
...Happy reading ...
"Semua!" Bukan hanya karyawan wanita itu yang terkejut begitu pun dengan Helena yang melongo tidak percaya dengan perkataan Erfan
"Ya semua yang dicoba tadi!" Erfan berkata dengan santainya bahkan tidak ada ekspresi sedikit pun
"Baiklah tuan!" Karyawan itu tersenyum senang mengambil semua gaun tadi untuk dikemas.
Kaki Helena terasa gemetar melihat Erfan berjalan kearahnya dengan tatapan sulit diartikan tapi sangat menyebalkan di mata Helena.
"Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Erfan dengan senyum miring dihadapan Helena yang ingin pingsan rasanya saat itu juga..
"Luna suka ayah, semuanya indah!" Luna menjawab di belakang mereka.
Helena hampir tidak bisa menopang tubuhnya bahkan mencengkeram lengan baju Erfan untuk bisa berdiri.
"Pak, apa Anda serius?" Tanya Helena dengan wajah yang terlihat mulai pucat.
"Tentu saja!" Erfan pergi dari hadapan Helena yang masih terpaku dengan nasipnya sendiri.
"Baiklah kalau begitu selanjutnya kita akan pergi membeli hadiah untuk nenek,"
Helena menganti pakaiannya dan ikut serta bersama Luna dan Erfan untuk membeli hadiah untuk neneknya Luna.
Mereka masuk kedalam toko aksesoris yang menjual berbagai aksesoris seperti gelang, jam tangan, kalung dan lainnya, Helena masuk dengan mengandeng Luna.
Terlihat banyak barang yang dipajang membuat mata Helena berbinar karena indahnya aksesoris.
"Kak Helena suka?"tanya Luna dengan polosnya di jawab oleh Helena dengan mengangguk cepat terus melihat pemandangan didepan matanya itu.
"Mbak saya ingin lihat yang ini?" Tunjuk Helena pada salah satu anting emas putih bermatakan batu warna delima.
Karyawan toko itu memperlihatkan pada Helena serta menjelaskan tentang anting itu, Helena juga minta melihat beberapa model anting lainnya.
"Wahh indah sekali!" Kagum Helena hingga matanya berbinar
"Kau suka?"tanya Erfan yang tiba-tiba berdiri di sebelah Helena, ia menoleh melihatnya.
"Tidak hanya melihat saja, ini terlalu mahal!" Helena menampakkan deretan giginya.
"Ini!!" Erfan mengetuk kaca menunjuk sebuah kalung yang terlihat sederhana tapi mewah.
__ADS_1
Erfan meletakan paper bag yang dipegang mulai melihat kalung yang baru saja dipilih terlihat sangat cocok untuk perempuan ini.
Erfan melepas pengaitnya dan memakaikan pada Helena yang masih berbinar melihat beberapa anting. Helena terpaku saat menyadari Erfan dibelakangnya.
Sesuatu yang dingin menyentuh lehernya disusul dengan jemari yang menyentuh tekuknya seraya mengaitkan sesuatu.
"Bagaimana?" Tanya Erfan tepat di sisi Helena yang tiba-tiba terpaku dengan jantung berdegup kencang.
"Kak Helena cantik!" Puji Luna yang memang Helena sudah manis dari awal.
"Cantik tuan, cocok dengan nonanya," jawab karyawan itu ikut memuji.
"Ini?" Helena menoleh melihat Erfan di sebelahnya dengan bingung kenapa dirinya diberi kalung yang cukup mahal.
Tapi Erfan tidak mengubrisnya malah mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar semua tagihannya.
"Bungkus anting ini sebagai hadiah, dan ini untukmu," ucap Erfan membuat Helena tidak bisa menyembunyikan senyumnya hingga pipinya memerah
"Jangan lupa dibayar kredit!" bisik Erfan tersenyum miring seraya mengedipkan sebelah mata dan berlalu setelah meraih paper bag berisi gaun putrinya
Helena yang melihat tingkahnya hanya bisa melongo seolah tidak percaya dengan yang barusan di dengarnya
"Maaf mbak saya gak jadi belinya, ya?" Helena Cepat-cepat melepaskan kalung dan menyerahkan pada karyawan perempuan itu lagi.
"Maaf nona, disini ada peraturan jika sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi kecuali Anda jual dengan harga yang lebih murah," balasnya dengan disertai senyum ramah.
"Sama aja rugi dong!" Helena pun mengikuti langkah Erfan dan Luna keluar dari toko aksesoris ini dengan menenteng paper bag miliknya.
Helena tertunduk mengikuti langkah mereka tidak ada semangat lagi untuk sekedar melihat barang yang ada di seluruh mall ini.
"Kak Helena mau es cream?" Tanya Luna menoleh kebelakang.
Helena mengeleng kepala dengan wajah ditekuk "Tidak!"
"Ayah apa yang ayah katakan tadi kenapa kak Helena jadi murung begitu?" Luna tiba-tiba kesal pada ayahnya
"Memangnya Ayah mengatakan apa?" Erfan balas bertanya seolah tidak bersalah
"Sudahlah!" Luna mencebik dan mengalihkan pandangan kesegala arah.
"Sudah jam makan siang, apa kita cari makan disini saja?" Erfan melihat jam ditangannya sekilas
__ADS_1
"Boleh!" Luna tersenyum seraya mengangguk dengan bersemangat
"Ada restoran didepan kita makan disana saja," ajak Erfan berjalan kearah restoran itu
Erfan duduk bersama putrinya disusul oleh Helena dengan masih tertunduk duduk bersebelahan dengan keduanya karena satu meja hanya tiga kursi.
"Mau pesan apa?"tanya Erfan pada Helena karena dirinya sudah memesan untuk Luna dan dirinya terlebih dahulu.
"Apa saja yang penting murah," jawab Helena tidak ada semangat.
Tidak butuh waktu lama menunggu pesanan datang, seorang pelayan restoran menata makanan yang dipesan di atas meja berbentuk bundar.
"Salad?" Helena membolak balik isi salad yang bahkan tidak ada daging.
"Kebetulan disini salad sangat murah," ucap Erfan benar-benar mengejek Helena
Apa mau dikata lagi semua sudah terlanjur, Helena harus menerima walau dirinya tidak begitu suka dengan salad yang berisi sayur semua.
"Kak Erfan! Luna!" Sapa seorang perempuan mendekati mereka menyapa ayah dan anak itu.
"Mona, sedang apa kau disini?" Tanya Erfan sekedar basa-basi.
"Hanya jalan-jalan saja kak, boleh aku duduk di sini kan?"tanyanya langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Erfan sebelum dijawab seakan tidak melihat keberadaan Helena.
"Ya tentu saja,"
"Eh Helena ya, ada juga disini, kalian sedang apa disini?"
"Ya makanlah, memangnya kau tidak bisa lihat?" Balas Helena ketus terus mengunyah saladnya karena dirinya tidak dianggap tapi kenapa kau marah Helena?
"Ehemm, kau ke sini dengan siapa?"tanya Erfan
"Dengan teman, aku terlanjur lapar jadi pamit padanya untuk mencari makan," balas Mona
"Ohh." Erfan melanjutkan makan makanannya, sementara Luna sudah menghabiskan setengah pasta keju miliknya
Mona pun ikut memesan makanan dan makan bersama dengan sesekali mengenang masa lalu dengan Erfan hingga tertawa kecil.
Mona kembali menyusul temannya sementara itu Erfan mengajak putrinya pulang karena hari sudah beranjak sore.
*****
__ADS_1