1


Ada benarnya juga perkataan Luna masa aku sudah umur matang menikah masih jomblo lagi, mana bisa buat adik sepupu untuknya.


****


__ADS_2