
...Happy reading ...
Helena meninju udara didepannya dengan kesal melihat Erfan yang membelakangi dirinya
Aku ini baik hati dan juga imut dari mana licik nya.
"Makanlah makananmu." Erfan meletakkan sepiring pancake didepan Helena yang sudah duduk di salah satu kursi
"Pancake, aku tidak tau kau bisa masak tapi ini untuk makan malam!" Protes Helena.
"Makan saja, aku lupa membeli bahan makanan, kalau tidak mau akan ku habiskan sendiri," cebiknya kesal karena kecerewetan Helena
"Eiitt. Aku makan,aku makan," Helena merebut cepat piring yang sudah ditarik olehnya.
Helena memakan potongan pancake dengan perlahan membuat dirinya kagum dengan rasanya yang enak.
"Bagaimana kau membuat pancake se-enak ini?"
"Dengan cara biasa," balasnya singkat
"Nanti kau ajari aku ya!"
"Hmm " Erfan menjawab dengan singkat, ia melanjutkan makan dalam diam, sementara Helena menghabiskan pancake buatan Erfan dengan lahap tak bersisa.
Helena berjalan pelan mendekati wastafel, untuk membersihkan piring sisa makanannya, Erfan yang melihat itu cukup terkejut bukan karena Helena berjalan tapi...
"Hey kenapa rok mu ada noda?"Tanya Erfan polos menunjuk Helena dengan bingung, apa perempuan ini terluka juga disana?.
"Noda?" Tanya Helena tidak mengerti, lalu dia berpikir sejenak sebelum akhirnya berjongkok mengingat sesuatu tentang dirinya
"Ya noda merah, apa perlu aku obati lagi?" Tawar Erfan untuk mengobatinya.
"Sial, aku sudah merasakanmu dari Rumah sakit, dan aku lupa bahwa hari ini datang bulan."teriaknya dalam hati seraya menutup wajahnya.
"Kau tidak boleh berjongkok, duduk disini biar aku cuci piring," mencoba mengangkat tubuh Helena agar berdiri supaya tidak melukai kakinya lagi.
"Tidak, tolong tunjukkan dimana kamar mandinya?"tanya Helena dengan memeluk lututnya.
"Disebelah situ," tunjuknya pada pintu disebelah dapur
Helena berjalan terseok-seok kerena sakit di kaki nya bertambah setelah berjongkok cukup lama tadi, hingga dengan susah payah akhirnya dirinya sampai dikamar mandi.
__ADS_1
"Agrhhh. Aku malu sekaliii" teriak Helena menyugar rambutnya frustasi, bagaimana tidak dirinya sudah tau hari ini akan datang bulan tapi malah ikut pulang dengan Erfan, ia mempermalukan dirinya sendiri.
"Hey apa kau tidak apa-apa? Apa perlu sesuatu?" tanyanya mendengar teriakan dari dalam kamar mandi.
"Ya bisakah kau menambahkan list hutangku, aku tidak punya baju ganti atau pun pembalut, bisakah kau belikan?" Pintanya menahan malu.
Erfan berfikir sejenak, lalu memutuskan untuk membantu Helena dari pada dia semakin terluka "Ya,"
"Kenapa perempuan ada banyak maunya sih, repot saja, untung aku baik hati," gerutu Erfan meraih kunci mobil,dan keluar apartemennya.
Ia berjalan menuju mobilnya dan mulai melajukan mobil mencari sesuatu yang diminta oleh Helena.
Masuk kedalam butik Erfan melihat sekeliling dan mencari keberadaan baju ganti yang cocok untuk Helena.
"Bisa pilihkan baju seukuran.."Erfan menjeda dan menunjuk seorang karyawan butik "kamu, seukuran kamu saja!"
"Saya tuan?" Karyawan itu menunjuk dirinya sendiri.
"Benar, dia setinggi dan postur badan kalian hampir sama, jadi tolong bungkus kan tiga set baju ini yang seukuran dirimu." Ujarnya
"Baik," ucapnya patuh memilih dua set baju lagi.
"Emm. Apa disini ada jual pembalut?" Tanyanya dengan wajah dingin
Teman disamping kasir itu terbatuk mendengar pertanyaan polos dari Erfan, bahkan hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Anda bisa mencarinya di supermarket. Terima kasih, ini kartu Anda," ucapnya sopan.
Erfan hanya ber-oh ria dan berjalan meninggalkan butik itu dengan santai, juga melihat kanan kiri mencari keberadaan supermarket.
Setelah menjalankan mobil untuk pulang, beberapa menit kemudian akhirnya Erfan menemukan supermarket. Ia memberhentikan mobil dan langsung bertanya pada kasir.
"Permisi, apa disini ada pembalut?"tanyanya juga dengan ekspresi dingin cukup membuat karyawan itu terkejut.
"Ada, rak ke 5 cari saja disana," tunjuknya
Erfan berjalan menuju rak yang ditunjuk oleh kasir tadi, ia penasaran dengan yang namanya pembalut ini.
"Ini apa sih?"tanyanya pada diri sendiri membolak baliknya.
"Ambil aja kayaknya, toh dia yang pakek, jadi gak rugi." Erfan mengambil tiga jenis pembalut yang berbeda karena Helena tidak akan lama dirumahnya dan ia membawa ke meja kasir.
__ADS_1
Wanita dikasir melihat Erfan dengan tatapan bingung sekaligus menahan tawa, baru kali ini melihat pria membeli pembalut dengan wajah yang dingin.
"Ehm. Kayaknya pacarnya Mas juga butuh ini" ucap wanita kasir menyelipkan beberapa sachet minuman dari air gula merah.
Erfan memberi dua uang seratusan walau dibilang lebih tapi tetap saja dia menyerahkan kembalian pada mbak kasir.
"Aku ini Duda tapi kenapa semua kira aku suami atau pacarnya, sepertinya dia juga harus membayar hutang psikologi ku yang terganggu." Gerutunya sepanjang perjalanan pulang
Erfan pun melaju kembali membelah keramaian jalanan seorang diri hingga tiba di apartemen nya. Ia membuka pintu tidak terlihat sosok wanita yang tadi didalam rumahnya.
"Hey, halo kau dimana?"Tanya dengan suara yang cukup keras tapi tidak ada tanggapan apapun dari mana pun
"Atau jangan-jangan dia terkunci dikamar mandi?" tebaknya langsung tergesa-gesa melihat kamar mandi yang masih terkunci.
"Hey apa kau masih didalam?"tanyanya mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
"Ya!"
"Ini sudah kubeli kan pakaian ganti untukmu dan juga pembalut yang kau minta." Erfan meletakkan masih memegang paper bag karena terlalu khawatir tadi.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit m, hanya menampakkan wajah dengan tubuh tertutup dengan daun pintu.
"Tolong berikan padaku," pintanya seraya mengulurkan tangan
"Untung kau bertemu pria baik sepertiku, jika tidak kau sudah dibuang dijalanan, ini yang kau minta!" Erfan langsung menyerahkan hal yang diminta tadi.
"Terima kasih banyak,"
"Sama-sama hutangmu juga sudah bertambah!" Ejek Erfan yang membuat Helena jengah, baru juga berterima kasih tapi sombong nya langsung keluar
"Tidakkah kau mengampuni sedikit hutang itu sekarang aku sedang sakit!"
"Kau mengatakan sendiri bahwa kau akan bayar semuanya!"
"Ya ya aku bayar!" Helena melempar sesuatu ke pintu kamar mandi hingga menghasilkan bunyi debum.
"Jika kau merusak pintu maka aku akan memasukkan dalam list hutang mu juga," ucap Erfan santai lalu berlalu pergi.
"Arghh.. Aku kesal!" geram Helena
***
__ADS_1