
...Happy reading...
"Apa lagi?" Erfan menoleh setelah menutup pintu mobil untuk Luna
"Dasimu kau meninggalkannya dimeja makan," Helena memberinya pada Erfan yang melihat dasi tanpa minat sedikit pun
"Aku tidak bisa memakainya jadi buang saja," ucap Erfan membuat Helena berfikir sesaat apa ada yang salah dengan pendengarannya yang mendengar bahwa pria didepannya ini tidak bisa memakai dasi.
Helena mengeleng kepala tidak habis pikir mungkin pendengarannya salah.
"Ayah, kak Helena bisa memakaikan dasi untukmu, lihat dasiku pun dipakaikan olehnya." Luna menunjukkan dasinya yang terpasang rapi.
Erfan melihat Helena yang terlihat bingung dihadapannya.
"Kalau begitu pakaikan!" Erfan berucap tapi Helena bertambah bingung.
"Hah?" Helena mencoba memastikan pendengarannya tidak salah dari tadi seperti salah dengar.
"Pakaikan aku dasi!" Titah Erfan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Oh baik!" Helena gelagapan sendiri jadinya.
Erfan sedikit menunduk karena tingginya mencapai 182 cm jadi akan susah Helena menjangkaunya jika tidak menunduk.
Helena berusaha tersenyum takut jika wajahnya terlihat ketakutan dimata Erfan yang berjarak dekat dengannya. Ia memasangkan dasi di kerah bajunya.
"Su-sudah...." Helena sudah menyelesaikan memasang dasi dengan cepat.
"Hmm..." balasnya singkat.
Erfan berlalu pergi memutari mobil untuk masuk kedalam mobil dikursi pengemudi
"Pak!" Helena kembali menghentikan langkah Erfan saat ingin membuka pintu mobil.
"Apa lagi!" Lama-lama Erfan bisa kesal dengan wanita ini yang selalu memanggilnya tanpa sebab bikin kesal.
"Aku tidak tau dimana perusahaan ZG berada bisakah kau antarkan aku untuk hari ini besok aku bisa menaiki bus kesana," Helena mengutarakan maksudnya karena tidak tau tempat kerjanya sendiri.
"Apa kau tidak bisa mencari melalui ponselmu?"
"Ponselku sudah ku buang waktu itu," Helena cengengesan karena itu salahnya sendiri. Erfan memutar mata melihat Helena dengan jengah.
__ADS_1
"Naiklah jika tidak mau aku tinggal," balasnya dengan ketus tapi bisa membuat Helena tersenyum lebar.
"Baik terima kasih pak!" Helena menunduk berterima kasih dan bergegas masuk kedalam mobil dikursi belakangan bersama dengan Luna juga.
Erfan menyalakan mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengantar Luna kesekolah terlebih dahulu.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sekolah Luna, Helena dan Erfan mengantar Luna hingga sebatas ke gerbang sekolah.
"Luna pergi dulu Ayah, kak Helena." Luna melambaikan tangan pada keduanya dan berlari masuk gerbang sekolah dengan tas di punggungnya.
Helena masih melambaikan tangan padahal Luna sudah pergi jauh.
"Apa yang kau lihat, masuk atau kau mau menunggunya sampai pulang?" Tanyanya ketus membuat Helena menoleh padanya
"Tidak pak," Helena berbalik dan membuka pintu belakang mobil
"Sedang apa kau?" Sentak Erfan membuat Helena kaget
"Aku mem-" belum selesai Helena bicara sudah dipotong oleh Erfan
"Duduk didepan, aku bukan supirmu," Erfan benar-benar tidak ramah menanggapi perempuan satu ini.
Helena berjalan cepat memutari mobil dan membuka pintu mobil disamping pengemudi.
"Waaahh tinggi sekali," kagum Helena tiba-tiba merasa mobil yang ditumpangi berhenti, membuat Helena menoleh pada orang yang duduk di sebelahnya.
"Turun dan bawa semua barangmu jangan mengotori mobilku." Erfan sengaja menghentikan mobilnya didaerah yang sangat jarang dilewati oleh karyawan kantor
Hah? Apa waktu itu aku benar-benar mengotori mobilnya? Pantas saja dia marah.
"Ini kartu namamu dan pergi ke lantai 17 untuk bekerja, turun!" Titahnya dengan wajah datar tanpa menoleh sedikit pun
Beginilah Helena hanya bisa patuh dan turun padahal kurang dari 50 m lagi kenapa gak sampai saja. Pikir Helena.
Helena berjalan menyusuri trotoar menenteng paper bag dan tas salempang, sepanjang jalannya tidak ada yang mencolok hanya ada beberapa pedagang yang berjualan.
Helena akhirnya sampai tepat didepan perusahaan ZG yang membuat semangatnya kembali terbakar, dan menyemangati dirinya sendiri.
"Semangat Helena kau pasti bisa!!"
Helena melangkah masuk kedalam lobi perusahaan dan langsung mencari lift yang diperuntukkan untuk karyawan.
__ADS_1
Helena menekan tombol 17 dan berdiri bersama beberapa orang yang tidak dikenal sama sekali.
"Kamu ke lantai 17 juga?" Tanya seorang wanita yang berdiri di sebelahnya.
"Ya kak," Helena hanya menyungingkan senyum ramah
"Kamu siapa kenapa tidak pernah lihat disini?" Tanyanya lagi
"Saya Helena baru masuk hari ini kak," balasnya dengan senyum canggung
"Kenalkan aku Sindy bekerja di lantai 17 juga, Helena! kau yang akan bekerja dengan kami, selamat datang Helena diperusahaan ini,"
"Iya kak,"
Hingga mereka sampai di lantai 17, Helena tidak tau arahnya pergi hanya terdiam didepan pintu lift yang baru tertutup.
"Helena ayo ke sini kau harus melapor dulu pada atasan sebelum bekerja," perempuan yang bernama Sindy itu sepertinya sangat antusias dengan kehadiran Helena
Helena diajak ke tempat kerja yang hanya ada tiga meja disana yang salah satunya diperuntukkan untuk dirinya.
"Ini mejamu dan ini ruangan atasan masuklah kau harus melapor dulu," timpalnya menunjuk pintu disana
"Terima kasih kak," Helena menaruh tas diatas meja dan pergi ke ruangan atasan yang di katakan Kak Sindy barusan.
Tok....Tok....
"Masuk!"
"Eh kenapa aku seperti mengenal suaranya," Helena mengeleng kepala mengusir pikirannya dan menekan kenop pintu hingga pintu terbuka
Benar saja seperti dugaan Helena atasannya adalah Erfan sendiri, betul juga jika tidak bagaimana ia diberi pekerjaan begitu mudah jika bukan atasannya.
"Ke sini dan ambil semua map ini untuk pekerjaan pertama mu," titahnya asik dengan dokumen yang dipegang
Helenaberjalan menunduk dan mengambil map yang ditunjuk oleh Erfan ada lebih dari 5 map.
"Baik pak," Helena memeluk berkas yang ditangannya
"Serahkan sebelum makan siang."
Sebanyak ini? Bagaimana mungkin? Apa dikira aku manusia super yang bisa segalanya dalam waktu singkat
__ADS_1
****