
...Happy reading...
Beberapa saat sebelum keadaan naas itu terjadi saat Anton baru datang dan langsung bergosip dengan Sindy karena ada rahasia besar yang perlu diketahui oleh mereka berdua.
"Eh Sin, loe ada datang ke pesta Nyonya Zergano semalam?"
"Gak, Anak gue tiba-tiba rewel semalem, untung pagi ini udah baikan," jawab Sindy melirik Anton sekilas.
"Helena mana? gak datang dia, mereka pasti melakukan sesuatu semalam!" Umpat Anton memikirkan yang tidak-tidak tentang Helena dan Erfan.
"Kenapa dengan Helena? dia baru aja masuk kedalam ruangan pak Erfan. emang dia melakukan apa?" Sindy menaikan sebelah alisnya karena bingung dengan tingkah Anton pagi ini yang membahas tentang Helena.
"Nih gua kasih informasi, Helena sama pak Erfan tuh deket banget tau gak, mungkin aja dia istrinya pak Erfan,"
"Istri loe gak salah? batu es itu punya istri dan itu Helena?" Sindy malah tergelak tidak percaya menganggap Perkataan Anton sebuah lelucon
"Issh loe gak percaya sama gue! anaknya pak Erfan itu panggil Helena dengan sebutan Mama!" jelas Anton
"Apa! yang bener dong kalau ngomong loe, Ton!" Sindy seakan tidak percaya bahkan melonggo.
"Bener yang gua bilang, mana ada gua bohong kalau bergosip, yang ada gua memang cari kebenaran tau!"
"Aku sulit untuk mempercayainya." Sindy mengeleng kepala beberapa kali karena tidak habis pikir.
"Aishh gua serahin ini sama pak Erfan dulu, nanti kita lanjut oke." Anton teringat sesuatu lalu bangkit dari kursinya berjalan kearah ruangan atasannya.
Tok..tok..
Pintu diketuk beberapa kali dan masuk karena itu kebiasaan jika ada hal mendesak yang harus diberikan pada bosnya.
"Bos ada- ma-maaf saya tidak melihat apapun," ucap Anton tergagap, ia kemudian berbalik dengan sigap karena terkejut tidak sengaja melihat adegan dewasa.
"Anton kemari! ini tidak seperti yang kau pikirkan!" teriakan Erfan tidak dipedulikan, Anton bersandar pada pintu dengan memegang dada nya yang deg deg an.
__ADS_1
"Kenapa loe?" tanya Sindy bingung melihat Anton yang tiba-tiba pucat
"Mereka sedang...." Anton memberi isyarat kedua tangannya dikerucutkan dan mempertemukan ujung jemarinya beberapa kali.
Tidak jauh beda dengan Anton, Sindy sekarang benar-benar melonggo seakan perkataan Anton menari-nari di pikirannya.
Sementara keduanya masih dalam posisi yang sama begitu intim jika dilihat.
"Maaf pak!" Helena mengambil jam tangannya dari tangan Erfan dan bangkit dari atas tubuhnya setelah mendapatkannya.
Mereka berdua memperbaiki penampilannya, Helena masih berdiri di depan meja Erfan tanpa berniat pergi n
"Pak kenapa gajiku sangat sedikit," iba Helena dengan wajah sedihnya
"Jadi berapa yang kau inginkan?" tanya Erfan seakan akan mengabulkan permintaan perempuan ini.
"Sesuai kesepakatan 50/50 pak!" balas Helena mantap
"Kau!" Helena menunjuk wajah licik Erfan yang ingin diremukkan
"Itu kerjakan berkas itu hingga selesai sebelum jam makan siang, mungkin kamu akan dapat bonus dari kerja kerasmu!" Erfan malah menyuruh Helena mengerjakan pekerjaannya
"Erfan Zergano!" geram Helena kemarahannya sudah berada di ujung jarum
"Apa yang kau lihat," bentak Erfan lagi tidak membuat Helena takut
Helena meremas tangannya kesal kemudian bersimpuh duduk di lantai dengan wajah sedih mungkin saja Erfan akan iba.
"Kau sungguh tega pada gadis kecil lemah seperti ku ini!" Helena tertunduk menangisi keadaannya sendiri
"Lemah? Bagaimana bisa wanita lemah berteriak dikantorku, ini kerjakan diluar dan panggil Anton masuk!" Bentak Erfan kali ini terlihat jika dia benabenar-benar marah.
Kalau tau begini aku lebih baik kerja di perusahaan paman Tara setidaknya tidak tersiksa batin begini:
__ADS_1
Helena bangkit memeluk berkas dengan wajah kesal keluar memanggil Anton yang berdiri di dekat pintu juga.
"Kau dipanggil oleh pak Erfan kak Anton," ucap Helena tidak bersemangat lagi dengan gontai ia berjalan kearah mejanya.
"Oh baiklah!" Anton pun masuk melihat Helena dengan curiga tidak beda jauh dengan Sindy.
Helena membanting dokumen di atas mejanya dan duduk dengan kasar yang tidak luput dari penglihatan Sindy yang melihat perubahan perempuan itu saat masuk tadi.
"Kamu kenapa Helena?" tanya Sindy membuka pembicaraan antara mereka
"Aku kesal kak, coba kak sindi kira nih ya, aku kerja rajin, deteng gak pernah telat tapi Pak Erfan kejam banget sama aku!" Lirih Helena dengan wajah sedihnya.
Kejam ada bermacam-macam maksud Helena yang mana sih?
"Kejam gimana apa dia mau menyiksa kamu gitu?" Sindy kembali bertanya karena penasaran.
Helena mengangguk membenarkan perkataannya
"Bahkan gajiku kak, aku seharusnya dapat gaji 10 juta tapi dipotong cuma 250 rb aja aaa!" teriak Helena frustasi
"Lah kok bisa?"
"Karena Erfan kejam!" kesal Helena menangkup wajahnya di atas meja
"Maunya aku tinju wajahnya itu yang seperti batu itu!" Helena meninju angin didepannya beberapa kali karena kesal.
"Gini kak, tiap hari aku membersihkan rumahnya, memasak untuknya, mencuciĀ juga tapi gajiku cuma segini, apa pantas?" tanya Helena perkataan itu lolos dari bibirnya.
"Kamu tinggal dengan pak Erfan?" tanya Sindy yang sudah terlalu curiga sontak saja Helena mengangguk membenarkan dugaan Sindy.
"APA!!"
****
__ADS_1