Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
62. Gosong


__ADS_3

...Happy reading...


Mengenang masa lalu selalu membuat Helena terus tersenyum simpul memandangi bingkai foto yang sudah terlihat usang itu, sesekali mengusapnya dengan haru.


Tanpa sadar air mata Helena menetes pada bingkai foto masih dengan kenangan singkat penyemangat hidupnya sampai saat ini.


Bukan Helena tidak ingin mengunjungi mereka tapi dirinya bahkan tidak ingat nama panti asuhan itu bahkan letaknya saja tidak tau, tempat itu seperti hilang dari ingatannya tapi kenangan itu selalu terkenang.


"Kak Fan.." ucapnya dengan lirih


Helena ingat foto ini saat Kakak penyelamatnya mengendong dirinya di punggungnya hingga membuat Helena tertawa riang waktu itu.


Sementara Erfan yang baru pulang entah dari mana, ia melihat Helena yang memegang fotonya dengan tertunduk dalam melihat foto itu dengan seksama.


"Apa yang kau lakukan!" bentaknya kesal beraninya Helena menyentuh barang miliknya tanpa izin.


"Aku, aku tidak sengaja," balas Helena mengeleng dan cepat-cepat menghapus air matanya.


"Kau tinggal disini bukan berarti kau bisa menyentuh semua barangku, setidaknya kau sadar diri dengan posisimu!" teriak Erfan tepat di depan Helena yang malah terpaku melihatnya


Benarkah dia kak Fan? berarti dia ada di sana dekatku selama ini, aku benar-benar merindukannya! Helena bangkit dengan mata berbinar, ingin rasanya memeluknya..


"Jangan mendekat! ingat posisi mu!" Erfan kembali mengingat Helena tentang posisinya, tapi tidak membuat Helena terluka.


Erfan pun merebut Foto itu dengan kasar dan membawa kembali ke kamarnya dengan kesal, Helena melihat kepergiannya dengan banyak pertanyaan dibenaknya.


"Apa benar Erfan orang itu? Kenapa dia berubah?" gumam Helena melihat punggung Erfan dan hilang dibalik pintu kamarnya.


Helena kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi dengan pikiran bercabang bahkan melamun mengingatnya.


"Mama, apa sudah selesai?" tanya Luna kembali menghampiri Helena yang terlihat melamun tidak fokus lagi.


"Eh, iya sebentar lagi sayang, ada apa?" Helena yang kaget cepat-cepat menepis pikirannya dan balik bertanya pada Luna.

__ADS_1


"Luna lapar, sebentar lagi waktu makan siang," ucap Luna mengusap perutnya sendiri.


"Baiklah, Mama masak dulu kalau begitu." Helena menaruh peralatan kebersihan begitu saja, nanti akan dilanjutkan setelah selesai makan siang.


Helena mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk dimasak siang ini, ia memotong bahan makanan dengan setengah melamun bahkan Luna yang berceloteh tidak terdengar di telinganya.


"Aww.. shh," Helena cepat-cepat menyiram lukanya dengan air mengalir.


Luna turun dari kursinya menghampiri Helena yang mengaduh kesakitan karena tangannya teriris.


"Mama baik-baik saja?" tanya Luna khawatir tapi Helena malah tersenyum padanya.


"Hanya luka kecil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Helena mengusap puncak kepala Luna dengan sayang agar tidak khawatir memintanya kembali ke kursinya.


Helena melanjutkan memasaknya dengan setengah melamun, mengaduk masakan diatas kompor. sementara Luna sedang bermain dengan ayahnya.


"Bau apa ini? seperti bau gosong," Erfan yang baru turun mengambil air malah dikejutkan dengan Helena yang mengaduk masakan tapi terlihat sudah hitam.


"Ada apa dengan wanita ini?" Erfan cepat mendekati Helena yang seperti melamun, ia langsung mematikan kompor.


"Eh, aku sedang mema-sak." ucapan Helena melihat masakannya hangus sementara Erfan sudah terbatuk-batuk beruntung Luna tidak ada disini


"Maaf aku tidak sengaja." Helena buru-buru menyuruh Erfan duduk, dirinya menuangkan segelas air untuknya.


"Maafkan aku, minumlah!" sangking khawatirnya Helena membantu Erfan minum dengan jarak mereka begitu dekat.


"Apa pak Erfan baik-baik?"


"Lupakan saja, panggil Luna keluar, kita makan diluar, rumah ini harus dibersihkan dari bau gosong ini. untung saja alarm kebakaran tidak berbunyi," Erfan bangkit berjalan keruang tamu.


Mereka bertiga makan diluar karena Helena membuat makanan gosong.


...🐿🐿...

__ADS_1


Malam harinya setelah selesai memasak Helena memanggil Erfan dikamar putrinya sedang bermain


Bukannya memanggil Helena malah asik dengan pikirannya sendiri, ia benar-benar mengingat masa lalu saat melihat Erfan sekarang


Kenapa kau berdiri saja di situ?


Masuk kak Helena ajak Luna


Em tidak usah, aku sudah selesai memasak dan ayo kita makan sebelum makanannya dingin


"Kau yakin? tidak gosong lagi?" sindir Erfan


"Tidak pak, maaf," ucap Helena tertunduk mengaku salah m


Erfan Dengan sigap mengendong putrinya ke meja makan untuk makan malam bersama masih dengan wajah tidak senang, mungkin masih marah karena Helena.


Helena melihatnya dengan pikiran tidak menentu, entahlah apa yang dipikirkan ini benar atau tidak, ingin bertanya tapi tidak ada keberanian


Apalagi setelah kejadian tadi pagi Erfan seperti marah dan ketus padanya, Helena hanya bisa menghela napas panjang menghilangkan beban dipikirkannya


Ia pun mengikuti langkah Erfan yang sudah berjalan terlebih dahulu kedapur


Helena hanya berharap dugaannya benar, dulu dirinya belum sempat berterima kasih, semoga bisa berterima kasih sekarang


Bukan hanya berhutang terima kasih padanya tapi Helena juga berhutang budi karena telah diselamatkan olehnya


Terima kasih kak Fan kau adalah tujuan utama aku hidup dan bersemangat seperti sekarang!!


"Apa yang kau lihat?" ucapan Erfan membuat Helena tersadar seketika takut ketahuan terus memandangi Erfan.


"A-aku," balas Helena gelagapan


"Duduk dan makanlah, jika kau sakit aku juga yang repot," ketus Erfan

__ADS_1


Helena menyungingkan senyum melihatnya dan duduk duduk ikut makan bersama mereka.


****


__ADS_2