
...Happy reading...
Erfan keluar dari ruangannya menuju lift yang khusus untuknya, hanya dalam hitungan dirinya sudah menyusuri lobi yang terlihat sepi hanya beberapa petugas yang ada.
Ia langsung memasuki mobil yang sudah terparkir di depan gedung dan melaju membelah jalanan yang lengang karena jam pulang kerja sudah satu jam yang lalu.
Saat mobilnya melewati Halte bus ia tiba-tiba teringat akan Helena yang tadi sudah pamit pulang terlebih dahulu, mobilnya diparkir dipinggir jalan sejenak turun melihat keadaan gadis itu.
Benar saja dia masih duduk di sana dengan memeluk lututnya sendiri, sebenarnya Erfan tidak yakin itu dia tapi setelan pakaiannya masih teringat dibenaknya, tapi paling membuat Erfan bingung Kenapa perempuan itu hanya duduk sendiri disana? Tidak ada siapapun selain dirinya.
Erfan menghampirinya dengan langkah cepat hingga makin dekat makin terdengar isakan tangis kecil disertai bahunya terguncang.
"Kenapa kau menangis?" tanyanya ikut duduk di sebelahnya
Helena menoleh pada orang yang duduk di sampingnya dengan air mata sudah menganak sungai di pipinya
"Hiks hiks.. pak Erfan!" Helena cukup terkejut sejak kapan pria ini ada di sampingnya.
"Kenapa kau menangis?" Erfan mengulangi lagi pertanyaan
"Hiks hiks pak.. hiks. Aku uuhuu aku tidak punya uang untuk pulang hiks.." Helena memberi tahu yang sebenarnya, disertai isak tangisnya.
"Hanya karena itu? Kenapa kau tidak kembali ke kantor meminta uang padaku?" Erfan memberi solusi dengan wajah datar
"Memangnya bapak kasih? Hiks.." Helena menoleh pada orang yang duduk di sebelahnya itu.
"Ya gak juga." jawabnya singkat membuat Helena makin tersedu-sedu, ini solusi yang tidak berguna.
"Tuh kan jadi percuma kalau aku kembali, hiks.." Helena tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir.
Sebenarnya Erfan tidak tega melihatnya menangis banyak orang yang lewat dengan sepeda motor malah memelototi dirinya seakan menjadi penyebab wanita ini menangis.
"Setidaknya kau bisa minta tumpangan, untung aku melihatmu di sini jika tidak kau tidak bisa pulang kemana pun,"
"Bapak akan memberiku tumpangan begitu?" Tanyanya lagi menghapus kasar air mata
__ADS_1
Erfan menghela napas panjang seraya bangkit dari duduk dan menjawabnya "Baiklah, kau mau pulang atau tetap disini sepanjang malam?"
Dengan sedikit berlari Helena berjalan mendekati mobil dan langsung masuk kedalamnya sebelum Erfan berubah pikiran
Tapi mobil bukan menuju rumah Erfan tapi ke tempat asing yang tidak diketahui oleh Helena hingga Erfan menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah yang sangat besar
"Rumah siapa Ini besar sekali!" Kagum Helena dengan suara lirih
"Tunggu disini, jika kau keluar tanggung akibatnya!" Erfan mengancamnya sebelum keluar dari mobil membuka pagar dan masuk kedalam sana.
"Memang apa salahnya aku keluar sebentar tapi tidak aku masih takut dengan ancamannya." Helena bergidik ngeri
Tidak berapa lama akhirnya Erfan kembali keluar dengan membawa Luna dalam gendongan dan juga tasnya tadi.
Erfan melemparkan tasnya dikursi belakang dan memberi Luna pada Helena
"Luna ingin bermain denganmu." Erfan memberi Luna dalam pangkuan Helena
Setelah itu Erfan kembali masuk mobil dikursi pengemudi dan melajukan mobilnya untuk pulang, hari pun hampir menjelang malam.
Sementara itu Luna sedang bermain dengan beberapa mainannya di kamar.
Helena melirik jam diatas nakas hampir menunjukkan jam 19:20 yang berarti sebentar lagi waktu makan malam.
Helena benar-benar tidak bisa bermalas-malasan di sini karena baik pekerjaan rumah dan kantor membuat dirinya lebih cepat lelah.
Helena menghela napas panjang seraya bangkit mengikat asal rambutnya yang sudah digerai tadi, ia kembali menuju ke dapur untuk memasak makan malam.
Helena mencuci tangan dan memakai celemek menandakan ia akan kembali berkutat didapur.
Erfan yang baru selesai mandi memilih turun mencium aroma makanan yang sangat menggoda lambungnya tidak terisi makanan setelah makan siang tadi.
"Kau masak apa malam ini?" tanyanya hanya seperti menyapa saja.
"Bukankah anda sudah menuliskannya disini tuan apa anda lupa?" Helena menjawab seakan menyindir Erfan
__ADS_1
"Aku hanya bertanya saja, ck beraninya dia memarahiku!" Erfan mencebik kesal memilih menghampiri putrinya yang ada dikamar dari pada berurusan dengan perempuan yang satu ini.
Setelah berkutat didapur hampir selama 30 menit Helena memilih mandi dengan cepat dan memanggil kedua ayah dan anaknya untuk makan malam
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan!" Helena mengajak keduanya
"Yeaah akhirnya Luna sudah lapar sejak tadi." Luna yang bersemangat berlari kecil menuju dapur diikuti oleh Helena dan Erfan dibelakangnya.
Mereka pun makan bersama dengan lahap walau Luna terus memuji enaknya masakan Helena tapi berbeda dengan Erfan yang malah ikut menghabiskan semua makanan yang ada.
Usai makan mereka menghabiskan semua makanan mereka memilih menyaksikan tayangan TV yang segaja diputar film animasi
Baru pertengahan film Luna sudah tertidur begitupun dengan Helena yang tidak bisa menahan rasa kantuknya.
"Masuklah kamarmu dan tidurlah aku akan membawa Luna masuk." Erfan bisa melihat wanita ini begitu merasa lelah, ya dia tidak sekejam itu pada perempuan.
"Baik pak terima kasih," ucapnya saraya bangkit dan berjalan gontai menuju kamarnya.
Akhirnya Helena menantikan hal ini sejak tadi, ia kembali menyapa bantal dan kasur yang ditinggal hampir seharian ini. Begitu merebahkan diri Helena langsung tertidur nyenyak
Bahkan Erfan yang memanggilnya tidak bisa didengar lagi olehnya
Erfan membuka pintu kamarnya padahal ia ingin mengatakan sesuatu tapi perempuan ini sudah terlanjur tertidur tapi saat ingin menutup pintu kembali langkah Erfan terhenti
Ia mendekati perempuan itu yang sudah tidur dengan gayanya tapi selimutnya malah terongok di kakinya, Erfan mengambil selimut itu dan menyelimuti perempuan itu.
"Jika kau sakit aku juga yang repot mengurusmu," cebiknya kesal
Pandangannya teralih pada nakas yang terdapat foto gadis kecil berusia sekitar lima tahun berpose dengan sang ayah melihat kamera
Erfan nampak bingung melihatnya "kenapa rasanya aku seperti mengenalimu?" Erfan melihat foto dan Helena yang tertidur bergantian
Pertanyaan itu lolos dari bibir Erfan tapi tidak ada yang bisa memberi jawaban padanya.
***
__ADS_1