
...Happy reading...
"Hidupku terlalu pelik" gumamnya mengistirahatkan tubuh yang lelah sejenak.
Begitu lelahnya berkurang Helena bergegas kekamar mandi didekat dapur untuk mandi, ia merasa sangat gerah karena banyak yang harus dikerjakan.
Dilihatnya Erfan dan putrinya sedang didapur menyiapkan makan siang walau gadis kecil bernama Luna itu hanya berceloteh seraya memakan camilannya.
"Ayah bagaimana jika kita jalan-jalan sore ini?" tanya nya terus menyuap cemilan kedalam mulutnya.
"Kau mau pergi kemana sayang?" Ucap Erfan tanpa melihat putrinya yang duduk dimeja makan.
"Hmm, bagaimana kalau ditaman?" Gadis kecil itu memberi solusi.
"Baik kita bisa membuat beberapa cemilan juga." Erfan masih terus berkutat dengan kompor dan wajan.
"Eh kak Hantu cantik mau kemana?" sontak saja Erfan ikut menoleh melihat Helena, yang diberi nama Hantu oleh putrinya.
"Mau kekamar mandi dulu," Helena membalas dengan senyum kikuk entah kenapa panggilan dari gadis kecil ini mampu membuat dirinya salah tingkah.
Gadis kecil itu mengangguk paham, begitu Helena tepat berada didepan kamar mandi lagi gadis bernama Luna ini menghentikan langkahnya.
"Tunggu kak, apa kau mau pergi bersama kami ke taman untuk bermain ditaman?" Luna mengajaknya serta entah kenapa ia begitu menyukai Helena.
"Sayang, kau lupa bahwa dia itu kakak Hantu bagaimana dia keluar siang hari, bisa-bisa dia hangus nanti," ejek Erfan bukan pada panggilan putrinya tapi pada Helena yang bertambah kikuk.
"Tapi ayah! kemarin aku juga melihat kak Hantu cantik ini keluar dengan membawa koper tapi dia tidak kenapa-kenapa, masih cantik,"
"Jadi kak hantu cantik boleh pergi dengan kita. Ya ya?" pintanya mengiba.
Helena melihat Erfan yang membelakangi dirinya dan ia mengangguk menyetujui ajakan Luna, asal putrinya bahagia.
__ADS_1
"Yeay ayah, kita akan pergi bersama!" Luna mengangkat tangannya tinggi menandakan betapa senang hatinya.
"Emm, Luna panggil saja kak Helena, sebenarnya kakak sangat takut dengan hantu jadi panggil kak Helena saja yah?" Helena bicara pelan didekat Luna.
Luna mengangguk dengan patuh.
Helena masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena dia sudah sangat merasa lengket setelah membereskan kamar yang akan ditempati nanti.
Seusai mandi Helena memilih mendandani Luna terlebih dahulu dengan gaun merah muda kesukaannya, jepit rambut dan sepatu yang berwarna senada.
Sebenarnya hal ini Erfan yang menyuruhnya tapi Helena dengan senang hati mengerjakannya karena Luna terlihat manis dan tidak terlalu manja.
Helena menguncir dua rambutnya yang membuat Luna terlihat makin imut hampir terlihat seperti boneka.
"Luna cantik sekali," ucap Helena gemas mencubit pipinya pelan malah membuatnya tertawa.
"Kak hantu, kakak juga cantik, mau kah jadi mama Luna?"
"Benar, Luna pengen punya mama kayak kakak hantu baik, bantu Luna mandi bahkan menyisir rambut Luna,"
Apa Luna tidak mendapatkan kasih sayang sesederhana ini dari ibunya dulu?
Helena melihat raut wajah sedih Luna membuat dirinya tidak tega dan membawa Luna dalam pelukannya.
"Luna jangan sedih boleh kok panggil kak Helena mama, tapi jangan sampai ayah tau, janji!" Helena memberi jari kelingking
Lagian tidak ada yang salah dari sebuah panggilan yang penting membuat orang disekitar kita tersenyum
"Janji!"balasnya bersemangat menautkan jari kelingking mereka berdua.
"Yeay Luna sudah punya Mama Helena!" riangnya melompat di tempat tidurnya. Helena ikut senang melihatnya.
__ADS_1
Setelah terjadi drama kecil dengan Luna sekarang gilirannya berganti pakaian yang cocok untuk pergi ketaman bersama Luna dan ayahnya yang dingin itu. Helena berputar melihat gaun yang di kenakan.
"Perfect" ucapnya pada pantulan dirinya dicermin yang nampak cantik dan tak lupa memakai hell lalu berlengang keluar kamar.
"Luna cantik sekali" Erfan melihat putrinya menunggu dirinya dengan bekal yang sudah dibungkus untuk dibawa.
"Ayah!" panggil Luna melihat ayah ayahnya mendekat dan mencium pipinya yang tembem.
"Ma...eh kak Helena yang mendandani seperti ini, bagaimana?" hampir saja Luna keceplosan mengucap Mama.
Helena berjalan kearah mereka berdua ingin sekali rasanya ia mencubit pipi Luna tapi ada Erfan yang menengahi mereka.
"Ayo pergi." ajak Erfan berjalan terlebih dahulu membawa beberapa barang sementara Helena menggandeng tangan Luna menuju lift yang sama.
Begitu sampai didekat mobil Erfan memasukkan barang dalam bagasi sementara Helena dan Luna sudah duduk dalam mobil
Erfan langsung duduk dikursi pengemudi, menyalakan mobil dan melaju membelah jalanan yang cukup padat.
Dalam perjalanan Helena dan Luna bercengkrama dengan akrab bahkan Erfan yang berada didepannya tidak diajak bicara sama sekali.
Erfan berdesis tidak terima dan menatap mereka berdua melalui kaca spion tapi mereka tidak memperdulikan dirinya
"Luna apa kau mau es cream?" Erfan menawarkan es cream padahal tidak mau sang putri kecilnya mengabaikan dirinya.
"Bolehkah. Kemaren Luna sudah memakan 3 es cream sekaligus nanti ayah marah," Luna sempat memberi tahu ayahnya bahwa paman Yolan memberinya banyak es cream.
"Ooh Ayah lupa," kilah Erfan tersenyum
"Tentu saja ayah 'kan sudah tua." ucapnya dengan cekikikan diikuti Helena yang menahan tawa agar tidak pecah disini
Erfan menatap Helena melalui spion mobil dengan tajam"Kau kenapa kau juga tertawa?"
__ADS_1
****