
...Happy reading ...
Setelah banyak kejadian yang menimpa Helena dua minggu lalu, sekarang Erfan dan Luna membawa Helena berlibur ke sebuah villa yang berada di dekat pantai.
Sepanjang perjalanan mereka disuguhi pemandangan hijau nan asri khas pedesaan, sangat memanjakan mata.Melewati sawah-sawah dengan padi masih hijau ada juga yang kekuningan, sungguh pemandangan yang tidak bisa dilihat dikota besar.
"Indah sekali, seperti mimpi saja!" kagum Aliza yang kebetulan duduk di depan samping pengemudi yang tidak lain adalah Anton.
"Tentu saja aku yang memilih tempat ini." celetuk Anton membanggakan diri bahkan menepuk dadanya sendiri.
"Luna senang sekali akhirnya Ayah dan Mama bersama." ujar Luna mengenggam tangan kiri Helena dan tangan kanan Erfan di pangkuannya
"Mama juga senang sekali setelah sekian lama akhirnya kita berlibur." balas Helena dengan senyum gembira, senangnya berlibur.
Entah apa tujuan mereka yang juga mengajak sertakan Anton dan Aliza serta Sindy dengan keluarga kecilnya yang berada di mobil lainnya juga.
45 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di villa tiga tingkat itu, dari luar sudah terlihat sangat nyaman dan hangat apalagi didalamnya
"Waahh villa milik siapa ini, besar sekali!" celetuk Aliza tidak menyangka villa yang mereka tempati bisa sebesar ini.
"Tentu saja ini milik pak Erfan, kita akan tinggal disini kan." Anton menaik turunkan alisnya seraya merengkuh bahu Aliza
"Tentu saja!"
"Tidak nyangka aku juga bakal kebagian kuota untuk bermalam di sini juga." ucap Sindy kagum karena kali ini bossnya sangat baik.
"Apa lagi aku, ini pertama kalinya aku berlibur divilla Seperti ini, biasanya hanya apartemen kecil saja." Semua tertawa mendengar celotehan Anton yang memang begitu kenyataannya.
"Semua kamar sudah dibersihkan, dan kami bertiga akan menempati lantai atas." ucap Erfan membuat semua mengangguk paham
"Waahh sepertinya akan terjadi sesuatu disana nanti." bisik Anton pada Aliza yang terlihat terkejut. yang benar saja?
"Dilantai 2 ada dua kamar dan dilantai satu hanya satu kamarĀ jadi pilih kamar mana yang akan kalian tempati." jelas Anton melanjutkan penjelasan tentang villa ini.
"Ya sudah kalau begitu, Kalian masuklah aku akan membawa Helena pergi sebentar." Erfan menarik tangan Helena hingga hampir berpelukan.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Anton dengan keponya membuat tatapan tajam dari Erfan seolah melubangi tubuhnya.
"Tidak jadi pergi saja, hati-hati!" Anton melambaikan tangan karena takut dengan tatapan menusuk dari Erfan.
Bukannya melihat isi villa yang akan mereka tempati, Erfan malah membawa Helena ketepian pantai yang banyak berbatuan yang besar, mereka berjalan dari satu batu ke batu lainnya.
"Kak Fan kenapa kau membawaku kesini?" tanya Helena mencoba merapikan rambutnya yang tertiup angin laut yang begitu kencang.
"Karena ini akan jadi tempatmu akan selalu jadi tempatku dan tempatmu." Erfan melihat hamparan laut biru dengan masih menggenggam tangan Helena.
Helena memiringkan kepala serta mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan maksud perkataan Erfan yang sebenarnya.
"Karena kau berhutang padaku! Jadi jangan coba-coba untuk pergi lagi, mengerti!" Erfan mengenggam kedua tangan Helena dan melihat kedalam manik matanya.
"Hutang? Hutang apa?" tanya Helena bertambah bingung, bukankah hutangnya sudah lunas semuanya.
Erfan menuding kepala Helena hingga ia mundur satu langkah kebelakang, Erfan pun menunduk hingga posisi mereka sejajar
"Kau ingin tau?" Tanyanya membuat Helena mengangguk cepat, Erfan mengeluarkan sebuah kotak beludru dari sakunya.
"Aku menyatakan cinta tapi kau belum membalas apapun, kau harus membayar mahal harga ini." Erfan meletakkan kotak beludru itu ditangan Helena.
"Kau punya cinta, kau berhutang Cinta padaku dan kau harus membayar dengan sisa umurmu bersamaku, bagaimana?"
"Apa!"
"Aku mencintaimu Helena!" Erfan merengkuh tubuh Helena membawanya mendekatkan wajahnya mengikis jarak antara mereka.
"Eh tunggu!" refleks Helena menutup mulut Erfan.."Ck kak Fan aku kan belum menjawabnya!" lanjut Helena pura-pura kesal dan membelakangi Erfan.
"Apa gunanya kau menjawab jawabannya sama saja kan?" ucap Erfan dengan entengnya.
"Mana bisa begitu, tapi tawaran kak Fan sama sekali tidak menarik, apa tidak ada yang lebih mahal dari cincin ini? Aku kan perlu uang yang banyak"
"Uang untuk apa?" sekarang malah Erfan yang terlihat kebingungan mmi
__ADS_1
Helena berbalik melihat Erfan yang sudah berjarak dua meter darinya
"Untuk melaksanakan pernikahan kita tentunya!" ucap Helena untuk beberapa saat Erfan yang masih loading memikirkan perkataan Helena.
"Kalau begitu ayo!" Erfan mendekati Helena hingga memeluk tubuhnya.
"Kemana?" kali ini berganti Helena bingung
"Aku punya uang untuk menikahimu apalagi menghidupi dirimu." Erfan merengkuh tubuh Helena dengan mesra
"Tunggu!" Helena lagi-lagi menghentikan pergerakan Erfan
"Apa lagi!" balasnya jengah karena dari tadi tidak bisa melakukan hal romantis
Cup.. Satu kecupan mendaratkan di pipi Erfan, Helena ingin berlari tapi ia lupa tangannya masih digenggam oleh Erfan. Dengan satu sentakan Erfan menarik tangan Helena hingga tubuhnya masuk kedalam pelukan Erfan.
"Kau mau lari kemana?" tanya Erfan dengan suara lembut
"Aku mau kembali ke villa, aku harus memasak untukmu juga." Helena tertunduk menyembunyikan rasa malunya karena mencium pipi Erfan barusan
"Tidak perlu, ada chef handal disana."
Erfan menyusupkan tangannya diantara helaian rambut Helena yang tertiup angin ibu jarinya membelai pipi Helena dengan lembut.
Ia menarik tekuk Helena hingga jarak diantara mereka makin mendekat sampai kedua benda bibir mereka bertemu.
Ciuman hangat diantara dinginnya angin laut membuat mereka berdua terlena saling berciuman untuk waktu yang hingga Helena merasa kekurangan oksigen.
"Bernapaslah!"
"Maaf aku tidak tau caranya." Helena nyengir karena malu ia menyembunyikan wajahnya didada Erfan dengan senyum mengembang di wajahnya
"Kita coba lagi bagaimana?"
"Tidak aku kan malu!" Helena mendorong tubuh Erfan hingga pelukan terlepas, ia berlari kecil karena malu.
__ADS_1
"Aihh dia terlihat sangat imut jika sedang malu begitu." Erfan mengejar langkah Helena
...****...