
...Happy reading ...
Pagi hari ini setelah tidur semalaman Helena terbangun karena mencium wangi masakan yang mengusik perutnya.
Helena mengerjap mata beberapa kali seraya bangkit dari tidurnya, ia merenggangkan tubuh yang terasa lebih segar.
Helena melihat lurus kearah dapur ternyata Erfan sedang berkutat didapur dengan ahlinya.
"Bangunlah, setelah sarapan aku akan mengajakmu berkeliling, melatih kakimu supaya cepat sembuh." Erfan bicara tanpa menoleh seakan tau Helena sudah bangun.
Helena berjalan dengan hati-hati hingga sampai didapur berdiri di sebelah Erfan yang sedang memasak.
"Cuci wajahmu, apa kau tidak malu kalau seorang pria melihat ilermu, dan bau badanmu membuat pengharum yang ruanganku tidak mempan.
"Aiss kau sungguh keterlaluan mengejek seorang perempuan," Helena pun sampai dikamar mandi dan menutup pintu.
Setelah mandi dengan bersih Helena duduk menyantap makanan yang dimasak oleh Erfan, walau hanya masakan sederhana tapi enak.
Usai menghabiskan makanannya Helena dan Erfan berjalan keluar dari apartemen menuju lift yang tidak jauh.
Erfan kembali memapah Helena keluar dari lobi hingga mereka sampai di sebuah taman
Kebetulan hari apa hingga Erfan libur juga dan mengajak Helena berjalan keluar dari apartemen menuju taman sekitar apartemennya.
"Pak kenapa kau membawaku kesini?" tanya Helena yang berjalan masih memegang tangan Erfan
"Kakimu sudah hampir sembuh jadi nanti kau bisa pulang kerumah sendiri." Ucapnya datar
Helena menunduk sebenarnya ia lebih suka disini damai tidak ada pertentangan sama sekali hanya perdebatan kecil dengan pria tampan ini.
"Baiklah aku akan pergi besok kalau begitu," balas Helena pasrah, karena tidak mungkin merepotkan pria ini dalam waktu yang lama.
"Baguslah, latih kakimu agar tidak kaku saat berjalan." Erfan mulai melepas sandal yang dikenakan oleh Helena.
"Disini, tapi kakiku masih sakit!"
"Pegang tanganku dan mulai lah berjalan," Erfan berhadapan dengan Helena seraya terus berjalan mundur memapah Helena.
Kaki Helena sebenarnya sudah membaik tapi entah kenapa ia ingin berlama tinggal bersama Erfan. Mungkin benar dia jatuh cinta dengan waktu sesingkat itu.
Helena yang membayangkan hal itu tersenyum malu bahkan mengeleng kepala tidak habis dengan isi pikirannya sendiri.
"Lihat jalanmu, jangan melihatku dengan senyummu itu, apa kau benar-benar jatuh cinta padaku?" Erfan langsung membuyarkan lamunan Helena hingga ia tertunduk malu.
"Tentu saja tidak, kau percaya diri sekali, apa ada wanita yang menyukaimu dengan wajah amarahmu itu?" Cibir Helena.
Tentu saja Helena salah tingkah membuang pandangan dan tidak memperhatikan jalannya, sementara Erfan asik dengan sekitarnya melihat anak-anak bermain
__ADS_1
Helena yang tidak memperhatikan jalan malah menginjak batu hingga jatuh dan menarik serta Erfan.
Brukk
"Aduuhhh...." keluh Helena merasa punggungnya membentur tanah.
Erfan merasa merinding karena telinganya tepat berada dimulut Helena membuatnya mematung merasakannya membuat sesuatu didalam dirinya bergejolak.
Yaampun anak muda jaman sekarang bahkan berani didepan umum.
Benar padahal disini kebanyakan orang tua dan anak anak.
Mungkin karena terlalu bersemangat tapi harus dimaklumi.
Anak muda memang beda gairahnya mengebu-gebu.
Erfan yang mendengar itu cepat cepat ia bangkit dan menahan diri agar tidak berada dalam situasi berbahaya.
"Kau bangunlah, apa kau tidak malu dilihat orang-orang disini?" Erfan membetulkan pakaian yang mungkin kusut
"Pinggangku sakit pak, bagaimana aku bisa bangun," keluh Helena kesakitan mencoba bangkit.
"Merepotkan saja kau, ayo bangun!" Erfan menarik tangan Helena hingga ia berdiri tegak tepat didepannya
Erfan berlutut melihat kaki Helena yang mungkin saja terluka karena terjatuh barusan
"Tidak, hanya pinggangku yang terasa masih sakit," Helena masih memegang pinggang
"Ayo jalan lagi!" Erfan kembali mengandeng tangan Helena berjalan menyusuri jalan setapak yang jaraknya lebih dari 500 meter
Ditengah perjalanan Helena merasa kelelahan bahkan langsung duduk di kursi taman itu
"Kenapa kau berhenti?" Erfan ikut duduk di sebelah Helena.
"Aku lelah pak langkahmu terlalu besar untuk ku ikuti membuat kakiku bukannya sembuh malah kebas dan tambah sakit." Helena meluruskan kakinya seraya memijat
"Makanya jalan dengan perlahan,"
Helena tidak mengubris ocehan Erfan malah meminta air, "Pak air aku haus sekali," Pinta Helena yang menurutnya kapan lagi seorang Erfan menuruti perkataannya jika bukan sekarang.
Kau harus menuruti perkataanku, kau harus bertanggung jawab!
"Duduk disini jangan berkeliaran, aku akan membeli air untukmu,"
Yes!
Helena tersenyum lebar menuruti perkataannya agar tidak pergi kemanapun, seraya melihat sekitarnya ramai dengan orang-orang bermain, berlari bahkan ada anak-anak yang ikut bersepeda sangat menyenangkan.
__ADS_1
Walau mereka tidak saling kenal ada beberapa orang yang lewat malah menyungingkan senyum dan sekedar menyapa saja.
Helena benar-benar sangat suka dengan suasana seperti ini dia seperti sangat diterima walau ditempat asing.
Hingga tiba-tiba ada seorang perempuan yang duduk di sebelahnya karena kelelahan setelah berlari
Helena hanya melihatnya dengan bingung, seperti pernah melihatnya disuatu tempat merasa wajahnya familiar.
"Apa lihat lihat?" Ucapnya sewot bahkan dengan wajah melotot.
"Gak ada maaf-maaf," Helena memilih meminta maaf dari pada dimarahi oleh orang asing.
"Loe baru disini?"tanyanya tanpa menoleh sedikit pun
"Ya baru dua hari,"
Loe gak tau gue siapa?
Helena menatapnya lekat seraya mengeleng kepala walau ragu, "Maaf saya tidak ingat, siapa Ya?"
"Ya ampun kamu Helena, benar-benar gak kenal aku ini Della!" Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri
"Della?"Helena mencoba berfikir keras tapi tidak mengingat siapa itu Della
Plakk.... Della memukul lengannya pelan. "Bener-bener kamu ya!, kita sekelas saat SMA Aku duduk di belakang kamu loh!" Gadis yang bernama Della terus menceritakan tentang dirinya.
"Ooo kayak nya aku ingat deh,"
"Ooo aja gitu, gemes aku sama kamu," Della mencubit gemas pipi Helena hingga memerah
"Apa yang kamu lakukan?" Sentak Erfan berjalan kearah Helena dengan cepat. "Jangan menyentuh dia, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Erfan karena Helena orang baru mungkin saja ada yang tidak suka dengannya
Helena mengeleng karena dirinya baik-baik saja, lagian untuk apa Erfan se khawatir ini padanya.
"Lena dia pacarmu?" Tanya Della
"Ya aku Pacarnya! Jadi jangan ganggu kami," Erfan pun merangkul Helena pergi dari sana meninggalkan Della yang kebingungan sendiri.
"Ada apa dengan lelaki itu, apa dia cemburu padaku? Tunggu sepertinya aku pernah melihat pria itu," Pikir Della dengan keras mencoba mengingat
Helena yang dibawa oleh Erfan juga tidak kalah bingung karenanya
"Ada apa ini kenapa kau mengaku jadi pacarku?"
****
Dukungan kalian adalah semangat Author untuk nulis dan untuk update terus. jangan lupa like coment and follow terus ceritanya.
__ADS_1