Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
69. Debaran apa ini?


__ADS_3

...Happy reading...


Helena menyemangati dirinya sendiri seraya berlari masuk kedalam gedung perkantoran supaya tidak terlambat absen.


Usai Absen dengan kartu karyawan akhirnya Helena menaiki lift bersama dengan karyawan lainnya hingga ke lantai 17.


"Kak Sindi selamat pagi!" sapa Helena seraya menaruh tas salempangnya di atas meja


"Pagi, Helena, apa kau sudah menyelesaikan berkas yang aku berikan kemarin?" tanya Sindy memutar kursinya beralih melihat Helena yang terlihat kelelahan.


"Sudah kak, ini!" Helena langsung menyerahkan berkas yang diminta oleh Sindy.


"Pagi gadis-gadis cantik!" sapa Anton yang baru sampai mengukir senyum di bibirnya


"Pagi kak, kau terlihat tampan hari ini!" puji Helena ikut tersenyum dan duduk di kursi kerjanya.


"Benarkah, terima kasih!" Anton bergaya tampan dengan menyugar rambutnya ke belakang dengan cool.


"Ck kau lupa aku sudah punya seorang anak apa cocok disebut gadis!" Gerutu Sindi kesal karena dirinya bukanlah seorang gadis lagi.


Helena hanya tertawa kecil melihat mereka berdua berdebat hingga Erfan akhirnya datang dan membuat mereka berdua terdiam dengan patuh tanpa diperintah.


Begitulah Helena melewati hari dengan semangatnya untuk mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhan hidupnya, sesekali tawa dan canda menjadi penyemangat yang ampuh untuk mengobati bosan saat bekerja.


Sore hari datang begitu saja, langit sudah kemerahan dan sinar surya mulai meredup menganti menjadi senja.


Anton dan Sindi masih berkutat dengan komputer di depan mereka berdua tanpa berniat bangun ataupun berbenah untuk pulang kerja.


"Kak Sindi, kak Anton apa kalian tidak pulang?" tanya Helena Helena sedang merapikan meja kerjanya sendiri sebelum beranjak pulang.

__ADS_1


Sindi memutar kursi melihat Helena di sebelahnya hampir selesai membereskan mejanya. "Aku harus mengerjakan beberapa berkas lagi sebelum pulang, kau pulanglah terlebih dahulu." Sindy menyuruh Helena pulang terlebih dahulu.


"Aku juga, ini akhir bulan, ada berkas yang harus diselesaikan dengan cepat atau kita akan puyeng tidak mencapai deadline," jelas Anton menghela nafas seraya meneguk kopinya.


"Apa aku perlu lembur membantu kalian mengerjakan beberapa berkas?" Helena menawarkan diri mungkin saja dirinya bisa membantu mereka berdua.


"Tidak Helena kau juga sudah bekerja keras, pulanglah, aku akan dijemput oleh suamiku nanti," balas Sindy tidak enak hati pada Helenam


"Benar kau seorang gadis tidak baik pulang malam nanti keluargamu akan khawatir," timpal Anton ikut menyuruhnya pulang.


Keluarga? Khawatir apakah begitu? Helena tersenyum miris membayangkan keluarganya bahkan sampai sekarang tidak ada yang bisa mencarinya kecuali kedua ayah dan anaknya itu


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu sampai jumpa besok daahh!" Helena merasa beruntung punya rekan kerja yang baik seperti mereka, ia meraih tas salempang dan turun ke lantai bawah untuk pulang.


Helena harus berjalan menyusuri trotoar, tidak jauh di depan sana ada halte bus, tiba-tiba saja ada mobil yang mengklaksonnya beberapa kali Helena jadi bingung sendiri, ada apa dengan mobil ini? pikirnya


Helena merasa bodo amat dan mempercepat langkahnya karena sebentar lagi sampai di halte bus.


"Pak Erfan!" Helena seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang, apa dia bermimpi?


"Apa yang kau lihat cepatlah masuk!" bentak Erfan membuat Helena seketika tersadar.


"Oh ya baik-baik!" Helena memutari mobil dan duduk di sebelah Erfan yang langsung melajukan mobilnya hingga sampai di rumahnya.


"Apa Luna sudah pulang pak?" tanya Helena tumben sekali Erfan tidak menjemput putrinya itu.


"Tidak hari ini dia dirumah neneknya?" balasnya tanpa menoleh sedikitpun hingga mobil terparkir sempurna.


Helena mengangguk kepala membenarkan perkataan Erfan yang keluar dari mobil tanpa kata diikuti oleh Helena yang mengikuti langkahnya agar seimbang.

__ADS_1


"Pak, bukannya tadi anda pulang cepat?" tanya Helena melihat raut wajah Erfan yang datar tapi terlihat sangat tampan.


"Hmm..." jawabnya singkat


"Oh ya Anda ingin makan apa malam ini?" Entah kenapa Helena sangat sangat ingin tau tentang pria tampan di depannya ini.


"Apa saja." Erfan berjalan cepat berharap bisa meninggalkan parkiran dan juga perempuan ini.


"Pak! Aaa!" Tapi naas karena tidak melihat jalanĀ  turun membuatnya oleng ke samping hingga merasa tubuhnya direngkuh.


Hap


Erfan menangkap Helena dalam pelukan, dari pada terjatuh lagi bisa gawat jadunya


Degh .. degh..


Entah suara degupan jantung siapa tapi terdengar jelas ditelinga Helena, hingga mata mereka bertemu cukup lama


"Debaran apa ini, apa karena mode absurd?"


Helena membatin tapi entah kenapa ia tidak mau melepaskannya begitu pun dengan Erfan yang ikut terhanyut dalam pandangannya masing-masing.


Tiiinnnn....


Mereka berdua tersentak saat mendengar suara klakson mobil yang Entah dari mana datangnya, Erfan dengan cepat melepas rangkulan dan berjalan terlebih dahulu.


"Ck siapa sih ganggu aja!" Gerutu Helena dalam hati tapi mulutnya pun ikut berkata serupa, Helena mengigit lidahnya sendiri karena salah ucap.


Helena pun berlari masuk kedalam apartemen terlebih dahulu meninggal Erfan disana dengan banyak tanya dibenaknya

__ADS_1


*****


__ADS_2