Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
84. Patah


__ADS_3

...Happy reading...


Helena bergegas keluar setelah lepas dari Erfan dari pada ketahuan dengan yang lain bisa bahaya. Apa lagi Helena hanya punya dua rekan kerja mungkin saja dirinya dikira berhubungan dengan boss sejak awal.


Mereka tadi bukan hanya suap-suapan bahkan Erfan sudah berani memeluk dirinya yang membuat Helena sport jantung.


Bagaimana tidak! saat Helena sedang fokus kembali menata tempat bekal makan siang Helena malah dikejutkan dengan Erfan yang duduk di sebelahnya dan memeluk tubuhnya.


Awalnya Helena ingin berontak tapi Erfan malah mengeratkan pelukan yang membuat Helena terpaku.


"Pak apa yang kau lakukan?"


"Diamlah, kau belum menerimaku atau menolakku jadi biar aku memelukmu sebentar." Erfan merengkuh tubuh Helena dengan memejamkan matanya mencium aroma tubuhnya yang membuat dirinya tenang.


Entah berapa lama hal itu terjadi Helena juga tidak tau yang dirasakan hanya nyaman dan hangat, mengingatnya membuat Helena malu sendiri.


Aah apa tadi aku juga menikmati pelukannya!! kau benar-benar! gila!. Helena memegang pipinya sendiri yang terasa panas


"Hay Helena cepat sekali kau kembali, apa sudah selesai makan siang?" sapa Sindy yang baru kembali dari makan siang dan duduk di kursi kerjanya.


"Eh! Sudah kak tadi." Helena kikuk mengingat makan siang malah wajah Erfan yang ada di pelupuk matanya. bayangan Erfan yang tersenyum padanya terlihat sangat tampan.


"Ada apa Helena? Kenapa kau tersenyum terus?"


"Tidak ada kak, ehem. Tidak ada apa-apa kok!" Helena berusaha agar menghilangkan senyum diwajahnya.


Helena tiba-tiba mengingat tentang sahabatnya Aliza yang memerlukan tempat tinggal untuk waktu yang agak lama sekitar dua atau tiga bulan.


"Oh ya kak Sindy apa kau punya rekomendasi tempat tinggal gak? Yang layak huni tapi murah." tanya Helena mendorong kursinya mendekati Sindy


"Untuk temanmu ya? Emm sepertinya aku tidak tau Helena, soalnya aku tinggal dengan Suami dan anakku jadi aku tidak tau tentang itu." jawab Sindy masih berfikir mungkin ada temannya yang punya tempat tinggal untuk temannya Helena.

__ADS_1


"Oh begitu ya?"


"Coba tanya sama Anton kayaknya dia sedang cari teman satu apartemen sewanya juga deh," balas Sindy masih mengingat .


"Gaji kak Anton kan banyak bisa beli apartemen kenapa apartemen sewa?" Helena heran sendiri jelas-jelas Anton kaya tapi hidup di apartemen sewa.


Mungkin dia bosan hidup mewah! Helena tertawa kecil memikirkan orang kaya jaman sekarang.


"Itu aku gak tau juga sih tanya sama dia saja." Sindy mengibaskan tangan dirinya juga tidak tau manahu tentang pria itu.


"Emm oke deh kak." Helena menarik kursi kerjanya kembali ke mejanya untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Nah itu dia, dari mana kamu Ton!" tunjuk Sindy melihat Anton yang baru masuk.


"Biasalah apalagi kalau bukan kerja." Anton mendudukkan dirinya dikursi dan berputar melihat keduanya


"Noh tuh, Helena katanya cari tempat tinggal buat temennya."


"Hah? Beneran Helena!" Anton tiba-tiba bersemangat bahkan menegakkan tubuhnya.


"Oh boleh banget aku baru pindah gak sampai seminggu kebetulan juga." Anton ikut menoleh padanya.


"Mahal gak kak?"


"Gak kok kan patungan, ada sisa satu kamar tapi perabotan udah lengkap jadi bawa barang dan badan bisa langsung tinggal."


"Beneran kak!" tanya Helena dijawab dengan anggukan oleh Anton


"Oke deh kalau gitu kak, besok aku kenalin kalian berdua, dan bisa langsung lihat rumahnya sekalian." Helena mengenggam tangan Anton dan menggoyangkan beberapa kali.


"Oke sip deh!"

__ADS_1


"Hmm!" Helena mengangguk dan juga tersenyum senang akhirnya sangat mudah menemukan tempat tinggal untuk sahabatnya.


Sementara Erfan yang masih di ruangannya melihat kedekatan mereka berdua membuat kepala seperti mengeluarkan asap.


Bahkan pena yang tidak bersalah pun digenggam erat hingga patah menjadi dua bagian.


...🌹🌹...


Helena kembali larut dalam pekerjaannya sesekali menanyakan tentang hal yang tidak dimengerti pada Sindy seperti biasanya.


Dan juga menyerahkan beberapa dokumen pada Erfan lagi, seperti sekarang dia sudah menyusun dokumen untuk dibawa pada Erfan. Helena mendekap dokumen dalam pelukannya.


Tok..tok...


Erfan membenahi penampilannya sendiri entah untuk apa dan duduk tegap menyambut Helena.


"Masuk sayang!" Goda Erfan karena tau yang masuk adalah Helena


Issh dasar Duda ini beraninya memanggil seperti itu bagaimana jika yang lain mendengar perkataannya!!Cebik Helena berjalan masuk menyerahkan dokumen pada Erfan


"Duduk sayang!" Bukannya melihat dokumen yang dibawa Erfan malah melihat Helena dengan senyum manisnya.


"Ada apa?"


"Sini berdiri di sampingku!" Erfan melambaikan tangan agar Helena mendekati


"Tidak perlu aku hanya ingin menyerahkan ini, pak." Helena tersenyum kikuk seraya menyerahkan dokumen ke hadapan Erfan.


Helena mundur hingga menciptakan jarak antara mereka yang membuat Erfan menatapnya dengan tatapan dingin.


Apa memang dari awal dia tidak menyukaiku? lalu kenapa aku bersikeras ingin dengannya! batin Erfan beralih melihat tumpukan dokumen yang diberikan oleh Helena

__ADS_1


"Baiklah kau boleh keluar." ucap menyuruh Helena keluar dari ruangannya dengan nada dat


**


__ADS_2