
...Happy reading...
Dalam sekejap Helena merasa ada aura dingin saat ingin keluar bukan karena dinginnya AC tapi karena tatapan Erfan yang dingin begitupun dengan nada bicara yang datar tadi, Helena meliriknya sekilas.
Ada apa sih dengannya?
"Kubilang kau boleh keluar!" ucapnya lagi dengan nada datar tanpa menoleh sedikitpun untuk melihat Helena. Walau tidak menatap matanya Helena bisa merasa aura mencekam yang keluar darinya.
"Ba-baik pak." Helena menutup pintu dengan perlahan tidak mau menganggu ketenangan sang bos. Helena menghela napas lega karena bisa lepas darinya tanpa drama apapun.
Helena berjalan keluar dengan tertunduk karena Erfan sepertinya tiba-tiba marah karena suatu hal yang tidak diketahuinya.
Dari pada memikirkannya yang tidak jelas, Helena memilih larut pekerjaannya sampai tidak menyadari bahwa Beberapa kali Sindy dan Anton bergantian masuk kedalam ruangan Erfan tapi hanya mendapatkan kemarahannya saja.
"Gila kalian ngerasa gak sih, kenapa pak Erfan tiba-tiba marah-marah gak jelas sih." Anton mengipasi wajahnya yang terasa panas karena kelelahan.
"Bener aku juga rasa begitu padahal tadi kayaknya baik-baik saja malah senyum sendiri, sekarang malah marah-marah sendiri." Sindy satu pendapat dengan Anton karena dirinya pun kena marah hanya karena hal remeh temeh .
"Mungkin ada masalah kali kak," timpal Helena menoleh pada kedua orang yang duduk di hadapannya itu.
"Pak Erfan gak pernah marah gitu, lagian kalau marah pasti alasannya hal serius, ini nih aku bilang aku lupa memberi titik tapi berakhir dengan map ini terbang." jelas Sindy yang ikut mengipasi wajahnya hingga rambut sebahunya melambai-lambai.
"Terus pak Erfan jawab apa?"
Anton memperagakan cara duduk Erfan dan berkata "Perbaiki semua kesalahanmu, ini salah itupun salah juga, kau bisa kerja tidak!"
"Ada apa sih dengan pak Erfan, tega banget!" cibir Helena
"Aku ngerasa pak Erfan pasti baru diputusin sama pacarnya."
"Pacar!" pekik Helena membuat Sindy dan Anton serentak melihat kearah Helena bahkan menatapnya dengan curiga.
Apa jangan-jangan Erfan marah karena Helena? gumam keduanya dalam hati saling melempar pandangan.
__ADS_1
"Ada apa, kenapa kalian melihatku?"Helena menunjuk dirinya sendiri, apa dirinya membuat kesalahan?
"Kamu gak tau? aku perhatiin akhir-akhir ini pak Erfan sering tersenyum dan hari ini gak ada angin gak ada hujan tapi dia marah-marah.
Helena manggut-manggut membenarkan perkataan Anton
"Iya sih dia sering tersenyum tapi kenapa juga tiba-tiba marah apa alasannya, aku juga gak tau kak."
"Ehem Helena kamu kan dekat sama pak Erfan apalagi dengan putrinya, coba gih bujuk dia deh." Sindy mengeser kursinya hingga berada di samping Helena.
"A- ku membujuknya?" dijawab oleh Anton dan Sindy dengan mengangguk bersamaan
"Kenapa aku yang membujuknya, tidak mau ah." Helena menggeleng kepala.
"Ini demi kebaikan bersama, atau kita akan bekerja sepanjang malam disini."
"Demi kebaikan bersama!"
"Semangat Helena!" seru keduanya, Helena mengangguk sekilas berjalan kearah pintu ruangan Erfan.
Helena mengetuk pintu ruangan Erfan beberapa kali dengan takut-takut juga dengan kemarahannya
Helena diizinkan masuk kedalam ruangan itu yang terasa begitu mencekam bahkan membuat tangannya gemetar.
"Berikan!" ucapnya terasa hawa dingin
"Hah?" jawaban Helena membuat Erfan menoleh melihatnya dengan tatapan datar
"Jika tidak ada keperluan kau boleh keluar!" usirnya terang-terangan seakan keberadaan Helena tidak dibutuhkan.
Dasar pria ini suka sekali mengusir orang. umpat Helena dalam hati
"Pak Erfan, apa ada masalah?" tanya Helena dengan sopan dengan tertunduk.
__ADS_1
Erfan tidak menjawab Helena malah fokus pada tumpukan file didepannya. Helena mendekatinya hingga berdiri di sampingnya
"Apa kau ada masalah, coba ceritakan padaku." ucap Helena lagi berusaha meraih tangannya tapi langsung ditepis.
"Memangnya kau siapa ingin mengetahui masalahku, jika kau tidak punya pekerjaan maka kerjakan ini." tunjuknya pada tumpukan file didepannya.
"Tapi aku."
"Bawa dan kerjakan semua ini, buat laporannya dan selesaikan hari ini juga," ucapnya dengan menekankan disetiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
Helena akhirnya menghela napas panjang menghilangkan beban pikirannya karena Erfan, sepertinya Erfan memang marah pada dirinya.
"Baiklah!" Helena memilih mengalah saja dari pada terus membuatnya marah.
Helena mengambil setumpuk dokumen dan membawanya keluar, diluar dirinya sudah dinantikan oleh Anton dan Sindy dengan mata berbinar.
"Bagaimana?" tanya mereka berdua bersamaan.
Helena hanya bisa mengeleng kepala karena dirinya tidak berhasil membujuk Erfan, malah dirinya juga jadi sasaran kemarahannya.
Anton dan Sindy juga menghela napas panjang karena sepertinya mereka harus lembur lagi.
Hingga Sore hari saat jam pulang kerja, Helena merasa sangat lelah yang dirinya bahkan tidak tau apa sebab musababnya.
"Akhirnya aku selesai!" Helena merenggangkan tubuh sendiri karena merasa kaku.
Helena melirik Erfan yang ada di ruang kerjanya, sepertinya dia benar-benar marah dengan diriku, tapi apa juga salahku.
Cih kalau pun ngambek setidaknya harus jelas permasalahan kali, dasar Duda angkuh lagi, aku ingin marah! umpat Helena dalam hati dengan meremas udara didepannya sangking kesalnya karena Erfan memberinya begitu banyak pekerjaan.
***
Mampir di karyaku yang lainnya juga yang judulnya 'My Perfect Husband' dan tinggalkan jejak berupa like dan coment. vote jika kalian
__ADS_1