Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
37. Salah dan Kalah


__ADS_3

...Happy reading ...


Perkataan Erfan terpotong melihat Luna berlari kecil menghampiri dirinya dan juga Helena. "Kak Helena hebat!" Pujinya


"Loh kok dia sih yang hebat!"


"Ayah jalannya sempoyongan kayak gak semangat lihat gara- gara ayah banyak tuh buahnya yang belum dipetik!" Tunjuk Luna pada buah anggur yang terlewatkan.


"Itu salah dia seharusnya siap sedia dong, kenapa ayah yang salah?" Erfan merasa tidak terima


"Ayah ngalah sama perempuan dong!" Luna juga tidak mau kalah


"Loh kok gitu sih!"


"Awas saja kalau kita tidak menang!" Ancam Luna kesal dengan ayahnya


"Luna sayang kok gitu sih sama ayah?" Erfan yang semula duduk, bangkit dan menyusul putrinya yang pergi ke arah teman-temannya.


Tapi Luna sudah duduk di antara teman-temannya lagi membuat Erfan mengurungkan niatnya untuk membujuk putrinya Luna. Erfan kembali duduk di sebelah Helena dengan malas, sementara itu Helena hanya bisa menahan tawa melihat pertikaian kecil mereka.


"Bapak kenapa lagi sih?" Tanya Helena membuat Erfan menoleh melihatnya dengan malas


"Bukan urusanmu!" Balas Erfan ketus tapi ia melihat telapak tangan Helena berdarah yang sudah membasahi tangannya."Itu.. tanganmu berdarah!"


"Ah ini hanya luka kecil, tenang aja pak tadi tidak sengaja kena gunting, bukan masalah besar kok," kilah Helena tersenyum seraya menutup bagian tangannya yang terluka


Erfan mengambil sapu tangan di sakunya dan juga air mineral yang tadi diantar oleh Luna "kemarikan tanganmu!"


Hah? Dia bilang apa?


Seakan tau isi pikiran Helena, Erfan mengulangi perkataannya. "Tanganmu yang terluka, berikan padaku!"


Helena menyerahkan tangannya pada tangan Erfan dengan khawatir ia membasuh tangan Helena dengan air yang masih mengeluarkan darah.


"Untung Luna tidak melihat lukamu atau dia akan khawatir dan menyalahkan aku lagi!" Umpatnya


"Katakan jika sakit!"


"Ini hanya luka kecil jangan khawatir," balas Helena mengibas tangan kirinya yang tidak terluka.


"Luka kecil bahkan darahnya tidak mau berhenti apa kau tidak takut kehabisan darah?"


"Tidak."

__ADS_1


"Sudahlah, permisi apa kau punya P3K?" tanya Erfan pada salah satu guru yang ingin menghitung jumlah anggur yang mereka kumpulkan


"Ada, akan saya ambilkan dulu pak,"


Melihat guru itu menuju mobil yang berbeda dari lainnya dan kembali dengan kotak P3K di tangannya.


"Shh apa yang kau lakukan?" keluh Helena tiba-tiba merasa sakit di telapak tangannya.


"Kau bilang luka kecil seharusnya tidak masalah aku mengelapnya dengan sapu tangan." Erfan tersenyum licik tapi sayangnya ia terlihat sangat tampan di mata Helena.


"Ini kotak P3K apa lukanya parah, anda bisa membawanya pulang." tanya guru itu ikut merasa khawatir.


"Tidak ini akan baik-baik saja setelah diberi obat." Jawab Helena cepat


"Apa ada?" Perkataan guru tampan itu langsung terpotong oleh ucapan Erfan.


"Aku akan mengurusnya lanjutkan saja pekerjaanmu," ucapnya ketus seakan tau niat guru pria itu.Guru pria itu mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya menghitung anggur yang dipetik.


"Aw aw.. shh sakit!" Keluh Helena bukan karena ulah Erfan tapi obat luka memang perih


"Kau bilang ini luka kecil seharusnya tidak sakit segitunya 'kan?" ejek Erfan lagi membuat Helena jengah


"Kalau begitu biarkan aku pakai sendiri obatnya." Helena menarik tangannya dengan paksa tapi tidak dilepaskan oleh Erfan


Helena memilih diam sekarang memperhatikan tangannya yang sedang diberi obat dan dibalut dengan perban beberapa kali hingga akhirnya selesai.


"Selesai, entah bagaimana caramu memasak jika tanganmu terluka." Erfan tiba-tiba lapar mengingat masakan Helena


"Maaf seharusnya aku bisa menjaga diriku sendiri." Helena tertunduk.


"Perhatian semuanya, pemenangnya sudah ditentukan silahkan para semua orang tua berkumpul dan kembali bersama putra dan putrinya!" Ujar guru yang diduga sebagai panitia menginstruksikan pada semua orang.


Helena dan Erfan berjalan beriringan ke arah Luna hingga tepat di depannya. "Tangan kak Helena kenapa?"tanyanya


"Tidak ada sayang ini hanya luka kecil,"


"Kenapa diperban apakah sakit?"tanyanya khawatir


"Sedikit!" Helena tersenyum


"Apa Ini karena ayah ya?"


"Loh kok semua dituduhin ayah sih?" Erfan benar-benar membuat tidak terima karena dituduh sedari tadi.

__ADS_1


"Bukan, Luna, ini karena kecerobohan kakak sendiri dan ayah yang mengobatinya barusan,"


"Benarkah itu?"


"Jadi gak baik menuduh begitu, ayo minta maaf sama ayah ya?" Pinta Helena tidak mau melihat keduanya bersitegang lagi.


"Maaf ayah Luna salah,"


"Baik ayah maafkan sayang." Erfan membawa Luna dalam gendongannya seraya memeluknya.


"Baiklah perhatian semuanya pemenang lomba yang diikuti oleh para orang tua dari beberapa murid ada di tangan saya, pemenang ketiga jatuh kepada kedua orang tua Nicho, selamat!" Semua bertepuk tangan dan bersorak.


"Pemenang kedua jatuh kepada  .....orang tua Rachel, selamat!" Kembali semua bersorak dan juga bertepuk tangan begitu pun dengan Luna.


"Apa kita juara pertama?" Tanya Luna mengenggam erat tangan kiri Helena berdoa agar menang.


Sepertinya tidak!


"Dan pemenang pertama jatuh kepada.... keluarga.... Caline, selamat untuk para juara!" Semua bersorak seakan kalah atau menang tidak masalah yang penting seru.


"Hah? Kok kita gak menang!" Tanya Luna, "Ini salah ayah pokoknya!" Luna kesal.


"Gak bisa gitu dong!" Erfan lagi-lagi tidak terima.


"Sudah-sudah yang penting kita sudah ikut kan? Gak perlu jadi menang untuk mendapatkan hadiah yang penting kebersamaan betul tidak?"


Erfan dan Luna terlihat berfikir sejenak dan saling memandang, benar mereka salah.


"Benar seharusnya Luna senang ayah yang sibuk bisa menemani Luna disini, dan Kak Helena yang baik juga ada disini!" Luna meraih tangan ayahnya


"Maaf ayah seharusnya Luna tidak menyalahkan siapapun karena sebuah lomba." Permintaan maaf Luna membuat Erfan tersenyum dan mengendong putrinya seraya berputar.


"Maafkan ayah juga!"Erfan  menghentikan aksinya tidak mau membuat Luna pusing.


"Permisi ini hadiahnya anggur yang kalian petik untuk dibawa pulang, terima kasih telah mengikuti acara ini bersama putri kalian." Salah seorang guru memberi anggur yang mereka petik tadi.


"Terima kasih pak guru, Luna akan buat cake dengan anggur ini ia kan ayah?"


"Benar, kita akan membuatnya bersama,"


Setelah seharian yang melelahkan semua berbenah dan kembali masuk kedalam bus untuk pulang sementara Helena, Luna pulang kerumah dengan pulang bersama Erfan.


******

__ADS_1


__ADS_2