Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
76. Akan membuatmu tersenyum


__ADS_3

Helena bangkit berjalan pelan kearah Erfan seraya mengenggam kalung perak itu di dadanya, tubuhnya terasa lemah hingga akhirnya luruh diatas jalanan


"Helena!" Erfan berlari padanya yang sudah terkulai lemas tidak sadarkan diri, sesekali menepuk pelan pipinya bahkan menguncang tapi tidak kunjung membuka matanya


Erfan membawa Helena kedalam mobil dengan khawatir sesekali memanggil nama gadis di depannya ini.


"Helena bangun, bangun! ini akibatnya kau keras kepala!" sempat-sempatnya ia memarahi wanita yang telah pingsan itu.


Erfan membawanya kedalam mobil segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh walau hujan lebat, ia tidak peduli. keselamatan Helena adalah yang utama sekarang


Erfan pun langsung membawanya kerumah sakit terdekat karena apartemennya lebih jauh lagi jaraknya.


Raut wajah khawatir terpancar begitu saja diwajahnya, apa lagi melihat Helena yang diam dirinya bertambah khawatir.


Beberapa bulan hidup dengan Helena, Erfan bahkan hampir tidak pernah melihat sosok wanita ini menangis, hanya pernah melihat dirinya nampak menyedihkan saat tidak diberi gaji, dia hanya sering marah tanpa sebab yang membuat Erfan terbiasa.


Erfan mengendong Helena lagi saat sampai di dalam sebuah klinik yang tidak terlalu besar itu, ia meminta dokter melakukan pertolongan pertama pada Helena


Helena dimasukkan kedalam salah satu ruangan untuk diperiksa keadaannya, seorang dokter dan beberapa perawat juga.


Tidak lama seorang perawat mengantar barang Helena.

__ADS_1


"Tuan ini barang pasien silahkan Anda simpan dulu," Perawat itu membawa jam, kalung perak itu dan juga tas yang dipakai Helena tadi


"Terima kasih, apa dia baik-baik saja?" tanya Erfan mendongak melihat perawat didepannya.


"Sebentar lagi dokter akan mengatakan pada Anda," ucap Perawat itu dan kembali masuk kedalam ruangan tadi tanpa memberi jawaban pasti


Erfan melihat barang Helena yang ada di sebelahnya pandangannya tertuju pada kalung perak yang tadi digenggam oleh Helena tadi.


Dilihatnya dengan saksama, tidak ada yang beda tapi saat dibalik liontin itu tertera huruf F yang pernah dilihat dan dibuat sendiri dimasa lalu


"Apa dia benar-benar Zira? Gadis kecil yang putus asa itu? Helena Queenzira?" Erfan mengingat kembali nama panjang Helena benar saja itu jawabannya "Kenapa aku baru sadar itu nama Helena diakhiri dengan nama Zira bukankah sama saja?" Erfan menerka sendiri tentang Helena dan juga Zira.


"Diusia 10 tahun ayahku meninggal dunia, setelah saat itu aku juga melakukan hal yang sama membiarkan air hujan membawa duka yang ku rasa!"


Erfan teringat perkataan Helena tadi, dia menangis seolah membuka luka yang dulu dirasakan yang terasa begitu perih.


"Jadi saat itu ayahnya baru meninggal pantas dia sedih sekali bahkan tidak melihat sekitarnya." gumam Erfan makin terlihat sendu mengingat gadis kecil itu hampir ditabrak oleh mobil.


"Pak kau harus tau, orang yang memberiku kalung ini adalah penyemangat hidupku selama ini, walau aku tidak mengenalnya."


"Dipanti asuhan itu aku melihat banyak orang anak-anak seusia ku, aku tidak  mengenali mereka begitupun sebaliknya tapi mereka sangat hangat dan menyayangiku walau hanya sesaat!"

__ADS_1


Ucapan Helena seperti tergiang ditelinganya tanpa sadar membuat air matanya jatuh begitu saja.


"Zira apa kau sungguh menganggap diriku sebagai penyemangat hidupmu, takdir mempertemukan kita, melihat kesedihanmu entah kenapa aku juga merasa sakit!"


"Bagaimana kau melanjutkan hidup dengan membawa kesedihan bersamamu!" Erfan mengenggam erat kalung yang dipakai Helena tadi, menoleh kearah ruangan tempat Helena berada.


Entahlah Erfan harus bagaimana, dirinya merasa sedih mengingat semua hal yang dikatakan oleh Helena tapi disisi lain dirinya merasa bahagia bertemu dengan gadis kecil itu lagi.


"Yakinlah mulai sekarang aku akan membuat dirimu selalu tersenyum, dan Luna juga pastinya." ucap Erfan bersungguh-sungguh.


Erfan kembali teringat saat Helena menemukan sebuah foto berisi mereka berdua.


Ahh aku tau kau pasti mengingatku saat itu. pantas saja kau terlihat sangat terkejut dengan hal itu. Erfan menghela napas berat mengingat hari itu saat dirinya memarahi Helena hanya karena sebuah foto.


Erfan merasa menunggu sangat lama diluar walau sebenarnya tidak selama itu, Erfan buru-buru bangkit saat melihat dokter keluar bersamaan dengan para perawat lainnya.


"Dokter apa dia baik-baik saja?" tanya Erfan khawatir


Dokter sekilas menghela napas panjang dan mulai menjelaskan keadaan Helena pada Erfan yang terlihat khawatir menjadi lega.


***

__ADS_1


__ADS_2