Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
110. Aku mempercayaimu


__ADS_3

...Happy reading ...


"Jangan beraninya kau menyentuhku!" bentaknya menunjuk wajah Deon yang terlihat kesal tapi setelah itu senyum menghiasi wajahnya.


"Heh Tapi aku suka caramu yang bermain kasar seperti ini."


"Tidak sudah aku katakan jangan sentuh aku!" teriak Helena mulai merasa tubuhnya panas dingin seperti menginginkan sesuatu.


"Heh, kau seperti sudah diberi obat, tidak akan ada yang bisa menolongmu selain aku, mendekatlah sayang!" ajak Deon yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur dengan pose menggoda


Helena mengeleng kepala cepat. "Tidak, ini tidak benar, aku tidak mau melakukannya!" Helena mundur hingga menubruk dinding dan meringkuk memeluk lututnya.


"Bagaimana, atau kau bisa saja mati di sini." ucap Deon menakuti agar Helena menyerahkan diri padanya.


Helena mengedarkan pandangan melihat sesuatu yang membuat dirinya tetap tersadar dari hal gila yang bisa saja dilakukan tanpa sadar.


"Pisau!" pandangan Helena melihat pisau buah yang akan ada yang biasa setiap kamar hotel. Helena bangkit dan mengambil pisau yang membuat Deon ikut terkejut.


"Hey apa yang kau lakukan!" Deon mendekatinya ingin merebut pisau yang ada di tangan Helena.


"Jangan mendekatiku lagi!" ancamnya menodong pisau kearah Deon yang seketika pucat karena panik.


"Apa yang kau lakukan dengan pisau itu, letakkan, aku tidak akan menyentuhmu aku berjanji!" ucap Deon dengan bersungguh-sungguh


"Masa bodoh dengan janji, apa pria sepertimu bisa menepati janji!"tangis yang dari tadi coba ditahan oleh Helena akhirnya benar-benar tumpah karena tubuhnya merasa sangat lemah dan dengan susah payah menopang tubuhnya sendiri.


"Buka pintunya cepat! aku ingin keluar!" Titah Helena yang membuat Deon takut jika dia melakukan hal yang berbahaya dengan pisau di tangannya.

__ADS_1


Deon sedikit berlari kearah pintu dan mencoba membuka pintu tapi berkali-kali ia menekan handle pintu tetap tidak bisa terbuka.


"Pintunya tidak bisa terbuka!"


"Aakh buka pintunya!" pekik Helena disertai tangis karena merasa makin panas seperti menginginkan sesuatu dengan sentuhan dari seorang pria.


"Aku tidak bisa membukanya ini terkunci."


Helena makin merasa frustrasi dengan keadaan tubuhnya, berkali-kali ia menepis bayangan ingin disentuh oleh seorang pria terlebih dia adalah Deon. Helena tidak mau melakukan hal ini.


Tidak, tolong aku kak Erfan! Aku tidak bisa menahannya lagi!!


Helena memejamkan mata mulai melukai lengan kirinya sendiri dengan pisau buah yang dipegang, darah mulai membasahi lengan dan selimut berwarna putih yang membalut tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan! jangan melakukan hal bodoh!" Deon malah dibuat terkejut dengan tingkah perempuan ini, apa segitu tidak mau disentuh olehnya. Bahkan berani melukai dirinya sendiri benar-benar tidak menyangka.


"Ku mohon Helena berhenti melukai diri sendiri, aku akan membawamu keluar dari sini." Deon berlari kearah pintu terus berusaha membukanya dengan susah payah.


Helena menatapnya dengan sayu dalam pikirannya ini pertama kalinya melihat Deon bicara begitu tulus, tapi rasa perih mengalahkan rasa gairah didalam tubuhnya.


Helena kembali memejamkan mata dan menambah mengiris kulitnya hingga terlihat sayatan disusul darah yang menetes, dari pada penyesalan yang dirasakan nanti, ia tidak mau.


Deon kembali melonggo melihatnya berusaha mendekat menghentikan darah yang menetes tapi lagi-lagi Helena tidak ingin Deon mendekatinya.


Deon merasa frustrasi dengan keadaan ini, karena ia tidak bisa membantu Helena.


Braakk...

__ADS_1


Pintu kamar VIP seketika terbuka, Keduanya menoleh kearah pintu karena terkejut melihat siapa yang datang, wajah Helena yang sudah basah dengan air mata, sekarang tersenyum dan menjatuhkan pisau berlari pelan menuju pintu dan menubruk tubuhnya


"Erfan aku tidak melakukan apapun dengannya!!" tangis bahagia tumpah seraya bersandar pada dada Erfan. Bahkan tidak merasa sakit karena luka yang digores tadi.


"Iya aku mempercayaimu!" ucap Erfan dengan senyum manisnya seraya mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


Helena memeluk tubuhnya senang dan kemudian matanya terpejam hingga langsung jatuh pingsan dalam pelukan Erfan.


Erfan menopang dan membawa tubuh Helena dalam gendongannya serta menatap tajam kearah Deon yang sedari tadi tidak bersuara.


"Bawa dia!" titah Erfan pada Anton yang berdiri di sebelahnya. E


"Paman ini tidak sepeèrti yang kau pikirkan, aku tidak menyentuhnya!" Deon langsung membela eeeeèee sendiri karena ia tau kemarahan sangat mengerikan.


"Anton jangan pegang aku, lepaskan aku paman!!!" teriak Deon tapi Erfan berlalu begitu saja.


Tapi Erfan tidak mengubrisnya karena ia akan membawa Helena kerumah sakit untuk diobati karena lukanya yang terus mengeluarkan darah.


"Helena kenapa bisa begini! Helena bangun!" Erfan menggoyangkan tubuh Helena berharap matanya terbuka.


Tapi seakan percuma Helena tidak mau membuka matanya hingga Erfan membawanya keluar dari lobi hotel. Erfan melihat perempuan yang tadi pagi ia temui yang juga berada disini.


"Ada apa dengan Helena pak?" tanya Aliza mendekati Erfan dan Helena


"Tidak ada waktu, kita harus cepat masuk kita harus membawanya kerumah sakit!" Aliza bergerak cepat membuka pintu mobil


Aliza masuk terlebih dahulu dan bergantian dengan Erfan yang memasukkan Helena dan menyandarkan kepala Helena pada tubuhnya

__ADS_1


...****...


__ADS_2