Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
19. Dia Punya anak?


__ADS_3

...Happy reading...


"Dasar pintu!" Geram Helena menendang pintu dengan kesal yang membuat kakinya kesakitan.


"Aww...aww.." Helena memegang kakinya yang sakit karena pintu yang tidak mau terbuka.


Helena akhirnya memilih menunggu Erfan pulang saja. Dengan menahan keperihan perutnya, Helena berjongkok hingga terduduk disebelah kopernya.


Terlalu lama Helena menunggu dengan perut perihnya membuat dirinya tidak sadar tertidur bertumpu pada lututnya.


Erfan menyelesaikan pekerjaan saat waktu sudah menunjukkan jam 18.10, karena banyak yang harus diselesaikan belum lagi E-mail yang dikirim bertubi-tubi oleh Anton untuk diperiksa.


Erfan pulang dan langsung ke Apartemennya yang hanya berkisar 30 menit perjalanan dari kantornya yang sudah tidak ada penghuni selain dirinya.


Masuk ke lobi dengan langkah pasti, dan menaiki lift yang sama dengan beberapa orang yang juga seperti baru pulang kerja.


Begitu tiba didepan apartemen miliknya dirinya dibuat kaget adalah sosok wanita yang mengerai rambutnya menutupi wajah.


"Siapa ini menakuti orang saja,"karena memang dirinya sempat kaget tadi dikira ada hantu.


Erfan mencolek sedikit bahu perempuan itu tapi tidak ada jawaban, dan menganti tangannya untuk menguncang tubuh wanita itu.


"Hey disini bukan tempat tidurmu!"Erfan menguncang pelan tubuhnya.


Entah karena terlalu kuat menguncang  perempuan itu terjatuh ke samping dan mulai tersadar merapikan lagi rambutnya yang menutupi wajah ke belakang telinga.


"Kau lagi!" Erfan mundur satu langkah melihat perempuan ini kembali padahal tadi pagi sudah berpamitan padanya.


"Kau sudah pulang?" Helena membalas dengan senyum pucatnya, refleks saja Erfan menyentuh dahinya khawatir.


"Kau demam?"tanyanya tidak merasa panas tapi wajahnya memucat seperti demam.


"Tidak aku hanya kelaparan." balas Helena dengan senyum memperlihatkan sebagian giginya walau terlihat pucat.

__ADS_1


"Lapar?" ulang Erfan tidak percaya dengan penuturan gadis kecil ini, apa dia menganggap rumahku sebagai restoran? pikir Erfan


Dengan berat hati Erfan membiarkannya masuk, kebetulan dirinya sudah menyiapkan makanan tadi hanya tinggal dipanaskan.


Erfan menatap lekat gadis yang didepannya yang sedang makan gaya berantakan plus tidak ada adap makan seperti kebanyakan gadis pada umumnya.


Erfan tidak menyangka gadis ini akan kembali, tapi sikap acuh tak acuh pada Erfan dan asik dengan makanannya, ia pun merasa geram dan ingin marah, Erfan berdiri menetralkan kemarahannya.


"Aku akan memaafkanmu kali ini, besok silahkan pergi dari sini!" titahnya dengan wajah datar tapi terlihat kesal


"Terima kasih pak, tapi aku tidak teman, sahabat atau pun saudara yang bisp menampungku, mungkin butuh waktu untuk menemukan tempat tinggal baru," jelas Helena dengan sendu menghentikan makan makanannya.


"Apa aku sedang bertanya padamu?" Erfan tidak memberi kesempatan Helena untuk menjelaskan.


Helena menggeleng kepala pasrah dengan melihat Erfan yang sudah berada dilantai a9tas menuju kamarnya.


"Tapi aku tidak-"


Tiga hari ini tinggal bersama Erfan, Helena sudah tau beberapa sifatnya bahkan suka menindas termasuk sifatnya.


"Rumahnya sangat luas tapi aku tidak tau dia sepelit itu?" Helena mengerutu dalam hati dengan terus mengatai Erfan. Tapi disatu sisi dirinya yang salah sudah bergantung padanya.


Helena menghela nafas frustasi dengan keadaan dirinya, pasalnya dirinya tidak memiliki tabungan atau pun sekedar uang saja ia tidak punya, bagaimana cara dirinya menyewa tempat tinggal.


Helena merebahkan diri diatas sofa, melihat lampu yang sudah redup dengan terus memikirkan dirinya sendiri hingga tertidur.


**


Pagi harinya Helena ditatap oleh seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun bersama dengan wanita paru baya yang diyakini adalah neneknya, mereka tertawa kecil melihat Helena yang masih tertidur.


Tawa kecil mereka mengusik Helena hingga matanya perlahan terbuka, betapa terkejutnya Helena  berguling kesamping hingga terjatuh dari sofa tempat ia tidur semalam.


"Kalian siapa?" Ucap Helena kebingungan seraya menebak dalam pikirannya tentang cucu dan neneknya ini.

__ADS_1


"Kakak hantu, Seharusnya kami yang bertanya seperti itu," balas anak kecil itu dengan wajah imutnya, yang diikuti anggukan neneknya, ternyata gadis kecil itu yang kemarin memberinya permen.


"Aku...aku..." Helena tidak tau harus menjawab ia berfikir keras bahkan mengaruk tekuknya sendiri karena dia dibuat salah tingkah.


"Sudahlah, kamu perempuan pertama yang di masuk dalam Apartemennya ini, kecuali kami." wanita paru baya itu mencoba menenangkan, "Wah Luna ini calon ibumu!" serunya anak kecil itu kegirangan dan menarik tubuh Helena agar membungkuk kearahnya.


"Calon ibu?" tanyanya dalam hati memang siapa ayahnya, Helena seakan lupa dia berada di rumah siapa sekarang.


"Kakak hantu kamu sangat cantik!" ucapnya malu mencium kedua pipi Helena yang masih bermuka bantal.


Erfan turun dari lantai atas kamarnya melihat ketiga sosok wanita yang sedang bercengkrama dengan akrabnya. Salah satu yang dilihat adalah perempuan yang dibawanya masuk semalam.


"Ma, Luna kalian disini?"tanyanya membuat semua menoleh kearahnya.


"Pagi Ayah" seru gadis kecil bernama Luna itu berlari kearah Erfan


"Ayah, dia punya anak?" Tanya Helena dalam hati pada dirinya sendiri, benar Helena bahkan tidak mengira gadis kecil kemarin adalah anak Erfan.


"Pagi sayang, kalian kenapa pagi-pagi ada disini, apa Luna merepotkanmu lagi?" tanya Erfan membawa Luna dalam gendongannya.


"Mana mungkin dia merepotkanku, kau tidak pulang 2 minggu ini jadi Luna merindukanmu, kau mengikari janji dengannya," balasnya


"Maaf sayang, ayah benar-benar lupa." Erfan memukul pelan kepalanya sendiri.


"Ayah sudah tua!" Cebik Luna mengatai ayah yang membuat Erfan tidak percaya dan mengelitik putrinya.


Melihat mereka berbicara dengan hangat membuat Helena merasa miris mengingat keluarganya yang selalu bersitegang, sangat berbeda. 


Helena dengan tau diri langsung ke dapur menyiapkan sarapan atau hanya cemilan untuk mereka.


"Oh ya kudengar Helena tidak punya tempat tinggal?" tanya Ibu Raty membuat Erfan menatap lekat gadis yang bernama Helena itu.


'Sial, gadis itu pasti mengatakan sesuatu pada ibu, tentu saja ibu tidak tegaan.'batinnya mengatai Helena.

__ADS_1


__ADS_2