Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
52. Sejauh itu!


__ADS_3

...Happy reading...


Erfan menampilkan senyum manisnya dan menghampiri ibunya dan Luna serta membawa Helena yang masih didalam rangkulannya.


"Mama, aku datang!" Sapa Erfan tersenyum senang masih  berdiri disebelah Helena


"Bibi!" Sapa Helena dengan ramah dan tersenyum canggung


"Erfan, akhirnya kau datang, Helena sini juga cepat duduk di dekatku!" Ibu Erfan menepuk sofa disebelahnya menyuruh Helena duduk bersamanya.


"Oh ya ini kakeknya Luna," ibu Erfan memperkenalkan suaminya


"Halo paman, anda terlihat masih sangat tampan," pria paru baya itu hanya mengangguk samar bahkan tidak menampilkan senyumnya


Kenapa dengan paman ini? Apa aku salah bicara lagi hingga membuat dia marah?


"Ayo duduk di sini!" Ucap ibu Erfan lagi dengan senyum mengembang di bibirnya.


Helena menoleh melihat Erfan meminta persetujuan darinya dibalas anggukan menandai dirinya setuju.


Perempuan ini benar-benar totalitas dalam akting bahkan meminta izin dulu.


"Apa yang kau lihat, Erfan tidak akan pergi jauh kan?" tanya ibu Erfan mengoda mereka,dan untuk kedua kalinya Nenek Luna menepuk sofa disampingnya agar Helena duduk disebelahnya


"Iya ma!" Erfan tersenyum kikuk seraya mengaruk tekuknya sendiri yang tidak gatal.


"Ma- eh kak Helena duduk aja sini-sini!" Luna melambaikan tangan agar Helena mendekat. Dengan patuh Helena berjalan kearah nenek Luna dan duduk disebelah dengan gugup


"Wah makin cantik kamu ya, bener gak Luna impian banget punya menantu seperti kamu." puji ibu Erfan gemas sendiri, ditambah bahagia sebentar lagi mereka akan bersama.


"Bener nek?" Luna mengacungkan dua jempolnya membenarkan perkataan neneknya.


"Kalian bisa saja," ucap Helena tersenyum kikuk menyampirkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga.Erfan


"Kamu beneran cantik kok!" Balas Erfan membuat Helena yang mendengar hal itu menoleh kearah Erfan dengan malu hingga pipinya bersemu merah.

__ADS_1


"Nah kan dia aja suka sama kamu," makin malu Helena makin dirinya digoda oleh ibu Erfan.


Erfan seraya mengedarkan pandangan melihat orang yang mulai memenuhi gedung, melihat beberapa relasi yang juga datang


"Ma aku kesana dulu ada bertemu beberapa teman!" pamit Erfan diangguki oleh ibunya hingga Erfan pun berlengang pergi setelah mendapatkan persetujuan ibunya.


Helena merasa tidak nyaman berada di antara mereka ia hanya menampilkan senyuman canggung tidak berani menimpali pembicaraan mereka.


"Bibi, aku ke toilet dulu ya?" pamit Helena mulai merasa tidak nyaman.


"Iya kami akan menjaga Luna disini," balasnya singkat


Seperti merasa pengap berada di dalam kerumunan orang ramai apa lagi Helena hanya wanita biasa bukan siapa-siapa yang memang tidak mengerti tentang pesta ini, ia memilih duduk di atas kloset menenangkan diri.


"Baik sayang tunggu aku di ballroom  ya, jangan kau tidak boleh masuk kedalam toilet wanita, dahh...umuaach byeee!" Ucap wanita yang diduga ada di sebelah toiletnya.


Sepertinya aku pernah mendengar suaranya tapi dimana ya?


"Untung kaya aku bisa memanfaatkan nya, Dasar bodoh." Ucapnya lagi


Helena yang sudah mengenali pemilik suara, bergegas keluar dari toilet, tapi betapa terkejut dirinya saat keluar ada yang menarik tangannya.


"Siapa kau lepaskan aku!" Bentak Helena berusaha berontak supaya lepas dari pria ini.


"Sayang kita bertemu lagi!" Pria ini mengedipkan sebelah mata menggodanya.


Deon! Bukankah dia Casanova yang dibilang Aliza hari itu, kenapa dia ada di sini!


"Ku bilang lepaskan tanganku!" Kesal Helena terus meronta agar tangannya terlepas.


Tapi bukannya melepaskan tangannya tapi Deon malah menarik tangan Helena hingga ia jatuh ke dalam pelukannya.


"Kau benar-benar cantik izin kan aku menghabiskan malam ini denganmu?" Deon mengusap pipi Helena dengan lembut.


"Lepas!" Helena benar-benar meradang karenanya.

__ADS_1


Di sisi Lain Erfan bersama asistennya dan teman nya Yolan melihat seorang perempuan yang bersama Deon


"Sepertinya tuan muda Zergano sudah mendapat sasaran baru malam ini wuuiiihh!" sorak Yolan menantikan sesuatu pertunjukan.


"Ceweknya cantik pula, tapi kok kayak kenal ya?, apa Nadin ya?" sela Anton menajamkan perlihatkannya.


"Bukan, Nadin tidak memakai pakaian seperti itu tadi," timpal Yolan yang sempat melihat Nadin datang tadi.


"Masalah perempuan aja kalian ribut!" karena penasaran Erfan ikut memperhatikan perempuan bersama Deon disudut ruangan itu teringat perempuan yang dibawa ke sini tadi


Helena!


Erfan mengepalkan tangan disisi kiri tangannya melihat kebersamaan mereka, Helena benar-benar tidak bisa dibiarkan, baru juga sebentar ditinggal.


Hingga Helena pun pergi setelahnya disusul oleh Deon yang mengikutinya membuat Erfan kesal.


"Dasar perempuan itu!" geram Erfan meletakan gelas minumannya diatas meja dengan kasar.


"Ada apa bro?"tanya Yolan merasa aneh tiba-tiba Erfan seperti marah.


"Tidak ada!"Balasnya dan pergi meninggalkan mereka berdua dia mencari Helena yang entah kemana larinya tadi


"Eh ada apa dengan Erfan, apa dia mengenal wanita itu?" Yolan bingung tapi terus menegak minumannya.


"Itu seperti Helena!" Anton baru mengenalnya setelah melihat lebih jeli karena Helena benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.


"Helena? Sepertinya aku pernah mendengar namanya Helena,Helena, mama Helena!" Yolan akhirnya mengingatnya


"Mama Helena Memangnya Ayahmu menikahinya?" Anton menahan tawa dan kembali menegak minumannya lagi.


"Bodoh! Luna pernah menyebutnya dengan sebutan Mama Helena!" Yolan mengatakan yang sebenarnya membuat Anton hampir tersedak dengan minumannya.


"Apa!, Mama Helena!"


Yang benar saja? Apa benar Helena ada hubungannya dengan Erfan? Apa hubungan mereka sudah berjalan sejauh itu?

__ADS_1


****


__ADS_2