Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
15. Siapa kau sebenarnya?


__ADS_3

...Happy reading ...


"Bodoh hanya itu yang bisa disematkan pada namamu," cibirnya seraya menunjuk kening Helena


"Kau mengataiku begitu!" Helena menunjuk dirinya sendiri dengan tidak terima dikatai begitu.


"Ya memangnya kenapa?" balasnya santai tidak terpengaruh dengan amarah yang mulai keluar dari matanya


"Kau!"


Erfan memotong perkataannya dengan mengendong Helena untuk meletakkannya sofa ruang tamu dan mendudukkan Helena disana, sedikit melihat kaki Helena yang bertambah bengkak


"Dimana kotak obat mu yang tadi pagi aku berikan?" Tanyanya tidak terlihat disini.


"Di bawah meja ini...." tangis Helena perih terasa dikakinya 


Erfan duduk disebelah Helena setelah menemukan kotak obat dan mulai mencari obat yang diperlukan.


"Berikan kakimu letakkan di sini!" Erfan menepuk pangkuannya


"Aku kesakitan rasanya berat tidak bisa mengangkatnya "


Erfan menghela napas panjang, ia menaruh beberapa helai tisu di pangkuannya  dan mengangkat kaki Helena ke pangkuannya.


"Sakit, sakit!" Keluhnya saat Erfan mulai membuka perban yang membalut luka Helena dengan hati-hati.


"Aku tau sakit jadi bisakah kau diam!" Erfan tidak bisa konsentrasi melakukan hal ini.


Saat perban terbuka terlihat luka Helena brtambah parah dengan bengkak bertambah parah, dibersihkan dengan alkohol oleh Erfan dengan telaten.


"Aw...aw... sakit!" Perihnya menahan sakit.


Erfan menatap Helena dengan tajam seakan ingin memakan dirinya dengan utuh karena kesalahannya yang terlalu ceroboh berakibat pada sakitnya sendiri.


"Diam,  kau mengerti!" Ucapnya penuh penekanan membuat Helena takut dan menjawab dengan anggukan serta ketakutan.


"Lukamu tambah membengkak, dasar ceroboh," tutur Erfan malas menyindir Helena


Helena melihat Erfan begitu fokus pada lukanya seraya bergantian mengoleskan obat walau terasa perih Helena hanya menarik kakinya beberapa kali, serta mengigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Untung tidak infeksi, apa kau membersihkan luka dengan benar pagi tadi?" Tanya Erfan karena Lukanya masih seperti semula.


"Aku tidak meneteskan alkohol karena itu terlalu perih jadi aku hanya memberi obat dan membalutnya saja." Ucap Helena pelan karena tau dirinya bersalah.


"Dasar bodoh," Erfan membalut kembali Luka Helena dengan telaten juga, entah kenapa di saat begini lelaki ini begitu tampan di mata Helena.


"Pak, apa kau mau menikah denganku?" tanya Helena tiba-tiba membuat Erfan menghentikan aktifitasnya sebentar dan melanjutkannya.

__ADS_1


Erfan yang sudah selesai membalut luka Helena ingin rasanya membanting kakinya dengan keras. Tapi ia bangkit sedikit menunduk mendekati wajah Helena yang membuatnya beringsut mundur.


"Apa kepalamu juga terbentur hingga bodoh?" dibalik kepala untuk melihat apa ada benturan


"Tidak." balas Helena dengan bodohnya tidak mengalihkan pandangan


"Hanya dalam sehari kau jatuh cinta padaku begitu?" Erfan tersenyum meremehkan seraya menyentil dahi Helena, membuatnya tersadar. 


"Sakit! mana mungkin, aku tidak jatuh cinta hanya saja ketampananmu melebihi ketampanan orang biasa," gumam Helena.


"Mimpi saja kau!" Erfan berlalu setelah melepaskan satu kancing kemejanya dan menarik lengan kemeja hingga batas siku menuju dapur untuk memasak.


"Sombong sekali, tapi sepertinya aku akan beneran jatuh cinta padamu." ucap Helena lirih seraya menopang dagu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada bantal sofa.


Helena melihat dari kejauhan Erfan memasak dengan mengunakan celemek terlihat bertambah tampan dan juga gagah.


"Gila Helena kau benar-benar akan jatuh cinta padanya jika begini terus!" Helena mengalihkan pandangan kearah lain hingga memainkan jemarinya


"Makananmu sudah siap!" tutur Erfan melihat Helena yang sudah  berjalan kearahnya dengan pelan


"Hati-hati!" seru Erfan membuat Helena tersentak kaget dan mematung ditempat.


"Bodoh, jika kau sakit aku juga yang harus menanggung semua."


"Maaf aku terlalu lapar tadi jadi tidak hati-hati," Helena menampakkan deretan giginya..


"Sudahlah,"


"Ini makan makananmu," Erfan menyodorkan semangkuk bubur pada Helena membuat Helena berdongak melihatnya.


"Makan saja, ini bubur kacang hijau bernutrisi." Erfan ikut duduk dihadapan Helena dengan piring berisi makanan.


Helena tau dirinya tidak boleh terlalu banyak menuntut jadi hanya bisa menurut dengan berat hati dan makan perlahan.


"Oh ya tadi aku melihat ada perempuan cantik datang ke apartemen mu ini," Helena jadi teringat dengan perempuan cantik tadi.


"Siapa?"


"Sayangnya aku juga tidak tau, dia pokoknya cantik sekali, kalau aku jadi pria aku akan jatuh cinta padanya," jelas Helena panjang lebar.


"Tidak lama kemudian kau pun pulang ke sini bisa diprediksi jika kalian bertemu di lobi atau di parkiran tadi depan," Helena kembali menyuap makanan ke mulutnya.


Erfan tidak tertarik dengan yang dikatakan oleh Helena ia memilih makan malam dengan cepat.


"Habiskan makananmu, lalu tidur disana," tunjuk Erfan pada sofa seraya mengambil piring sisa makanannya untuk dicuci.


Erfan yang sudah selesai mencuci piring menoleh saat Helena memanggilnya. "Pak!"

__ADS_1


"Ada apa?" Balasnya dengan malas yang teramat.


"Sarangheyyo!" Helena memberi tangan berbentuk finger love pada Erfan dengan disertai senyum manisnya tidak lupa dengan lesung pipinya.


"Gak jelas kamu,"


"Saya itu berterima kasih loh pak, diterima dong!"


"Terima kasih, untuk apa?" tanyanya bingung


"Terima kasih karena merawat saya gitu, bahkan mengendong saya, jujur nih pak saya tidak se-ringan kapas di luar sana," Helena merendah.


"Kalau begitu bayar semua hutangmu dengan cepat, itu terima kasih yang lebih bernilai," ketusnya berjalan kearah akuarium, ia teringat belum memberi makan ikan-ikannya.


"Cih dikit-dikit hutang, dikit-dikit hutang," cibir Helena melanjutkan makan makanannya.


"Bilang apa kamu?" Jawab Erfan tiba-tiba membuat Helena tersentak kaget.


"Ti...tidak ada buburnya enak, Pak." Helena berkilah.


Helena kembali memanggil Erfan yang sedang memberi pakan ikan."Pak?"


"Ada apa lagi?" Balasnya jengah.


"Laporannya sudah selesai, silahkan diperiksa, jangan lupa koreksi pak,"


Erfan berjalan kearah ruang tamu pada laptop  yang masih terbuka.


Erfan melihat satu persatu halaman yang dikerjakan oleh Helena rasanya cukup bagus dari pada yang dibayangkan.


"Gimana, Pak?"


"Lumayan!"


"Lumayan gimana maksudmu?" Helena menantikan jawaban dari mulutnya dengan bersemangat tapi malah membuat senyumnya menghilang.


"Lumayan buruk,"


"Ck, yang penting Lumayan,"


"Percaya diri sekali kamu, bahkan sombong,"


"Tentu saja dong pak, sombong memang sifat kebanyakan perempuan di kota besar, contohnya sepertiku," balas Helena sekenanya


"Terserah saja!" Erfan membawa laporan itu kekamarnya karena tidak mau memuji keahlian Helena yang diluar dugaannya.


"Helena Queenzira, kenapa sepertinya aku seperti pernah bertemu dan kenal denganmu?" Gumamnya pelan berfikir keras.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?"


****


__ADS_2