Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
39. Orang ketiga?


__ADS_3

...Happy reading...


"Kau ingin aku bagaimana supaya kau percaya?" tanya Erfan dengan sebelah tangannya mengusap punggung Helena.


Ada masalah apa sih? kenapa wanita ini terus saja marah tanpa sebab? jaga perkataanmu itu aku bukan wanita bayaran! tapi ini seperti bukan Akting, tolong selamatkan jantungku ini!!


"Tidak aku tidak percaya, kau tidak pernah menyentuh wanita, kau bohong!" Bentaknya tidak terima


"Benarkah? Tapi sekarang aku menyentuhnya." Erfan memiringkan kepala melihat Nadin dengan wajah merah padam.


Ingin rasanya Erfan tertawa saat itu juga karena puas rasanya melihat wajahnya yang begitu kesal.


"Oh aku ingat dia sekarang, dia wanita yang datang hari itu, hari pertama kau membawaku ke sini, aku kira wanita ini salah rumah jadi aku tidak membuka pintu." Helena berbicara dengan manja bahkan mengambar pola abstrak di dada Erfan.


"Bagus bukankah hari itu kau tidak bisa berjalan karena ulahku." Erfan makin memantik api di hati Nadin, sebenarnya ia ingin tertawa karena mengatakan hal itu.


"Kau ini aku malu!" Helena memukul bahu Erfan pelan membuat Nadin makin geram.


Erfan memegang dagu Helena agar melihat kearahnya, Erfan terus mendekat hingga bibir mereka hampir bertemu.


"Kalian! Tidak Erfan kau bohong!" Teriaknya kesal menutup kedua telinganya


Grep...


Plaakk...


Tubuh Helena terasa ditarik kebelakang dan ditampar sekuat tenaga oleh wanita bernama Nadin hingga rambut panjangnya menutupi wajah Helena


"Nadin!" Murka Erfan mendorong tubuh Nadin hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang


"Apa kau baik-baik saja, apa terluka?" tanya Erfan khawatir pasalnya ia tidak berniat menjadikan Helena sebagai tameng, tapi dia ditampar karena dirinya.

__ADS_1


"Pipiku sakit sekali!" Keluh Helena memegang pipinya yang terasa panas karena memang pukulan wanita ini sangat kuat.


"Aku bahkan tidak menamparmu sekuat itu!" Nadin melipat tangan didepan dada dengan senyum miring melihat Helena yang kesakitan.


"Ck, keterlaluan! pergi kau Nadin!" Bentak Erfan kesal ia mendudukkan Helena di sofa dan berlutut di hadapannya.


"Kenapa aku yang harus pergi! dia orang ketiga diantara kita dia yang harus pergi!" Nadin menunjuk Helena


Orang ketiga? Bukankah Erfan tidak punya istri lagi? Kenapa dia bilang aku orang ketiga? Apa mereka punya hubungan?


"Kau lupa, amnesia atau sengaja melupakannya?" tanya Erfan dengan amarah yang mulai muncul dari sorot matanya.


"Tidak, aku hanya ingin kembali denganmu, Aku mohon Erfan!"  Nadin meraih tangan Erfan tapi secepatnya disentak dengan kasar.


"Mimpi saja, aku akan mengingatkanmu tentang semua itu dan siapa orang ketiga yang sebenarnya!" Erfan berjalan mendekati Nadin yang juga mundur karena takut.


"Kau juga mau aku merusak reputasimu sekarang!" Tanya Erfan lagi dengan amarah bahkan Nadin merasa bergidik.


"Mama!" serunya Luna berlari kecil kearah orang yang dipanggil Mama


"Luna!" Nadin tersenyum licik karena Luna masih memanggilnya Mama pasti anak ini bisa dimanfaatkan suatu hari nanti


Erfan melihat Putrinya Luna keluar dari kamar menuju kearah dirinya, ia takut Luna terbujuk dengan rayuan Nadin nanti.


Tapi Luna tidak berhenti pada mereka berdua malah terus berjalan hingga sampai di hadapanHelena yang masih tertunduk di sofa.


"Mama baik-baik saja?" tanyanya khawatir karena Mama Helena sangat baik tapi kesakitan begini.


"Tidak apa-apa sayang!" Helena memilih menenangkan Luna tidak mau kondisi bertambah kacau.


"Luna kenapa kau memanggilnya mama!" Kesal Nadin bahkan membentak Luna 

__ADS_1


"Beraninya kau membentaknya!" Geram Erfan bahkan mengeraskan rahangnya hingga berbunyi gemeletup.


"Mama Helena adalah Mamaku! Mama Nadin jahat!" Kesal Luna dengan air mata mulai menetes, Ia menarik tangan Helena dalam pelukan tidak mau kehilangan.


Mama Nadin jadi dia adalah Mamanya Luna? Kenapa dia begitu tega pada anaknya sendiri! Kasihan Luna.


"Mama Nadin jahat, Ayah! Mama Nadin jahat sekali bahkan memukul Mama Helena." Tangisnya pecah memeluk Helena dengan erat


Erfan yang melihat putrinya dengan senyum "Luna pandai akting juga sepertinya bisa masuk kelas drama nanti." Pikir Erfan


"Lihat, kami bahagia dan kau boleh pergi sekarang juga!" Usir Erfan berjalan kearah Helena yang berusaha menenangkan Luna


"Tapi!"


"Dua pilihan yang aku beri jika kau masih ingin di sini lebih lama. pertama, hidupmu berakhir hari ini atau kedua, sampai di sini saja perjalanan karirmu yang sudah kau bangun. Pilih yang mana?" Erfan berucap tanpa melihat Nadin lagi.


Dengan kesal Nadin menghentakkan kaki dilantai dan keluar dengan wajah kesal tapi setidaknya ia sudah memberi pelajaran pada perempuan tidak tau diri itu


Braakk... Nadin membanting pintu Apartemen dengan keras karena amarah.


"Coba kulihat!" Erfan menyematkan rambut Helena kebelakang telinga dengan khawatir melihat pipi Helena yang memerah.


"Ya ampun tenaganya besar sekali pipimu memerah begini!" Erfan menyentuh bekas tamparan itu.


"Shh...Sakit!" Keluh Helena merasa perih.


"Akan aku ambilkan es batu dulu." Erfan berlari kearah dapur untuk mengambil es batu didalam lemari pendingin.


"Tidak ku sangka Nadin memang perempuan yang berbahaya, Entah kekuatan dari mana bisa membuat Helena kesakitan,"


Erfan kembali membawa kompres es batu semoga sakitnya berkurang dan pulih Erfan benar-benar tidak tega melihatnya kesakitan.

__ADS_1


****


__ADS_2