
...Happy reading...
"Aku akan pergi nyonya aku tidak akan merepotkan Anda lagi tuan, tolong jangan bertengkar Luna masih di dapur, ini silahkan dimakan!"
Helena meletakkan nampan berisi cemilan dan juga teh yang biasa mereka minum dengan senyuman, ya Helena tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat dirinya memang harus pergi sepertinya.
"Helena tidak!! apa maksudmu dengan pergi!" Erfan mengenggam tangan Helena menghentikan langkahnya yang ingin kembali ke dapur.
"Erfan, sadarlah!" sentak ibu angkatnya melepaskan tangan Erfan.
"Tidak akan, Helena tidak boleh pergi dari sini!" Erfan balas membentak membuat ibu angkatnya terdiam.
"Erfan, Mama ajak Luna pulang ke rumah kakeknya, kau harus mengurus wanita ini, atau kau akan menyesalinya nanti.
Erfan melambaikan tangan sekilas ibu. Angkatnya mengajak Luna pergi bukan masalah besar baginya, tapi Helena sudah pergi masuk kedalam kamarnya
"Helena buka pintunya! Helena kau tidak bisa pergi begitu saja, aku akan memastikan hal itu." Erfan mengetuk pintu kamar beberapa kali
Clekk... pintu kamar terbuka terlihat Helena tersenyum tapi terlihat raut kesedihan dari matanya.
"Bolehkah aku tidur disini untuk malam ini?" tanyanya masih terlihat senyum manisnya.
"Helena!"
"Aku akan pergi besok sebelum kau bangun." Helena menyakinkan Erfan, ia sadar diri tidak mau mereka bertengkar karena dirinya.
"Tidak! Ku mohon jangan pergi setidaknya untuk Luna! Pikirkan tentangnya!" pinta Erfan mengenggam tangan Helena agar tidak pergi.
"Maaf seharusnya aku tidak berhutang padamu dari awal, bilang saja aku pulang kerumah pada Luna!" Helena melepaskan tangan Erfan dengan perlahan.
__ADS_1
"Kau kira dia akan percaya?"
"Ya!"
Helena menutup pintu kamarnya hingga terdengar suara berdebam dan bersandar pada pintu yang sudah tertutup sambil menutup mulutnya, menyembunyikan suara tangisannya.
Aa...Erfan berteriak kesal menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi ia tidak ingin Helena pergi tapi tidak tau cara menghentikannya.
Kenapa aku sangat marah dia ingin pergi apa karena sebuah tanggung jawab, rasa kasian atau cinta? Erfan tiba-tiba menyadari sesuatu jika ini bukanlah rasa kasian.
Sepanjang malam Erfan tidak bisa tidur, didalam pikirannya Helena sedang menari-nari dengan riang membuat dirinya sesekali tersenyum mengingat tingkahnya
Tidak berbeda jauh dengan Helena yang sedang mengemas barangnya seraya melamun, Entah apa yang dipikirkan tapi tidak ada raut bahagia sedikit pun
"Luna, Erfan!"Mengingat mereka berdua membuat air mata Helena mulai menetes membasahi pipinya yang sudah menganak sungai.
Tringg... suara ponsel berbunyi didekatnya membuat Helena menoleh pada benda pipih itu tertera nama sahabatnya..
"Halo Naa."
"Iya Zaa ada apa?" Helena berusaha menahan tangisnya bahkan suaranya saja terdengar bergetar.
"Aiss Naa, kenapa loe nangis!" sebagai sahabat tentu saja Aliza tau jika Helena tidak baik-baik saja melalui
"Gak ah siapa juga yang nangis, lebay deh!" Helena bicara senormal mungkin menutupi hal ini.
"Beneran? Aku tau kamu nangis Naa jangan bohong." balas Aliza ikut terdengar sendu, dirinya akan merasa sedih jika Helena bersedih.
"Dimana loe Zaa?" tanyanya susah payah menahan tangisnya.
__ADS_1
"Benerkan loe nangis, ceritain cepat!" suara Aliza meninggi karena tidak tahan mendengarnya lagi
"Aku harus pergi dari rumah ini besok Zaa." tangis Helena pecah dirinya sangat susah menahan tangis jika Aliza mendesaknya.
"Pulang ke sini aja aku bakal seneng terima kamu di sini Naa!"
Bukan gitu Zaa..Loe tau sendiri kan gua sayang banget sama Luna udah kayak anak gua sendiri gak tega tinggalin dia!"
"Naa loe kawini aja bapaknya mana tau bisa punya adek buat Luna!" kelakar Aliza membuat Helena tertawa kecil.
"Iss Zaa serius nih, kawinin kirain gue ayam gitu?"
"Hehe canda kali Naa, gue sedih lihat loe nangis begini!" Aliza juga ikut tertawa menghapus air matanya.
"Sebenarnya gua memang udah punya rasa sama ayahnya Luna, tapi gimana nih Zaa, gua takut!"
"Nah itu nyatain aja Naa!" Aliza memberikan solusi jika ia mencintai Ayahnya Luna memang harus bersama karena Helena juga pernah bilang Erfan juga mengejar cintanya.
"Tapi orang tua nya gak setuju karena gua anak dari ibu gua Zaa, loe tau sendiri alasannya kan?"
"Ya ampun mana ada ibu loe kayak gitu Naa, ngadi-ngadi dia, tapi itu rumor yang disebarin sama Keysa kan waktu Sma?" Aliza benar-benar tidak menyangka semua ini menjadi rumor yang kembali membuat Helena bersedih.
"Besok aja aku ceritain soalnya ceritanya panjang kamu juga lagi kejar deadline kan?" tebak Helena tepat sasaran.
"Gak kok!" Aliza berkilah.
"Pokoknya besok aku ceritain ya, bye!" Helena memutuskan sambungan secara sepihak tidak tahan untuk kembali menangis.
Helena melihat potret dirinya dan Luna yang dijadikan Walpaper ponselnya terlihat sangat gembira dan riang.
__ADS_1
Luna maafkan Mama!