
...Happy reading...
Di sini lah Helena dan Erfan bersiap untuk memulai perlombaan yang tidak masuk akal ini menurut Erfan karena memang dirinya masih bisa menjangkau anggur itu.
Erfan sebenarnya malas untuk ikut serta dalam hal seperti ini tapi tetap dipatuhi walau dengan wajah ditekuk.
"Pak, anda baik-baik saja?" tanya Helena membuat Erfan menoleh melihatnya
"Menurutmu!" Balasnya ketus yang membuat Helena tidak bertanya lagi.
Ck. Marah saja, Entah terbuat dari apa hatinya hingga marah setiap saat, heran aku
Helena bergidik ngeri berdiri di samping Erfan karena lomba ini berpasangan.
"Siap semuanya, para ayah! angkat istri anda masing-masing di pundak agar bisa meraih buah anggur yang tinggi itu, siap!!" Ucap salah satu guru bertanya pada semua peserta
"Siap!" Jawab semua orang tua yang ikut serta termasuk Helena yang terlihat bersemangat.
Berbeda dengan Erfan bukannya bersemangat dirinya malah seperti tidak punya tenaga untuk ikut serta bahkan berlutut dengan malas.
"1, 2, 3 mulai!" Guru cantik itu meniupkan peluit sebagai tanda bahwa lomba baru dimulai.
"Ayo pak angkatnya tinggi sedikit lagi!" Helena sudah bersiap memotong tangkai anggur dan juga keranjang yang diberikan tadi.
"Ini kan memang sedang aku angkat, kau kira kau masih menapaki tanah!" Balas Erfan ketus
"Hehe mana guntingnya?" Helena mengulurkan tangan begitu melihat anggur di dekatnya
"Bukannya tadi ada pada mu!" Erfan kesal sendiri entah karena apa.
"Tidak ada, coba lihat di dalam keranjangnya!"
Dengan malas Erfan memberi keranjang yang berisi guting untuk memotong tangkai anggur sekaligus pada Helena
__ADS_1
"Pak, keranjangnya kau yang pegang keranjang ini!" Pinta Helena karena akan susah memotong tangkainya.
"Ck. Kau saja yang pegang, dan cepat petik anggurnya yang banyak," balas Erfan
"Aku kesusahan jika terus memegang keranjang seperti ini!"
"Kau cerewet sekali sini biar aku yang pegang, petik cepat!" cebik Erfan merebutnya kembali keranjang karena kesal menggantungkan di lehernya
"Kiri, kiri dikit pak buahnya banyak disana!" Refleks Helena memukul kepala Erfan ingin menunjukkan sesuatu.
"Jangan pukul kepalaku berani sekali kau!, mau aku usir kau!" ancamnya kesal ingin rasanya menurunkan wanita ini dengan kasar
"Hehe gak mau pak, eh lewat itu, lewat lewat!"
Sekali lagi refleks Helena menarik rambut Erfan karena kelewatan tempat yang dituju karena langkah besar Erfan.
"Gimana sih, jangan tarik-tarik sakit tau! tadi kamu bilang kiri, mana sih!"
Erfan mendongak malah pandangan mereka berdua yang bertemu membuat Helena menoleh kearah lain.
"Itulah karena kamu cerewet, berat, susah aku dibawah gini, cepat petik yang banyak." Erfan Perlahan melangkah.
"Diam pak biar saya petik disini dulu, udah-udah didepan ada tiga tangkai besar cepat pak!" Helena memetik dengan senangnya, ingin rasanya membuat kue dari anggur.
"Kamu ini ngomong pelan aja napa! sakit telingaku!" Kesalnya
"Makanya cepat c kita harus menang, nanti kalau Luna nangis bagaimana? salah bapak loh ya." Helena mengancam Erfan
"Loh kenapa aku, ini lagi usaha juga buat dia, putriku!" Erfan menepuk dada bahwa Luna putrinya.
"Ya karena dia tidak dapat hadiah, hayo cepat!"
"Sabar, kamu jangan goyang gitu jatuh nanti baru tau rasa,"
__ADS_1
"Kalau berani! cepat pak, didepan itu!"
Helena terus saja berceloteh tidak ada habisnya tapi dengan sigap tangannya memetik buah anggur
Erfan hanya bisa menahan amarahnya dengan mengepalkan tangan kesal. Bagaimana tidak kesal rasanya rambutnya sudah banyak rontok karena ditarik.
Sepanjang lomba mereka hanya berdebat karena masalah kecil.
"Cepat, kamu berat sekali!" Bukan karena pegal tapi karena kesakitan rambutnya sebagian pasti tidak selamat.
"Iya dikit lagi pasti kita yang banyak!"
Pliitttt
"Selesai semua bisa turun dan beristirahat!" Ucap guru cantik seraya meniup peluit tanda permainan berakhir.
Akhirnya Erfan bisa merasa lega karena terbebas dari perempuan ini, ia langsung terduduk di atas rerumputan mengistirahatkan kakinya seakan kesakitan mencari simpati putrinya.
"Loh bapak kenapa?"
"Kamu berat sekali jadi membuat kakiku kesakitan," keluh Erfan memijit kakinya sendiri.
"Masa sih pak, jelas aku lansing singset begini beratku gak sampai 50 kg, kok dibilang berat atau bapak ya yang gak kuat, jadi lelaki kok lemah," cibir Helena tepat mengejek Erfan
"Apa kau bilang?" Erfan yang dikatai begitu seakan matanya memancarkan api yang bisa membakar tubuh Helena
"Ya kan kenyataan pak," Helena mengangkat bahu ikut duduk di sebelahnya
"Kau!"
Perkataa Erfan terpotong melihat Luna berlari kecil menghampiri dirinya dan juga Helena. "Kak Helena hebat!" Pujinya
"Loh kok dia sih yang hebat!"kesal Erfan menunjuk Helena dengan amarah.
__ADS_1
****