
...Happy reading...
Tiga hari tinggal bersama Erfan membuat keadaan Kaki Helena membaik dan hampir sembuh karena hari ini dia pulang sendiri kerumahnya
"Hey bisakah pinjamkan aku uang, sudah tiga hari aku tidak pulang keluargaku pasti mengkhawatirkan ku" Helena berkata pelan pada Erfan yang sedang memakai sepatunya bersiap untuk bekerja.
"Hutang yang awalnya harus kau bayar dalam 3 bulan bertambah menjadi 4 bulan sekarang, ini uangnya lusa datang ke perusahaan ZG jam 10 dan mulai bayar hutang dengan kemampuan mu" Erfan meletakkan uang pecahan 100 ribuĀ 1 lembar
" Aku tidak akan kembali lagi dan merepotkanmu, aku janji" janjinya pada Erfan.
"Hmm "jawabnya singkat.
"Terima kasih banyak " Helena melambaikan tangan pada Erfan yang bahkan tidak melihat dirinya.
"Wahh dia baik sekali tapi sayang pelit" Helena berdecak tidak suka pada sikap Erfan yang pelit dan perhitungan, andai diberi lebih banyak uang.
Helena langsung berganti bajunya dikamar mandi, ia akan pulang hari ini setelah 3 hari tidak memberi kabar atau sekedar mengirim pesan pada ibunya.
"Kakiku sudah sembuh, tapi aku harus menjaganya agar tidak lecet lagi " Helena mengenakan sepatu biasa tanpa hak.
Helena memesan taksi online untuk pulang kerumahnya, hanya beberapa menit dirinya sudah sampai dirumah ayah tirinya itu.
Begitu masuk Helena disambut oleh kesunyian, rumah ini seperti tidak ada orang sama sekali.
"Hey Helena akhirnya kau kembali juga, aku sudah mengemas semua barangmu disini ." Keysa datang dari halaman belakang rumahnya.
"Oho apa kau sungguh berniat mengusirku?" tanyanya Helena melihat Keysa didepannya
"Tentu saja karena aku pemilik rumah ini, kau siapa hanya anak perempuan dari wanita murahan "Keysa melipat tangan dan terus menghina.
Helena mengepalkan tangan kesal, Keysa selalu saja menghina orang tua nya.
__ADS_1
"Anak yang tidak tahu asal usulnya karena bersandar pada kekayaan ayah tirinya, kau kira aku akan diam saja melihat kau tinggal disini" Suara Keysa lantang mengema ke seluruh sudut rumah dan menertawakan, dan berjalan mendekati Helena
"Dan ya aku memecatmu, tiga hari cukup untuk aku menendang mu dari perusahaan itu" ucap nya berbisik pelan tertawa meremehkan.
Helena hanya bisa menahan amarahnya yang meluap seperti gunung berapi.
"Oh kalau begitu selamat untukmu, nikmati saja harta kekayaan orang tuamu, dan juga kau tidak lebih hanya bersandar pada kekayaan orang tua bukan kekayaanmu" balas Helena dengan senyum smirk
"Berani sekali kau berkata begitu padaku" keysa akan melayang kan tangan untuk menampar. Tapi tangan Helena lebih dulu menangkap tangan Keysa dan mendorong nya hingga terhuyung kebelakang.
"Kau bukan pewaris satu-satunya Keysa, masih ada adikku,"
"Kau"
"Ingat Keysa aku bukanlah orang yang mudah kau tindas seperti dulu "
Helena Pun pergi menarik serta kopernya keluar rumah keluarga paman Tara. Ia tidak punya tujuan dan juga tidak memiliki uang lagi.
"Aaa.. kemana aku harus pergi " keluhnya menyugar rambutnya frustasi,
Ia pergi menuju taman, berjalan menyusuri jalan setapak, dirinya pergi kesalah satu kursi taman menghadap kearah bunga yang sedang bermekaran, ia pun duduk dikursi taman.
"Aku tidak mungkin kembali kerumah Erfan, Hutangku otomatis akan bertambah lagi "Helena makin frustrasi.
"Tidak mungkin juga aku tinggal dibawah jembatan" Helena membayangkan dirinya terlantar dan terbuang.
"Kenapa aku begitu bodoh" Helena tertunduk dalam hingga rambut menutupi wajahnya. Terkadang ini posisi nyaman nya meluapkan kesedihan dan amarah.
"Kakak hantu jangan sedih" seorang anak mencolek bahunya, Helena hanya melihat dari sela rambutnya malas rasanya memperlihatkan wajah sedihnya.
"Ini aku berikan permen tapi jangan sedih ya," Helena dengan patuh mengangguk.
__ADS_1
Anak itu menyematkan beberapa butir permen coklat ditelapak tangannya dan kembali bermain. Helena merapi kan rambutnya ke samping memperlihatkan sebagian wajahnya.
"Gadis kecil itu sangat baik" ucap Helena membuka bungkus permen dan memakannya
"Wah kakak Hantu sangat cantik!"puji anak itu berdiri didepan Helena, sontak saja ia salah tingkah.
"Terima kasih banyak, ini aku berikan hadiah juga untukmu," Helena memberi sebuah gantungan boneka keberuntungannya pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu kegirangan dan berlari kearah wanita paru baya tidak jauh darinya. Helena sudah memikirkan selama beberapa menit dan bertekad kembali kerumah Erfan untuk melanjutkan hidup karena memang dirinya tidak punya pilihan lain.
"Kenapa nasipku semua jadi begini" runtuknya berjalan menyusuri trotoar dengan langkah kecil
Helena terpaksa berjalan kaki menuju apartemen Erfan yang sudah tidak jauh dari tempat ia berada sekarang, hanya saja hari sudah beranjak sore tapi dirinya belum makan siang.
Helena menepi ditaman kecil, ia kehausan terpaksa untuk pertama kalinya meminum air keran untuk memuaskan dahaga sekaligus laparnya, perutnya sudah minta diisi dari tadi.
"Aku kelaparan tadi pagi aku hanya makan sedikit dirumahnya." Helena memegang perutnya yang terasa perih. Mengumpulkan sisa tenaga berjalan hingga sampai di apartemen Erfan atau dikoridornya.
Saat sampai Helena dipersilahkan masuk oleh pihak keamanan karena sudah sering melihat Helena berada didaerah apartemen ini.
Helena menekan tombol menuju lantai apartemen milik Erfan yang berada dilantai 12, tidak lama pintu lift terbuka, ia berjalan berjalan pelan menuju apartemen yang dituju.
Hingga Helena berada didepan pintu Apartemen menatapnya dengan nanar.
"Apa ya sandinya? "Helena yang tidak tau pasword dari kunci apartemen ini, mencoba beberapa angka beberapa kali tapi tidak ada hasil.
"Kenapa tidak bisa!" Helena tetap mencoba walau kesal karena tidak terbuka dari tadi, dia sudah lelah.
"Dasar pintu!"
****
__ADS_1