
...Happy reading...
Akhirnya ia melihat mereka, Luna sedang bermain sementara Helena yang sedang memakan buah anggur dengan saling tertawa riang dengan ibu-ibu di sebelahnya .
Erfan langsung menuju putrinya yang sedang bermain dan melewati Helena.
"Ehem, Luna!" Erfan menyentuh bahu putrinya hingga ia berbalik
"Ayah, kau datang!" Serunya langsung memeluk kaki ayahnya dan bergelayut manja.
Erfan membawa Luna dalam gendongannya membawanya pada Helena "Tentu saja, sayang." Erfan duduk di sebelahnya dan memangku Luna
"Ayah coba cicipi juga!" Luna mengambil buah anggur itu dan menyuapi sang ayah yang langsung mengunyahnya.
"Hmm manis seperti Luna!"
"Ayah bisa saja," balasnya dengan senyum menghiasi wajahnya
Luna meminta turun dari pangkuan ayahnya dan berlari kearah teman serta gurunya seraya membisikkan sesuatu meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa kau berbohong?"tanyanya dengan ketus dan Helena sudah terbiasa karena itu.
"Aku tidak berbohong!" Helena menjawab apa adanya "Em tadi memang Luna terus bertanya tentangmu," lanjutnya beralih memakan biskuitnya.
Erfan menyipitkan mata melihat Helena yang salah tingkah karena terus dipandangi oleh pria di sebelahnya itu.
"Sudahlah tuan, duduk dengan tenang dan makan anggur yang kami dapatkan tadi,"
Helena langsung menyuapi beberapa buah anggur sekaligus walau takut-takut dengan tatapan tajam Erfan hampir melubangi tubuhnya.
Helena ingin mengikuti langkah Luna tapi lagi-lagi lengannya ditarik hingga terduduk di sebelah Erfan, bukan begitu saja bahkan mereka sudah dekat sekali hingga Helena bisa mencium aroma parfum pria ini.
__ADS_1
"Katakan apa maksud kau berbohong?" Erfan kembali bertanya hal yang sama
"Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak berbohong!"
"Lalu?"
"Lalu apa? Aku...aku tadi berkata bagaimana jika Luna menangis karena menanyakan tentangmu." Balas Helena ingin kesal rasanya.
"Aku tidak mendengar kau mengucapkan itu tadi!" Erfan masih dengan mode serius bahkan tangan Helena masih di pegang.
"Aku tidak berbohong percayalah"
"Kalau begitu tatap mataku!" Erfan menarik tangan Helena hingga pandangan mereka beradu, mungkin Erfan pernah mendengar jika menatap mata orang yang berbohong pasti ia akan jujur akhirnya.
Bukannya menemukan kebohongan Erfan merasa jantungnya berdetak hebat, tidak berbeda jauh darinya Helena pun merasa hal yang sama hanya saja bertambah diliputi rasa takut.
"Ayah!" Luna sudah berada di depan keduanya membuat mereka menoleh.
"Tidak ada ayah." Luna menempatkan diri duduk di antara mereka
"Perhatian semuanya! sekarang ada perlombaan untuk para orang tua, lihat disana! beberapa jenis anggur disana ada pohon anggur yang dibuat setinggi mungkin," guru Luna menunjuk pohon dan dahan anggur memang sangat tinggi.
"Para orang tua harus bersama memetik buah anggur tersebut sebanyak mungkin dan yang menang bisa anaknya menerima hadiah alat melukis lengkap dan semua anggur yang dipetik boleh dibawa pulang!"
"Waaahhhh!" Semua orang disana bersorak sorai senang dengan hadiah yang ditawarkan oleh pihak perkebunan ini.
"Kenapa sayang apa kamu suka?" Tanya Erfan melihat mata putrinya berbinar
"Iya, Luna suka, ayah!" Balasnya bersemangat
"Nanti kita beli saat pulang ya?" Erfan kembali duduk lesehan.
__ADS_1
"Hah? gak mau!" Cebik Luna melipat tangan di depan tubuhnya dan berbalik membelakangi ayahnya.
Plaak... Helena dengan beraninya memukul lengan Erfan dengan cukup keras bahkan suara pukulan itu terdengar nyaring.
"Beraninya kau memukulku!" Erfan langsung menoleh pada pelakunya dengan tatapan tajam seakan bisa memancarkan listrik.
"Hehe maap Pak, anda ini bagaimana, anak kecil pasti pasti ingin memenangkan sesuatu tidak semua mesti dibeli dengan uang, benar begitu 'kan Luna?" tanya Helena setelah menjelaskan panjang lebar.
"Benar begitu sayang?" Erfan ikut bertanya dijawab Luna anggukan cepat dengan wajah imutnya
"Tuh kan apa aku bilang, dia pasti mau yang begitu kemenangan!, ya kan?" Helena berlutut mensejajarkan dan meminta tos yang dibalas oleh Luna.
"Ck. Kenapa orang tua harus ikut lomba macam ini gak ada faedahnya!" Cebik Erfan malas dengan suara kecil tapi masih bisa didengar oleh kedua perempuan itu.
"AYAH!!!"
"Iya sayang."Erfan gelagapan sendiri
"Pokoknya Ayah sama kak Helena harus ikut titik." Luna memutuskan bahwa mereka berdua harus ikut.
"Tapi dia!" Erfan melihat Helena dengan ragu
"Ayah ayolah ya ya?" Pintanya memohon
Erfan menghela napas panjang, Inilah dia yang sangat menyayangi putrinya bahkan tidak tega menolak permintaan anaknya, jika tidak pasti putrinya akan marah hingga berjam-jam.
Bukannya tidak pandai membujuk hanya saja akhir akhir ini Luna seakan punya trik untuk mengerjai dirinya. Dari pada kena lebih baik ia menurut saja.
"Baiklah sayang ayah bakal ikut, Luna tunggu di sana dengan guru yah"
****
__ADS_1