
Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam, Anton sibuk dengan ponselnya, sebenarnya bukan sibuk tapi merasa gugup dan Aliza mengengam erat ujung roknya entah mengapa dirinya juga merasa gugup seperti orang di sebelahnya .
Hingga akhirnya taksi berhenti tepat didepan gedung apartemen sederhana tapi lumayanlah tidak terlalu buruk, tapi tidak bisa dikatakan jelek juga.
"Pak saya sudah transfer bayarannya." ucap Anton pada supir taksi online.
"Baik terima kasih." balasnya dengan senyum
"Turunlah apartemenku ada di lantai 9, lewat sini!" Ajak Anton berjalan terlebih dahulu menyusuri lobi hingga sampai di lift
Aliza mengikuti langkahnya seraya mengedarkan pandangan melihat sekitar dan juga ikut masuk kedalam lift bersama Anton.
Pintu lift tertutup hanya ada mereka berdua dalam lift yang terasa begitu luas.
Tingg...
Mereka sampai di lantai sembilan begitu saja, Aliza kembali mengikuti langkah Anton saat dia keluar dari lift hingga mereka tepat berada didepan pintu Apartemen.
Anton menekan password enam angka kemudian pintu terbuka lebar, Anton masuk terlebih dahulu menyalakan lampu hingga ruangan terlihat terang benderang.
"Masuklah jangan berdiri di depan pintu, ganti sepatumu." Anton menunduk memberi sandal miliknya yang biasa dipakai didalam rumahm
Aliza mengangguk samar mengganti sepatunya dengan sendal penghuni rumah yang kebesaran tentunya dan begitu Aliza masuk terlihat rumah tertata tapi dengan rak buku disudut ruangan, sofa warna abu-abu, dindingnya bewarna putih sangat cocok.
"Nah ini rumahnya bagaimana?" tanya Anton yang hanya sekedar basa-basi dari pada diliputi sunyi nantinya. Lagian ini bukan menjadi penentu mau atau tidaknya penghuni baru ingin tinggal.
"Lumayan bagus juga, boleh sih!" puji sangat klop dengan tampilan awal apartemen ini.
__ADS_1
"Baiklah aku tunjukkan yang lainnya dan ini akan jadi kamarmu di sebelah sini, kamarku di sini." Anton menunjuk pintu kamar yang akan di tempati oleh Aliza dan juga kamarnya yang pintunya saling berhadapan.
Aliza melihat isi didalam yang sudah lengkap dengan tempat tidur, lemari dan juga meja serta kursi untuk dirinya bekerja nantinya.
"Bagus kamarnya lumayan luas, kalau aku sih setuju, kamar mandi ada di kamar juga." Aliza mengangguk karena memang kamar ini cocok untuk dirinya sendiri.
"Bagus, biar aku tunjukkan tempat lain, ini dapur, ada mesin cuci, kulkas dan ruangan kecil ini alat kebersihan." Anton menjelaskan semua tentang rumah ini pada calon penghuni baru yang akan tinggal bersamanya nanti.
Aliza mengangguk samar terus mengikuti langkah Anton yang menjelaskan tentang semua isi apartemennya.
"Jika kau lelah duduklah, kau ingin minum sesuatu?" tanya Anton masih berdiri di sebelah Aliza.
"Apa saja boleh, Terima kasih." Aliza sedikit menyungingkan senyum kemudian mengedarkan pandangan melihat beberapa pajangan di ruang tamu sederhana ini.
Anton kembali dengan membawa dua kaleng minuman bersoda yang memang disimpannya untuk dirinya sendiri.
Perbincangan mereka masih berlanjut membahas tentang kehidupan masing-masing hingga tentang Hewan yang pernah mereka peliharaan.
**
Sepanjang perjalanan tadi Helena hanya bisa kebingungan dengan tingkah Erfan terus menyuruhnya pulang. entah untuk apa.
Setelah berjalan kaki dari halte Helena akhirnya sampai di depan gedung apartemen yang menjulang tinggi mungkin mencapai 30 lantai.
Helena berjalan menyusuri lobi hingga sampai didepan lift untuk naik ke lantai apartemen Erfan. hingga akhirnya Helena sampai didepan pintu Apartemen, Helena mengetik beberapa angka hingga pintu bisa terbuka.
Terlihat lampu sudah menyala menandakan pemilik rumah sudah pulang. Seperti sudah jadi kebiasaan Helena mengganti sepatunya dengan sendal dan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Helena mengedarkan pandangan melihat sekitar hingga menemukan sosok ayah dan anaknya yang sepertinya tertidur dengan saling memeluk menunggu kedatangannya dengan Tv masih menyala.
Helena tersenyum lebar karena memikirkan tentang mereka, begitu manis menunggu kedatangan dirinya. Anggap saja ini seperti obat baginya dari lelahnya bekerja walau kenyataannya tidak begitu.
"Mereka kenapa tidur disini sih." Helena menyelimuti tubuh keduanya agar tidak kedinginan dengan udara dingin AC.
Lelahnya tiba-tiba menguar entah kemana, tanpa mengganti pakaian kantornya Helena mulai berkutat didapur memasak makan malam untuk mereka berdua yang sudah lapar menunggu dirinya pulang sedari tadi.p
Cincang-cincang, potong-potong bahan yang akan dimasak, Helena memasak tidak terlalu banyak karena sudah malam dan biasanya mereka huga tidak makan banyak.
Setelah 30 menit berkutat didapur Helena kembali menghampiri kedua ayah dan anak yang masih tertidur pulas tidak tega membangunkannya, tapi tidak baik mereka berdua tidur dengan keadaan belum makan.
"Kenapa mereka sangat mirip, hidung, alis bahkan bibirnya terlihat sangat mirip." Helena duduk di depan keduanya memandang wajah damai yang ikut membuatnya tenang.
Helena akhirnya memutuskan membangunkan mereka berdua dari pada makanannya nanti dingin sendiri dan tidak tersentuh.
"Kak Erfan, Luna bangun sayang." Helena mengoyang bahu Erfan beberapa kali untuk membangunkannya.
Benar saja ia mulai bergeliat dan membuka matanya perlahan disusul dengan Luna juga membuka matanya.
"Kau sudah pulang?"
"Mama sudah pulang?" tanya mereka bersamaan terlihat sangat imut.
"Sudah bahkan aku sudah memasak, ayo bangun kita makan!" ajak Helena pada Luna sementara Erfan masih terpaku di tempatnya. Baru bangun disambut dengan senyuman Helena benar-benar sebuah berkah baginya.
Erfan tersenyum lebar dan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum akhirnya mereka makan bersama dengan lahap seperti biasanya
__ADS_1
***
Dukung terus karya Author ya dengan memberi bunga🌷, kopi ☕ atau nonton iklan 10 kali 100 poin jangan lupa ya!! Author tunggu. 6