
...Happy reading...
Dengan napas yang ngos-ngosan Helena berhasil meraih tangan Erfan yang membuat langkah mereka terhenti, Helena pun tersenyum saat Erfan menoleh padanya.
"Kak Erfan, dengarkan penjelasanku dulu, aku mohon!" pinta Helena bersungguh.
"Untuk apa penjelasanmu, toh tidak ada hubungan apapun diantara kita." balas Erfan melepaskan tangan Helena yang menggenggam tangannya.
"Tolong dengarkan aku dulu, mungkin ini salah satu alasan aku tidak berani menerimamu." Helena tertunduk, sekarang dirinya harus mengatakan semua pada Erfan dan juga harus menerima keputusannya nanti.
Erfan menghentikan langkahnyadan menoleh pada Helena yang masih tertunduk.
"Baik, masuklah!" jawab Erfan, membuat Helena berusaha tersenyum padanya dengan haru. Helena ikut masuk kedalam mobil, mencari tempat untuk bicara.
Erfan melajukan mobilnya pelan sesekali melihat raut wajah Helena sedih, ada apa sebenarnya dengan bocah lelaki tadi. Hingga akhirnya Erfan berhenti di dekat restoran pinggiran pantai sekalian mereka makan siang pikir Erfan.
Erfan turun terlebih dahulu disusul oleh Helena juga, angin pantai menerpa wajahnya begitu pun dengan rambutnya yang tertiup angin hingga melambai-lambai.
"Apa kau mau makan siang?" tawar Erfan langsung dijawab dengan gelenggan oleh Helena
"Kakak saja aku aku menunggu di sana." Helena berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu jawabannya, Erfan mengikuti langkah Helena
"Dia adikmu?" Helena mengangguk membenarkan dugaan Erfan, duduk di kursi yang menghadap ke laut yang nampak biru berkilauan di siang hari.
"Dia mengalami Autis hingga berada di rumah sakit itu,"
"Kenapa dia bisa mengidap Autis?" tanya Erfan lagi membuat Helena mengangkat bahunya sendiri karena tidak mengerti dengan penyakit yang diderita sang adik.
"Entahlah banyak dokter yang sudah memeriksanya tapi mereka tidak bisa memberi jawaban yang akurat mereka menduga karena ibuku melahirkan di usia tua, ibuku sangat Egois hanya memikirkan dirinya sendiri." Helena tersenyum miris melihat ke depan matanya menyiratkan kesedihan.
"Kenapa kau berkata seperti itu tentang ibumu?"
__ADS_1
"Karena sejak awal dokter sudah memperingatkan dirinya resiko melahirkan dalam usianya tapi, tapi dia tetap bersikeras melahirkan Zaren." Helena menahan tangisnya. "itu hanya untuk menetapkan kedudukannya di dalam keluarga paman Tara."
"Jangan mengatakan ibumu seperti itu, mungkin dia punya alasan melakukan semua itu."
"Kau tidak tau dia melakukan hal yang sama padaku, dia meninggalkan aku dan Ayahku hanya untuk keserakahannya, lihat adikku korban dari keserakahannya juga." hati Helena terasa begitu perih karena mengenang semua kenyataan hidupnya.
"Hingga ayahku meninggal dia tidak kembali sama sekali tapi aku sekarang sudah dewasa bisa melindungi diriku sendiri, lalu bagaimana dengan Zaren dia masih kecil." Helena mendongak tidak mau menjatuhkan air mata, tapi tetap saja keluar cepat-cepat dia menyeka di sudut matanya
"Sudahlah ayo aku sudah selesai, jam makan siang juga sudah berakhir dari tadi."Helena tersenyum memberitahu Erfan bahwa dirinya baik-baik saja.
Erfan yang sejak tadi mendengarkan rasanya tidak tega, tubuh rapuh itu menahan begitu banyak beban dalam hidupnya, Erfan menarik tangan Helena membawanya kedalam pelukannya"
"Maaf, karena aku, kau membuka luka dihatimu lagi." pelukan Erfan benar-benar kelemahannya, Helena mengigit bibirnya menahan tangis.
"Tidak apa, aku baik-baik saja." Helena membalas memeluknya.
"Benarkah? Apa kau menerimaku sekarang?" goda Erfan membuat Helena tertawa kecil. Ia melepaskan pelukan dan melihat wajah Erfan lekat.
"Jangan khawatir Luna dan aku ada bersamamu, restu Luna adalah yang paling penting dari segalanya."
"Sungguh!" Helena seolah tidak percaya dengan ungkapan Erfan barusan.
"Tentu saja ayo kita pergi dari sini kau bisa masuk angin." Erfan melepas jasnya dan memakaikan pada Helena yang masih menatapnya
"Ada apa?"
"Kak terima kasih!" Helena memeluknya dengan perasaan lega, karena dirinya tidak dibenci karena latar belakangnya yang suram.
Terima kasih kak, aku sangat bahagia karena kalian!
...⚘⚘⚘...
__ADS_1
Helena berjalan menyusuri jalan setapak mereka disuguhi pemandangan laut yang sangat indah bersama Erfan yang terus mengengam tangannya.
Hingga masuk kedalam mobil dan kembali kekantor tapi Erfan tidak melepaskan tangannya malah mengenggam dengan erat.
"Ehem kenapa tanganku rasanya ada yang mengganjal apa ya?" goda Helena rasanya tangannya sudah berkeringat karena dari tadi digenggam olehnya.
"Kenapa kau tidak suka aku memegang tanganmu?" balas Erfan tiba-tiba terlihat kesal
"Tidak aku tidak bilang begitu."Helena membuang pandangan keluar jendela dengan menyembunyikan senyumannya
"Aku merasa tidak aman saja."
Cih alasan macam apa itu kak, kau tidak bisa berkilah, bodoh.
"Apa kau sudah menjemput Luna?"
"Anton sudah menjemputnya tadi." Sepanjang perjalanan Erfan tidak hentinya mengenggam tangan Helena hingga sampai dikantor ia tetap tidak melepaskan tangannya.
"Pak, kita sudah sampai." Helena ingin keluar tapi tangan Erfan mencegahnya.
"Aku tahu!" jawabnya dengan santai saja. "Berikan aku hadiah dulu."
"Hadiah?" Helena bingung sendiri hadiah apa yang dimaksud Erfan.
Erfan menarik tangan Helena hingga wajah mereka saling berhadapan dengan begitu dekat. Apa sih yang mau kau lakukan kak! ditambah lagi Erfan menarik tekuk Helena hingga tidak bisa berkutik.
Erfan mendekati wajah Helena dan mendarat ciuman di dahinya lama sekali yang membuat Helena melongo karena tidak menduganya.
Erfan menatap lekat wajah Helena yang memerah, Kenapa dia terlihat sangat imut jika malu begini? Erfan mengusap pipinya beberapa kali.
"Sudahlah kak aku pergi dulu." Helena tertunduk malu dan keluar dari mobil dengan sedikit berlari. Erfan tersenyum melihat tingkahnya yang begitu lucu
__ADS_1