
...Happy reading ...
"Kalau begitu buatkan cemilan." Erfan mengatakan pada Helena tanpa rasa bersalah sedikit pun
"Cemilan lagi!" Helena seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Ada apa sih dengan pria ini, apa segaja mengerjaiku begitu? Atau dia terlalu ketagihan dengan semua masakan yang ku buat? Tanya Helena dalam hati
"Ya bisa sup buah, es krim, salat buah, dessert atau sejenisnya." Erfan mengatakan jenis camilan yang ingin dicoba hari ini.
Ya ampun ada apa dengan pria ini sungguh membuat ku kesal, apa dia tidak berfikir aku seharian ini sudah beberes rumah sekarang ditambah lagi? Apa dia tidak tau diri!
"Tapi tuan!" Helena memelas karena merasa sudah letih.
"Kenapa kau tidak mau? Kau bisa mulai ber-" ucapan Erfan terpotong karena dengan cepat Helena menimpali.
"Dengan senang hati Tuan," Helena memaksakan senyum
Helena merasa dongkol dengan tingkah bosnya yang satu ini benar-benar spesies yang langka karena sangat sikapnya itu.
Dengan langkah kesal Helena menginjak kakinya dilantai dengan kesal dan mulai mengeluarkan bahan yang diperlukan untuk membuat camilan simple saja karena Helena sudah merasa lelah.
Ingin rasanya Helena melemparkan apapun yang ada di sekitarnya hingga tidak berbentuk lagi.
Erfan yang melihat wajah kesalnya malah menyungingkan senyum tipisnya menertawakan Helena yang terlihat lucu di matanya.
"Ayah kenapa kau tertawa? Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Luna melihat ayahnya tertawa kecil.
Luna mengikuti arah pandangan ayahnya melihat ke dapur yang disana ada Helena sedang mencampur bahan makanan dengan kesal.
"Ahh tidak ada apa-apa sayang." Erfan mengusap puncak kepala putrinya lembut.
"Ayo ayah ngaku, ngintipin kak Helena ya?" Luna menaik turunkan alisnya mengoda ayahnya yang ketahuan memandangi Helena.
"Tidak ada sayang ayo kita lihat itu tuh anjingnya bisa terbang!" Erfan mengalihkan perhatian putrinya pada film animasi yang mereka nonton, benar saja fokus putri dengan cepat teralihkan.
__ADS_1
Mereka kembali fokus pada film animasi yang ada di depannya mereka karena alur ceritanya yang menarik.
Duukk...
Helena menaruh nampan berisi biskuit serta susu dan teh juga di depan mereka berdua yang membuat keduanya menoleh pada dirinya.
"Ini silahkan makan cemilannya, semoga kalian suka." Helena menyungingkan senyum tapi matanya terlihat jengah saat berhadapan dengan Erfan.
"Biskuit? Cemilan?" tanya Erfan bingung apa biskuit juga termasuk camilan?
"Ya ini yang namanya camilan kan?" balas Helena cepat
"Terima kasih kak!" Luna langsung mencomot satu biskuitnya karena terlihat sangat enak
"Hemm ini enak ayah!" ucapnya lagi.
"Kalau begitu aku akan lihat yang sedang dipanggang di oven nanti bisa hangus," Helena tidak mau mendengar jawaban Erfan ia memilih kabur terlebih dahulu ke dapur.
Helena kembali berkutat di dapur menghabiskan semua sisa adonan yang tadi dibuat untuk dibentuk
"Ehem..!" Erfan berdehem membuat Helena yang sedang membentuk biskuit terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Mengagetkanmu kurang kerjaan sekali," cibir Erfan bersandar pada ambang pintu.
"Lalu ada apa kau datang kesini?" Helena kembali membentuk sisa adonan biskuit di loyang.
"Suka hatiku lah, ini kan rumahku!" balas Erfan dengan sikapnya yang sombong.
"Hemm baiklah kau menang, puas!" Helena menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Apa kau buat banyak biskuit?" tanyanya lagi
"Lumayanlah ada tiga tobles, agar nanti aku tidak membuatnya setiap saat."
"Bagus selesaikan pekerjaanmu dalam waktu 30 menit lagi lalu bungkus tiga tobles itu untuk dibawa dan sisanya tinggalkan saja dirumah."
__ADS_1
"Tapi sebanyak itu! kau mau membawanya kemana?" Helena yang sudah menghabiskan sisanya beralih memakai sapu tangan untuk mengangkat biskuit yang sudah matang.
"Lakukan tugasmu jangan banyak tanya, bersiaplah jika sudah selesai, jangan membuatku menunggu." ucap Erfan dengan Arogansinya, Helena jadi Heran apa semua lelaki bersikap begitu?
Setelah mengatakan itu Erfan pun
Helena pun menyelesaikan semua membuat biskuitnya dan menaruh tiga tobles di dalam paper bag dan sisanya ada dua tobles di taruh di dalam lemari dapur.
"Untuk apa semua ini, Entahlah Helena kau hanya harus bersabar."
Setelah selesai berkutat di dapur ia sengaja menghampiri Luna terlebih dahulu di ruang tamu. "Sayang apa kita tidak jadi pergi?"
"Pergi ke rumah teman-teman Luna ya, oh ya ayo Mah kita siap-siap!"
Helena pun mengganti pakaian Luna terlebih dahulu sebelum akhirnya dia bersiap untuk dirinya sendiri. Helena bukan merupakan perempuan yang ribet, jadi semua bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Hari ini Helena berpenampilan casual dengan kaos putih dan jeans karena mereka bukan pergi ke tempat pesta tapi menemui teman-teman Luna.
Setelah mereka menunggu beberapa saat Erfan pun juga turun mengenakan baju santai, untuk beberapa hari Helena terheran sendiri kenapa mereka yang selalu menunggu Erfan turun?
Disinilah mereka sekarang sudah berada di depan sebuah rumah panti yang mereka kunjungi terakhir kali, begitu Luna turun langsung dikerumuni anak-anak yang ada di sana membuat senyuman terukir di wajah semua orang.
Helena yang sudah lumayan dekat dengan mereka semua ikut menyapa dan membawa paper bag berisi biskuit serta beberapa makanan ringan lainnya.
"Pak apa kau yang akan membagikan semua makanan ini untuk mereka?" tanya Helena meletakkan biskuit tadi diatas meja.
"Kau yang membuatnya bagikan saja sendiri
Helena menghela napas panjang menyiapkan mental dan mulai membagi pada anak-anak yang duduk melingkar beberapa meja.
"Ayo teman-teman cobalah hari ini biskuit khusus untuk kalian, oleh Mama Helena!" semua melihat kearah Helena yang terkejut.
"Luna apa yang kau katakan, tidak boleh sembarangan memanggilnya Mama," bisik Erfan karena tidak pernah mengajari putrinya begitu.
"Luna bercanda Ayah." Luna dan semua anak-anak itu berterima kasih pada Helena yang membuat Helena tersenyum tapi meneteskan air matanya.
__ADS_1
Bukannya cengeng dirinya merasa terharu melihat anak-anak itu menyukai biskuit yang dibuatnya walau tadi dengan kesal.
****