Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
56. Menghidar


__ADS_3

Helena bangkit dengan tertunduk malu, mau membantu Erfan bangun juga mungkin saja dia kesakitan.


Ya ampun apa yang kulakukan! Helena kau mulai tidak tau malu sekarang! Helena meruntuki dirinya sendiri


"Berhenti di sana, jangan mendekat!" Erfan mundur satu langkah besar .


Erfan dengan wajah merah padam karena malu pipinya memanas. Bagaimana tidak ini pertama kalinya ada perempuan yang berani menyentuh tubuhnya tambah tambah lagi dicium tentu saja membuat Erfan marah


"Berhenti di sana, jangan mendekat!" Bentak Erfan menghentikan langkah Helena yang ingin membantunya


"Ma-maaf pak aku tidak segaja!" Ucap Helena pelan merasa bersalah karena membuat Erfan marah.


Erfan berdesis kesal memegang lehernya yang merasa kebas karena ciuman Helena menjalar hingga telinganya juga ikut memerah.


"Pak, aku beneran gak ada hubungan apapun dengan lelaki bernama deon itu, tolong jangan usir aku pak!" Iba Helena mengenggam tangan Erfan yang melihat tidak berbohongan dan bersungguh-sungguh


"Pergi sana, jangan mendekatiku!" Erfan menyentak tangan Helena seraya mundur lagi dua langkah.


"Tapi, pak!" bantah Helena  tidak terima jika dirinya diusir dari sini juga, kemana dia akan pergi malam ini!!


"Terserah kau saja, jauhi aku!" Erfan makin mundur menjauhinya dengan terus memegang lehernya.


"Aaa terima kasih banyak pak!" Helena berjalan kearah Erfan memeluknya sangking senangnya hingga bergelantungan pada Erfan.


Untung saja Erfan masih bisa menopang tubuhnya karena Helena menubruk tubuhnya tadi


"Apa yang kau lakukan, Lepaskan aku!" Erfan menolak tubuh Helena hingga berjarak.


Helena karena merasa canggung melepaskan pelukan pada Erfan


Erfan pun berubah haluan berlengang pergi ke kamarnya dengan tergesa memegangi lehernya sedikit berlari menaiki tangga.

__ADS_1


Erfan membanting pintu hingga terdengar suara berdebam, membuat Helena yang masih berdiri di tempatnya terlonjak kaget.


"**** Apa yang gadis bodoh itu lakukan!"


"Apa ini lipstik miliknya kenapa bertambah merah!" Dengan kesal Erfan kekamar mandi untuk membersihkan lehernya, tapi sayang sungguh sayang bekasnya tidak mau hilang walau Erfan sudah hampir menghabiskan sabun satu botol


Erfan mulai mengatur napas yang menburu, perlahan menaik turunkan nafasnya untuk menenangkan dirinya karena memakai sabun tidak ada gunanya.


"Apa dia jenis makhluk penghisap darah yang tidak sengaja mengigitku hingga begini!" Kesal Erfan memandang cerminan dirinya di cermin


"Gila ini benar-benar tidak bisa hilang!" Erfan bahkan membanting botol sabun yang dipegang karena amarah juga tidak bisa mereda.


Sementara Helena didalam kamarnya hanya bisa berguling ke kanan dan kiri tidak bisa tidur seraya memegang bibirnya yang tidak tau diri


Apa itu tadi kenapa sangat lembut, kenapa aku baru sadar jika dirinya lebih-lebih tampan dari biasanya!


"Kulitnya benar-benar lembut," ucap Helena menutup wajahnya dengan tangannya sendiri membayangkannya.


Tapi percuma sesaat kemudian dirinya merasa pengap hingga membuka kembali selimutnya melihat langit-langit kamarnya.


"Aduh kenapa pake acara masih gak bisa tidur sih, padahal sudah makan walau belum kenyang." Helena menghela nafas panjang seraya memegang perutnya, karena tadi mienya hanya beberapa sendok saja dimakan dan tumpah begitu saja.


"Gimana ini aku malah untuk keluar karena tidak sengaja melakukan hal itu," cemas Helena mengengam tangannya sendiri.


Helena memilih merebahkan diri walau tidak bisa tidur dirinya terlalu malu jika bertemu dengan Erfan lagi walau mereka memang sering bertemu karena tinggal serumah.


...🌾🌾...


Pagi ini cahaya matahari sudah menampakkan dirinya diluar sana tapi perempuan yang berada di kamarnya ini masih bergeliat di atas tempat tidur mencari ponselnya yang berbunyi nyaring tapi entah dimana ia meletakkannya.


"Kemana perginya ponsel itu!" geram Helena bangkit dari tidurnya dan mencari ponselnya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


Padahal dirinya baru saja tertidur tapi entah mengapa alarm miliknya berbunyi lebih awal hari ini membuat dirinya kesal sendiri.


Hingga beberapa detik berikutnya Helena tersadar bahwa hari sudah pagi, Helena mengikat rambutnya asal tanpa memperdulikan ponselnya lagi.


Helena berkutat didapur setelah mencuci wajahnya memasak sarapan untuk semua orang.


Tidak perlu waktu lama semua makanan sudah terhidang begitu pun dengan bekal untuk dirinya dan juga Luna.


Helena pun kekamar Luna untuk membangunkannya tapi sepertinya Luna sudah mandi terdengar suara air di kamar mandi. Helena pun hanya memilihkan baju dan keluar untuk membersihkan diri


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian formal Helena kembali menghampiri Luna untuk menyiapkannya ke sekolah.


Sesudah itu mereka berdua duduk di kursi masing-masing bersiap untuk makan saling berpandangan sesekali melihat pintu kamar Erfan yang masih tertutup.


"Luna, bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu, sepertinya ayah bergadang semalam," ucap Helena menuangkan susu digelas Luna.


"Nanti Mama akan tulis catatan, yakin ayah tidak akan marah." Jelas Helena meyakinkan Luna.


Sebenarnya dirinya hanya ingin menghindar dari Erfan, tidak ada muka berjumpa pagi ini.


"Baiklah, dengan Mama, nanti ayah tidak akan marah," ucap Luna mulai makan makanan dengan lahap.


Mereka makan dengan sesekali melempar senyum karena makanannya enak.


Setelah itu Helena buru-buru mengambil tas dan juga ponselnya yang didapat setelah merapikan tempat tidurnya.


Taksi sudah menunggu didepan lobi apartemen, Helena langsung naik bersama Luna setelah memastikan taksi itu yang dipesan.


Akhirnya Helena bisa bernafas lega saat mobil melaju membelah jalanan yang masih senggang.


Akhirnya aku tidak perlu bertemu dengannya pagi ini atau aku akan sangat malu.

__ADS_1


***


__ADS_2