
Sepanjang perjalanan hanya kesunyian diantara mereka, karena sibuk dengan isi pikirannya masing-masing. Helena sibuk dengan kebimbangannya karena kembali ke Apartemen Erfan tapi sudah diusir oleh Ibu Erfan.
Sementara Erfan yang sedang masih memikirkan apa perempuan ini benar-benar gadis kecil itu?seraya mengemudi sesekali melirik Helena yang masih diam melihat keluar jendela. Erfan meraih tangannya membuat Helena menoleh padanya dengan bingung seolah bertanya padanya.
"Ada apa?"
"Jangan terlalu khawatir, semua akan baik-baik saja." Erfan tersenyum sekilas seperti tau isi pikiran Helena yang berkecamuk tidak jelas.
"Baiklah," ucap Helena seraya mengangguk dan membalas senyumnya tanpa melepaskan tangan Erfan yang mengenggam tangannya dengan erat.
Helena akan berusaha kuat untuk dirinya sendiri juga untuk kedua ayah dan anaknya, walau kenyataannya mereka akan berpisah nantinya.
Sesampainya di apartemen Erfan memapah Helena kedalam rumah walaupun kondisinya sudah membaik.
"Pak jangan begini, aku baik-baik saja."
Helena merasa risih karena perhatian yang diberikan oleh Erfan, apalagi ditambah senyum manisnya yang terlihat menakutkan.
"Kau sudah harus patuh, jika tidak Luna akan marah karena Mamanya sakit karena aku," ucap Erfan duduk di sebelah Helena meliriknya sekilas.
"Mama?" ulang Helena
"Ya kalian kira aku tidak tau?" Erfan makin merapatkan tubuhnya pada Helena yang malah beringsut mundur. "Luna sering memanggilmu dengan sebutan Mama di belakangku kan?"
"Ja-jadi kau tau?" Helena tergagap karena Erfan sudah sangat dekat dengannya bahkan menarik pinggangnya agar tidak terus menjauh
"Tentu saja aku tau, asal kau tau aku tidak sebodoh itu, jadi sekarang kau harus patuh, paham!" Helena mengangguk cepat membuat Erfan memiringkan kepala sendiri ingin melihat ekspresi Helena yang memejamkan matanya karena ketakutan.
Detik berikutnya terdengar tawa Erfan disusul dengan kedua pipinya dicubit dengan gemas seperti mencubit pipi anak kecil.
"Kau lucu sekali," ucap Erfan ditengah gelak tawa dan juga mengacak rambut Helena hingga terlihat berantakan.
Helena yang masih diposisi yang sama mengerjap mata beberapa kali karena tidak menemukan titik lucu yang membuat Erfan tergelak.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terus tergelak hingga mengeluarkan air di sudut matanya, Erfan pun berdiri dan kembali mengacak rambut Helena.
"Sudahlah, kau hanya perlu istirahat hari ini." Erfan pun meninggalkan Helena di ruang tamu sementara dirinya masuk kedalam kamar untuk mandi dan juga berganti pakaian.
Ada apa sih? Kenapa tertawa apa ada sesuatu yang lucu, atau di wajahku ada sesuatu?
Meninggalkan kebingungan dibenaknya Helena beralih menuju ke kamarnya, masih dengan keadaan yang sama tidak ada perubahan sama sekali.
"Apa Erfan tidak tau tentangku? seharusnya aku tidak tinggal lagi disini kan?" pandangan Helena menyapu setiap sudut kamar, masih tersimpan fotonya dan sang ayah di sana.
Helena duduk di pinggiran tempat tidur dan meraih foto yang berada di atas nakas
"Ayah, Zira rindu!" Helena memeluk bingkai foto dirinya dan sang ayah yang sangat dirindukan.
Disertai air mata yang ikut mengalir membayangkan rindu yang tidak tercapai, ia membutuhkan tempat bersandar seperti ayahnya.
Erfan yang berada diambang pintu ternyata melihat betapa sedihnya Helena dengan memeluk sebuah bingkai.
Kau selalu terlihat kuat seperti pohon besar yang tidak goyah hanya karena angin, nyatanya kau seperti ranting yang sangat rapuh.
grep..
"Pak apa-"
"Menangislah setelah ini kau akan merasa lebih baik." Erfan memeluk Helena dengan erat.
Helena yang mendengar ucapannya tidak bisa lagi menahan tangis. Helena pun menangis didalam pelukan Erfan dengan tidak ragu sama sekali, suara tangisannya bahkan terdengar hingga keluar kamar, Helena tidak peduli.
"Kau sudah banyak mengalami masalah, menangislah." Erfan mendekapnya erat sesekali mengusap puncak kepala.
"Ayah kau membuat kak Helena menangis lagi!" Luna berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.
Ternyata Luna sudah datang karena Erfan meminta Anton untuk mengantarnya kesini. Ya Anton meninggalkan Luna setelah memastikan Erfan memang ada di rumah.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari gadis kecil ini Helena seketika menghentikan tangisnya, dan mereka berdua melihat Luna.
"Luna!" panggil mereka berdua bersamaan.
"Ayah!" Luna tetap tidak mengalihkan tatapan tajam pada ayahnya. Erfan yang mengerti arti tatapan itu berlutut mensejajarkan posisi dengan putri kecilnya
"Tidak ayah tidak melakukan itu, sungguh!" Erfan berusaha meluruskan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.
"Luna gak mau tau pokoknya ayah harus dihukum!"
"Ahh tidak bisa begitu dong, jangan dihukum ya?" Erfan memohon karena tidak mau mendapatkan hukuman dari putrinya.
"Huh! Luna gak akan terpengaruh?" Luna membuang pandangan kearah samping
"Sayang jangan begitu!"
"Ayo kak Helena, biar ayah yang dapat hukuman," ajak Luna pada Helena yang masih berdiri di tempat semula. Erfan pun ikut melihatnya.
Helena yang melihat pertikaian hanya tertawa kecil seraya menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah.
"Itu lihat dia tertawa!"
"Kak Helena kenapa tertawa?" tanya Luna heran bahkan memiringkan kepala sendiri karena bingung.
"Tentu saja karena kalian berdua, sangat lucu." Helena menghampiri Luna dan mencubit pipinya dengan gemas.
"Tunggu, maksudmu aku juga lucu?" tanya Erfan yang malah terlihat tidak terima.
Helena dan Luna saling berpandangan dan menjawab dengan serentak "Tentu saja!" Disusul oleh gelak tawa keduanya.
"Aku ini pria dewasa kenapa kalian mengatai aku lucu, Aku tidak terima!" Erfan geram karena dikatai begitu
Sementara kedua pelaku itu meninggalkan Erfan dikamar dan pergi dari sana masih dengan tawa.
__ADS_1
***