Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
14. Bodoh


__ADS_3

...Happy reading...


"Main katamu!"ingin rasanya Helena membentaknya tapi apalah daya hanya bisa memarahi dalam hati.


"Kau kau "Helena mengepalkan tangan kesal, ingin rasanya ia meninju wajah yang pura-pura tidak berdosa, ia benar-benar geram.


"Ingat Helena, kau hanya menumpang dirumahnya jadi harus tau diri " Ingat Helena pada dirinya sendiri.


"Apa kau kau?"Tanya Erfan menantangnya tapi Helena mengeratkan giginya mencoba menahan amarah agar tidak terlihat.


"Eh kau kau tampan tidak perlu memakai topeng ini,"kilahnya malas memberi senyum manis


"Aku tau." ucapnya dengan gaya tampan dan berlalu menaiki tangga menuju ke atas.


"Memang ketampananku ini luar biasa," Ia terkekeh kecil penuh arti dan hilang dibalik pintu kamarnya.


"Tampan sih iya tapi pikirannya kurang," umpat Helena dengan suara pelan


Helena melanjutkan membersihkan lukanya sendiri walau terasa perih dirinya menahannya.


Beberapa saat kemudian Erfan turun dari lantai atas kamarnya lengkap dengan setelan kantor langsung melewati Helena yang duduk di karpet dan memainkan laptop.


"Laporannya harus siap saat aku pulang nanti," Erfan memakai sepatunya dan keluar dari apartemen menuju mobil yang terparkir di depan gedung ini.


Helena mengerjakan pekerjaan yang dititipkan padanya, tapi dirinya tidak bisa berkonsentrasi merasa ada yang salah.


"Apa aku seperti melupakan sesuatu?' Helena mengedarkan pandangan melihat seisi apartemen apa ada yang dilupakan. 


"Ah ya aku belum makan!"


Helena berjalan kearah dapur mencari makanan didalam lemari es tapi hanya ada telur, Helena beralih melihat lemari diatas satu per satu dibuka tetap tidak ada makanan.


Helena berjongkok melihat isi lemari yang dibawah tapi tetap tidak ada hasil apapun disana


"Argh.. dimana dia menyimpan makanannya!" geramnya mengepalkan tangan.


Helena kembali berjalan kearah lemari es dan mengambil tiga butir telur sekaligus, ia pun menyalakan kompor dan merebus ke tiga telur.


"Rumah orang kaya tapi yang ada cuma telur, percuma!" umpatnya seperti tetangga julid


Usai ketiga telur itu matang Helena lansung menaruhnya di air dingin dan lalu mengupas semua nya.

__ADS_1


Helena membelah dua semua telur yang sudah dikupas itu dan menaruhnya dipiring serta menabur sedikit garam sebagai penambah rasa


Helena memakan semua telurnya sampai tidak bersisa tapi perutnya masih belum merasa kenyang.


"Tau gini aku rebus semua telurnya."


Helena berjalan kearah tempat ia tidur semalam lebih tepatnya sofa untuk menyelesaikan tugasnya yang diberi oleh Erfan tadi.


Lama Helena berkutat dengan laptop hingga dirinya melewatkan makan siangnya dan juga hari mulai beranjak sore.


Suara Bell membuyarkan lamunannya yang sedang fokus fokusnya


"Siapa sih yang datang gak mungkin Erfan pulang, dia tidak perlu repot menekan bell," gumamnya pada dirinya sendiri bingung.


Helena melihat layar monitor kecil yang terpasang disebelah pintu. "Siapa sih?"


"Ommo. Siapa perempuan cantik ini?" Helena kaget hingga menutup mulutnya sendiri, "apa aku harus membuka pintunya?"


"Tidak aku tidak bisa membuka pintu ini nanti dikira aku saingannya," Helena bertengkar dengan pikirannya sendiri.


"Tapi bagaimana ini!" Helena mengigit ujung jemarinya ragu.


Helena mencari ponselnya diseluruh penjuru apartemen yang dipijaknya tapi tidak ada


"Dimana ponsel ku?"Helena berfikir keras "Ah aku lupa, aku membuangnya kemarin!" Helena menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi.


"Helena berfikir berfikir lah, Eh suara bell tidak berbunyi lagi," leganya karena tidak mendengar suara bell yang menganggu dirinya dari tadi.


"Syukurlah dia telah pergi," Helena mengelus dada merasa lapang karena tidak ada yang mengusik dirinya


Helena pun kembali duduk berselonjor di karpet sofa mengistirahatkan kakinya.


"Ah.. aku lapar lagi," cibirnya seraya memegang perutnya, "Telur d ikulkas hanya tinggal dua mana cukup!" Helena merasa dirinya tidak bertenaga lagi.


Helena menyalakan Tv untuk menghibur dirinya sendiri dari rasa lapar yang mendera perutnya.


Clek.....


Pintu apartemen terbuka menampakkan Erfan masuk menenteng satu plastik besar belanjaan dengan banyak jenisnya.


"Kau pulang!" Helena menyambut kedatangan Erfan dengan bersemangat.

__ADS_1


"Kenapa kau menyambutku begitu senang," Erfan melihat Helena dari ujung matanya.


"Tidak, hanya saja aku lapar!" Helena mengusap perutnya yang hampir tidak diberi makan hari ini.


"Aku baru tau ada yang menganggap diri sendiri sebagai benalu di rumah orang lain." ejeknya meletakkan bahan makanan yang dibeli di dapur


"Aku kelaparan tapi kau tidak meninggalkan bahan makanan sedikitpun, dan aku juga bukan benalu!" cebiknya kesal


"Dasar yang ada dikepala mu hanya makan saja,"


"Kenapa memangnya hidup untuk makan dan makan untuk bertahan hidup!"


"Terserah kau saja"


Erfan melepas jas membuka lemari es untuk menaruh beberapa bahan makanan kedalam nya yang hampir tidak kosong.


"Apa kau membeli mie?" Helena mengikuti langkah besar Erfan yang berjalan kesana kemari.


"Tidak, aku tidak perlu makanan seperti itu," balasnya tanpa menoleh.


Helena mulai berjalan cepat mengikuti langkah Erfan "Tapi kan...." Helena merasa langkahnya tidak seimbang tidak sengaja kakinya membelit hingga..


Brukk..


Helena jatuh tersungkur mencium lantai membuat Erfan menoleh karena mendengar bunyi benda jatuh cukup jelas


"Helena!"


Erfan menjatuhkan kantong belanja yang masih berisi beberapa bahan makanan dan berlari menuju Helena yang terjatuh telungkup.


"Aa.."teriak Helena kesakitan nyeri dikakinya.


"Kau, jangan menangis!" mencoba menghibur dengan wajah datarnya


"Aku kesakitan!" Helena bangkit dari tersungkur dan duduk memegang kakinya yang sakit.


"Berapa kali aku bilang jalan yang pelan!" Bentaknya kesal karena perempuan ini terlalu keras kepala. "Ini akibatnya karena kau berjalan terlalu cepat," Erfan mendorong kening Helena dengan telunjuknya.


"Bodoh hanya itu yang bisa disematkan pada namamu!" Erfan kembali mengatai Helena.


***

__ADS_1


__ADS_2