Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
72. Pandangan Berubah


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah itu mereka bicara seputar anak dan berujung pada pembicaraan bisnis, Helena sesekali menimpali hingga akhirnya mereka memilih pamit.


"Baiklah, Van kami pamit dulu, anakmu juga cantik mirip dengan putriku." puji Erfan mengusap puncak kepala anak perempuan yang berulang tahun.


"Terima kasih, paman!" balas anak perempuan itu menunjukkan senyum yang mengemaskan.


"Sama-sama."


"Bibi cantik, terima kasih juga sudah datang ke ulang tahunku!" lagi-lagi dengan menggemaskan gadis kecil berterima kasih.


"Waahh dia sangat manis!" Helena berlutut mensejajarkan posisi dengan anak kecil ini.


Sepanjang perjalanan pulang menjemput Luna mereka berdua tidak buka suara hingga akhirnya kembali tiba dirumah neneknya tadi.


Helena masuk beriringan dengan Erfan yang malah melihat sekitar mencari keberadaan putrinya diruang tamu yang luas itu.


"Kalian kembali?" tanya Ibu Erfan menyapa mereka berdua yang baru saja masuk kedalam rumah


"Iya Ma di mana Luna??" Erfan langsung bertanya tentang Luna karena sejak masuk tidak melihat keberadaannya


"Dia sedang tidur di kamarnya istirahatlah sebentar, kalian bisa sekalian makan siang di sini juga kan?" balasnya dengan senyum pada Helena


"Baiklah, Ma!"Erfan pun berlengang pergi ke kamar putrinya, yang berada dilantai atas meninggalkan Helena bicara dengan ibunya

__ADS_1


Helena ditarik tangannya agar duduk disebelah Nenek Luna ini yang sering dipanggil oleh Helena Bibi Resty.


"Ayo Helena duduk di sini bersamaku," ajaknya menarik tangan Helena supaya duduk bersamanya bahkan mengenggam tangannya.


"Helena coba ceritakan tentang keluargamu?" tanyanya antusias entah kenapa rasanya Resty nama ibu Erfan sangat ingin mengetahui tentang keluarga perempuan yang berhasil membuat Erfan tersenyum dan Luna juga sangat bahagia


"Ayahku sudah meninggal saat usiaku 10 tahun,Bi." jelas Helena tentang ayahnya karena memang kepergian ayahnya sangat berpengaruh pada dirinya


"Maaf, Bibi tidak tau," balasnya mengusap punggung tangan Helena


"Tidak apa, Bibi tidak tau, itu memang takdirku," ucap Helena menyungingkan senyum ikut mengengam tangan neneknya Luna ini.


"Ibuku menikah lagi yang otomatis aku punya adik tiri yang perempuan dan ibuku juga 9 tahun lalu melahirkan seorang adik laki-laki."  jelas Helena panjang lebar tentang keluarga yang seperti tidak menganggap dirinya itu.


"Sesekali kau bisa mengajaknya kesini bisa bermain dengan Luna,"


"Lalu siapa nama orang tuamu? jangan salah paham mungkin saja aku mengenal keluargamu?" Tanya Resty lembut


Helena mengigit bibir diam sejenak, dia tidak ingin menyebut nama ayahnya maupun nama ibunya tapi Resty sungguh menantikan jawaban dari mulutnya


"Calvin Falcon dan Fara Lusyana," jawab Helena sontak saja Resty terkejut tidak percaya.


Disatu sisi Calvin Falcon adalah orang kepercayan keluarganya tapi dulu berkhianat hingga tidak bisa masuk lagi kedunia bisnis lagi dan setelah penyelidikan memang Calvin Falcon tidak berkhianat.


Tapi di sisi Lain ibunya Fara Lusyana adalah wanita yang merebut pria yang sudah beristri hingga membuat istri sah itu tewas karena tidak rela suaminya menikah lagi.

__ADS_1


"Ka-kamu!" tunjuk Resty dengan amarah pada Helena hingga terbata-bata, bangkit dari duduknya.


"Ada apa bibi?" Helena khawatir melihat raut wajahnya berubah merah padam, ia bangkit dan mendekatinya supaya tenang


"Pergi kamu! Dasar anak wanita *******, beraninya kau mendekati Erfan!" bentaknya membuat Helena mundur satu langkah, dengan tubuhnya mulai gemetar.


"Bibi a-apa maksudmu?" tanya Helena tidak tau apa titik masalah yang sedang ia alami sekarang hingga membuatnya marah.


"Jangan panggil aku Bibi karena kau tidak pantas, ibumu itu wanita yang tidak tau malu pantas saja, kau juga sama dengannya yang tidak tau malu malu tinggal dirumah Erfan!" teriaknya dengan penuh amarah bahkan gurat bahagia yang biasa Helena lihat sudah tidak ada


"Bibi apa maksudmu? A-aku tidak...."


"Ibumu merebut pria kaya yang sudah menikah seperti Tara marten yang saat itu masih beristri, benar-benar tidak tau malu, pergi!"


Helena melihat api amarah diwajah wanita paru baya itu yang membuat tangannya ikut terkepal, bukan karena marah pada wanita didepannya tapi pada ibunya sendiri.


"Pergi!" bentaknya lagi tidak mau melihat anak ******* ini lagi, menunjuk pintu rumah yang masih terbuka lebar.


"Bi-bi!"


"Apa kau tidak mengerti, aku bilang keluar!" teriaknya dengan penuh amarah


Helena dibuat terlonjak kaget dibentak seperti itu ia melihat seisi rumah sekilas berharap Luna maupun Erfan tidak melihat hal ini, dia tidak sanggup jika dibenci oleh mereka berdua.


Helena berbalik dan berlari keluar sekilas ia melihat Erfan mulai menuruni tangga yang membuat Helena mempercepat langkahnya hingga keluar dari rumah itu

__ADS_1


Hancur sudah hati Helena karena hal ini, bagaimana bisa hanya karena nama ibunya dirinya diusir begini, kenapa dengan ibunya? Helena benar-benar merasa hancur mungkin setelah ini ia tidak bisa lagi bertemu dengan Luna.


****


__ADS_2