
Erfan menghela napas panjang karena Helena tidak mau makan ataupun tidur dengan tubuhnya yang sudah sangat lemah. Ia kembali duduk tegap.
"Kau tidak mau makan, tidak mau tidur juga, kau sebenarnya mau apa?" tanya Erfan dengan lembut membuat Helena terdiam seraya tertunduk dalam
"Kenapa kau tetap tidak mau makan? walau bubur ini aku yang beli, aku tidak memasukkan kedalam list hutangmu, paham!"
"Tidak aku tidak mau!" ucap Helena, terlihat wajah dan bibirnya yang pucat
Erfan menyugar rambutnya frustasi kembali duduk di kursi disamping tempat tidur dan meraih kotak bubur.
"Kau tetap harus makan!" putusnya tidak mengindahkan perkataan Helena
Terlintas ide gila dibenak Erfan, ia pun makan dua sendok sekaligus seraya memegang tekuk Helena seraya menariknya hingga bibir mereka berdua saling bertemu yang membuat Helena terpaku.
"Kau, apa yang kau lakukan!" tanya Helena dengan kasar mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
"Ingin aku menyuapi bubur ini, kau mau aku lakukan seperti barusan hingga habis?" balasnya dengan senyum polos.
Aarghh beraninya dia menciumku dengan sengaja! ingin rasanya aku jambak rambutnya itu! Helena berteriak dalam hati
"Erfan!" bentak Helena kesal.
"Iya sayang," jawab Erfan masih dengan senyum manisnya, apa lagi melihat rona merah di pipi Helena yang malah bertambah imut di matanya.
Beerrrr....
Helena merasa meleleh dengan perkataan Erfan tapi masih bisa menyembunyikan senyum dengan mengalihkan pandangannya
"Kau marah juga perlu energi dan energi didapat dari makanan, jadi habiskan makananmu, cepat!"
Terpaksa Helena patuh menerima setiap bubur yang disuapkan oleh Erfan hingga habis tidak bersisa walau sebenarnya dia tidak suka bubur itu.
Ini bubur atau apa, tidak ada rasanya sama sekali! gerutu Helena dalam hati
Selesai makan Erfan menyodorkan gelas berisi air putih pada Helena untuk diminum, sesekali Helena melirik Erfan yang melihatnya lekat
__ADS_1
"Sudah!" Helena kembali menyerahkan gelas berisi air putih pada Erfan yang kemudian diletakkan di atas nakas
"Baiklah, sekarang tidurlah sebentar lagi pagi," ucap Erfan membetulkan selimut Helena dan juga bantalnya.
"Tapi,"
"Jangan membantah, jika tidak...." Erfan kembali mengancam belum selesai ia bicara Helena sudah memotongnya
"Iya-iya aku akan tidur!" Helena menarik selimut menutupi tubuhnya tidur membelakangi Erfan.
Erfan akhirnya bisa bernapas lega, melihat Helena yang tidur membelakangi dirinya.
"Tidurlah dengan nyenyak!" Erfan mengusap pelan puncak kepala Helena dan dirinya merebahkan kepala di pinggir tempat tidur, karena dirinya juga perlu tidur walau sebentar.
Pagi datang, Helena merasa terusik dengan cahaya matahari yang menyilakan masuk dari jendela rumah sakit. Helena bangkit dari tidurnya hingga terduduk.
"Kau sudah bangun?" Helena mengedarkan pandangan hingga menemukan keberadaan Erfan yang duduk di sofa
"Cuci wajahmu dikamar mandi dan juga ganti bajumu, kita pulang sekarang!" lanjutnya menaruh ponselnya beralih melihat Helena.
Kemana aku harus pulang, aku sudah diusir oleh Keysa dan ibu Erfan marah padaku, aku akan pulang kemana?
"Ya pulang aku tidak mau menginap lagi di rumah sakit, karena kau sudah diperoleh pulang setelah sadar semalam." jelas Erfan berdiri di samping tempat tidur
"Pulang kemana?" Helena bertanya dengan meremas jemarinya sendiri dalam pangkuan seraya menunduk dalam, tiba-tiba terasa Erfan mengusap puncak kepalanya
"Tentu saja ke apartemenku, kemana lagi? Cepat ganti bajumu. Aku tunggu diluar." Erfan tersenyum sekilas dan keluar dari ruangan rawat inap.
Terima kasih kak Fan, kau sangat baik padaku. Gumam Helena tersenyum tipis melihat punggung Erfan yang hilang di balik pintu
Setelah Helena selesai berganti pakaian ia dirangkul Erfan ke mobilnya, setelah duduk bersebelahan Erfan pun memacu mobilnya pulang kerumahnya
"Helena apa benar itu kau?" tanya Erfan setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Hah?"
__ADS_1
"Kalung ini milik siapa? Apa milik pacarnu?"
"Pacar? mana mungkin aku punya pacar!"
"Benarkah? Maksudku...." Erfan tidak bisa melanjutkan perkataannya karena merasa ragu pada dirinya sendiri
"Apa maksudmu?"
Erfan akhirnya memilih menepikan mobilnya di jalanan yang tidak terlalu ramai, lalu berhadapan dengan Helena
"Maksudku apa ada kesempatan untukku?"
Helena melihatnya dengan bingung "kesempatan apa?"
Erfan menghela napas panjang mencoba menetralkan jantungnya yang mulai berdetak kencang
"Berikan aku kesempatan untuk mengejarmu, mau kah kau memberi kesempatan?
Helena terkejut seakan semua ini seperti mimpi, Erfan juga punya perasaan padanya! betapa senang hatinya.
"Apa?" tanya Helena memastikan isi pikirannya
"Aku ingin mengejarmu, ingin membuat kau tersenyum bahagia setiap hari, ingin yang terbaik untukmu, dan maukah menjadi ibunya Luna?" ucap Erfan panjang lebar seraya mengengam tangan Helena penuh harap agar diterima
Baiklah aku terima! Batin Helena tapi pada nyatanya dirinya kembali teringat dengan perkataan ibu Erfan kemarin. "Beri aku waktu untuk memikirkannya "
Helena melepaskan tangan Erfan pelan, dan memalingkan pandangan keluar jendela mobil.
"Baik, setidaknya kau tidak menolakku." Erfan kembali melajukan mobil menuju apartemennya.
Aku ingin menolakmu, tapi aku tidak bisa melakukannya! Luna dan kau sama berartinya dalam hidupku. Aku tidak ingin semua ini hilang dalam semalam.
Helena tetap melihat keluar jendela, tanpa terasa air matanya luruh begitu saja tanpa diminta.
*****
__ADS_1