Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
32. Marah


__ADS_3

...Happy reading...


"Tapi tante kok jalan pake kaki ya ma? memangnya mata kaki bisa digunakan?" tanya Luna dengan polosnya


Pufftt. Helena menahan tawa mendengar ocehan polos dari putrinya yang membuat wajah Keysa memerah karena marah.


Kamu anak nakal berani mengataiku!" Keysa berjalan kearah bocah itu tapi terlebih dahuluy dihadang oleh Helena


"Jangan berani menyentuhnya Keysa!" Helena menunjuk wajah Keysa memperingati agar tidak macam-macam.


"Kenapa? dia pasti anakmu saat berada di luar negri 'kan, akan ku adukan pada ibumu itu," sentaknya menepis tangan Helena dengan kasar.


"Adukan saja aku tidak masalah lagian aku tidak tinggal dengan kalian jadi apa hak mu mengatur hidupku."  Helena sama sekali tidak takut ancaman dari Keysa karena tidak akan mempan pada dirinya.


"Kau!" Keysa kehabisan kata-katanya tidak tau bagaimana lagi membuat Helena takut.


"Maaf nona saya harusmembawa putri dari atasan menemui ayahnya dulu, permisi!" Helena melewati Keysa dengan santainya tapi bertimbal balik karena Keysa sangat marah.


"Helena kau aku belum selesai denganmu!" Keysa tidak bisa membiarkan Helena pergi sebelum mempermalukannya


"Memangnya kita punya urusan apa? Apa kau mengenalku?" Helena menoleh sekilas padanya


Setelah mengatakan itu Helena berjalan seraya tertawa kecil menertawakan Keysa dan tingkah Lucu putrinya ini hingga membuat Luna heran karena tingkahnya


Suara hells mengetuk lantai terdengar sangat cepat mendekati mereka berdua yang berjalan santai hingga kembali nama Helena dipanggil


"Helena!"


Begitu Helena merasa namanya dipanggil berbalik tapi tangan Keysa sudah terangkat untuk menampar dirinya, Helena yang tidak punya dan persiapan tidak bisa menangkis tangannya memilih memejamkan mata


Grep..


Untuk sepersekian detik Helena tidak merasakan tamparan dari Keysa perlahan kembali membuka matanya


"Pak Erfan!" Bukan Helena yang mengatakan itu tapi Keysa yang dicengkeram sangat kuat olehnya.

__ADS_1


"Ayah!" Luna tersenyum lebar saat melihat sang ayah ada di sisinya jadi tidak ada yang bisa menganggu dirinya dan juga Mama Helena


Helena mengerjap mata beberapa kali dan mengucek matanya apa tidak salah melihat bahwa Erfan ada disini. Kapan dia datang?


"Ayah?" Keysa berucap lirih beralih melihat bocah kecil itu yang memanggil Erfan dengan sebutan Ayah.


"Ku Peringatkan padamu, jangan semena-mena dengan karyawanku apalagi di depan putriku!" ancamnya penuh penekanan


Erfan menghempaskan tangannya dengan kasar tidak peduli melihatnya kesakitan


"Jika sekali lagi aku melihatmu bersikap begini di kantor ini maka jangan salahkan aku jika kontrak kerja sama itu tidak akan berlaku lagi walau ditanda tangani oleh pewaris sesungguhnya perusahaan ini!" Erfan menunjuk wajah Keysa yang sudah terlihat merah padam


Keysa masih berdiri menahan kekesalan di dalam hatinya bagaimana seorang Helena bisa dilindungi oleh Erfan


Sial! sial! kenapa Helena bisa bersama dengan anaknya Erfan, dan apa tadi bocah itu memanggilnya dengan sebutan Mama!


"Apa yang kau lihat, pergi dari sini!" Erfan kembali mengusir Keysa karena jengah.


"Tapi pak, ada dokumen yang harus kau-" belum selesai Keysa mengatakan apa urusannya Erfan malah tambah meradang.


"Tapi!"


"Ku bilang pergi! Lift nya ada di sana, pergi!"


Dengan kesal pergi seraya menghentakan kakinya meluapkan kekesalannya pada lantai yang tidak bersalah.


Setelah kepergian Keysa, kini Erfan beralih melihat Helena dengan tajam dan melihat putrinya Luna dengan lembut.


"Luna masuk kedalam duluan ya, ayah mau bicara dengan kak Helena, ingat jangan nakal!" ujarnya pada putrinya itu


"Baik, ayah!"


Setelah Luna masuk kedalam ruangan itu Erfan kembali menatap Helena dengan tajam seakan melubangi tubuh Helena yang terlihat nyalinya menciut


"Kenapa kau membawa Luna dalam masalahmu? hah?" sentak Erfan menarik tangan Helena dan menggenggam dengan erat seakan menunjuk kemarahannya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud begitu," ucap Helena gemetar menahan sakit pergelangan tangannya


"Lalu apa yang ku lihat tadi? Kau pikir aku tidak melihatnya!"


"Keysa yang terus menahan langkah kami, shh sakit pak!" keluh Helena mencoba melepaskan cengkeraman Erfan di tangannya


"Helena, pak Erfan ada apa ini?" tanya Sindy berjalan bersama Anton di belakangnya ikut mendekati mereka berdua. Mereka baru kembali setelah makan siang tapi disuguhkan dengan pemandangan seperti ini


"Bukan urusan kalian, masuk!"


"Pak ini semua bukan keinginanku!" Helena mengiba terus meronta agar terlepas dari cengkeramannya


"Tapi bukan begini caranya, pak. Helena kesakitan!" Sindy melihat Helena yang meringis kesakitan bahkan air matanya mulai keluar.


"Benar, kasar pada perempuan bukanlah sifat seorang pria, pak!" Anton ikut menimpali walau dia tidak berani hanya kasihan melihat Helena


Erfan yang mendengar hal itu seperti tersadar dan mulai melonggarkan cengkeramannya hingga melepas tangan Helena.


"Jika sampai hal itu terjadi lagi maka hari itu hari terakhir kau bisa melihat matahari." ucap Erfan penuh penekanan dan juga ancaman bagi Helena yang sedang mengusap tangannya.


Erfan pun masuk menyusul putrinya yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Helena apa kau baik-baik saja?" tanya Sindy


"Iya tidak apa-apa kak, aku akan keluar sebentar," pamit Helena menahan sakit dengan mengenggam tangannya sendiri yang sudah seperti mati rasa.


Helena berjalan menuju lift dan turun ke lantai bawah untuk mengobati tangannya.


Anton menghela napas panjang melihat kepergian Helena sudah hilang di balik pintu lift, membuat Sindy heran karenanya..


"Ada apa?"


"Tidak ada hanya saja kemarahan pak bos sangat mengerikan walau hanya mencengkeram tangannya saja, sepertinya Helena tidak sengaja melakukan kesalahan tadi, kasian dia." jelas Anton tapi Sindy pun merasa kasihan padanya


"Ya sudah ayo kita kerja atau pak bos bisa marah lagi nanti." Sindy mengidik takut nanti kemarahan bosnya menular pada semua orang.

__ADS_1


%%%%%


__ADS_2