
...Happy reading...
Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani mereka hingga sampai pada tempat yang dituju mereka masih diam beberapa saat.
"Ayo turun!" Erfan membukakan pintu untuk dirinya sendiri, tanpa melihat Helena, ia keluar dari mobil diikuti oleh Helena yang berjalan cepat hampir berlari mengikuti langkah Erfan yang bahkan tidak menunggu dirinya
"Cepatlah kenapa jalanmu lebih lambat dari siput!" ejek Erfan beralih melihat Helena benar saja, perempuan itu kesusahan mengimbangi langkahnya karena memakai rok span otomatis langkah yang ditempuh Helena tidak bisa dipercepat lagi
"Iya pak!" balas Helena dengan senyuman.
Apa katanya tadi? Aku lebih lambat dari siput! wah benar-benar minta dimaki dia.sungut Helena mengerakkan bibirnya tanpa suara menunduk seraya berjalan kearah Erfan
Tapi baru beberapa langkah kedepan Helena melihat ada yang mencegat jalannya membuat dirinya melihat siapa gerangan.
"Lain kali pakai celana jika ingin pergi denganku!" cecar Erfan berbicara seraya berkacak pinggang tepat didepan Helena.
Memangnya aku meminta pergi denganmu? hal ini kan mendadak, mana ada waktu memikirkan tentang ini! gumam Helena dalam hati
"Baik pak!" balas Helena mengikuti langkah Erfan.
Ciuman pertamaku baru saja direbut olehnya tapi dengan tidak tau malu dia marah karena hal remeh temeh begini!! jika tidak mengingat posisinya sendiri Helena mungkin sudah mencabik-cabik Erfan seperti singa gila.
Helena hanya bisa mengerutu dalam hati mengikuti langkahnya masuk kedalam salah satu ruangan VIP di restoran mewah ini.
Mereka berdua masuk menemui kliennya, Erfan duduk sementara Helena berdiri di sampingnya mendengar mereka bicara
Ia hanya menyimak sesekali menimpali menjelaskan beberapa pertanyaan dari kliennya itu.
__ADS_1
Erfan yang melihat Helena untuk pertama kalinya berbicara dengan klien begitu sopan bahkan tingkah bar-barnya tidak terlihat sama sekali saat serius begini.
"Jadi selamat bekerja sama Pak Theodore," ucap Erfan
"Baiklah selamat juga atas kerja sama kita!" balas kliennya dengan ramah pulang
"Kalau begitu kami pamit dulu!" pamit Erfan dengan wajah datar tapi terlihat sopan.
Mereka pun bersalaman sebelum akhirnya mereka berdua pergi tapi kembali terhenti karena kliennya itu.
"Apa Anda tidak makan siang terlebih dulu bersama kami?" tawarnya pada Erfan dan juga pada sekretarisnya.
"Maaf pak, saya tidak bisa, anda tau sendiri putri kecil minta dijemput kalau tidak nanti dia marah." kelakar Erfan seraya melihat jam ditangannya ia pun pamit seraya mengajak Helena agar ikut keluar bersamanya.
"Tapi pak? Saya belum makan siang!" bantah Helena saat mereka sudah keluar dari restoran itu.
Benar saja mereka menjemput Luna terlebih dahulu, begitu sampai Luna pun berlari kearah mereka berdua dengan gembira
"Yeah... Ayah sama Ma-eh kak Helena jemput Luna!" serunya meminta digendong oleh Helena.
"Iya sayang apa kamu senang?" Helena dengan gemas mencium pipi Luna.
"Tentu saja!" Helena mengajak Luna masuk kedalam mobil, dan Erfan mulai melajukan menuju ke kantor.
Dan benar saja mereka makan siang di restoran terdekat menuju kantor, karena Erfan akan mengantar Luna ke rumah neneknya.
Lain halnya dengan yang sudah mulai makan makanan yang di pesan, lain juga dengan Sindy dan Anton yang baru sampai di restoran itu.
__ADS_1
"Ton, coba lihat deh kursi nomor 14 arah jam 10 mereka bukan?" Sindy menepuk bahu Anton menunjuk arah tempat Helena dan Erfan sedang makan siang.
"Oh ya ampun, gua gak salah lihat kan, ada Luna juga!" Anton beberapa kali mengucek matanya seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.
"Kali ini gua bener-bener yakin sama hubungan mereka, ayukk ah bisa kelaparan lihat mereka berdua." ajak Sindy mereka duduk di kursi yang agak jauh dari pasangan itu.
"Semoga saja mereka beneran pasangan, serasi banget, bener gak?" Anton beralih bertanya pada Sindy
"Gua juga dukung yang terbaik buat mereka deh, cocok banget." Sindy mulai menyuap makanannya
Dengan was-was mereka makan takut jika ketahuan oleh mereka bisa ruwet masalahnya.
Setelah mereka menghabiskan semua makan siang, Luna pamit pada Helena untuk pulang kerumah neneknya.
"Kak Helena mau jemput Luna kan? kalau ayah telat pulang, ayah kadang lama jemputnya." pintanya setelah masuk kedalam mobil.
"Baiklah, nanti kak Helena bakal jemput." Helena menyetujuinya dan mereka berdua pun pergi meninggalkan dirinya yang masih berada didepan restoran, seraya melambaikan tangan pada mobil yang ditumpangi Luna.
Helena pun berjalan menyusuri trotoar yang memang tidak jauh dari perusahaan, Helena menghitung langkah hingga tidak sadar sampai di perusahaan ZG grup.
Pikirannya masih dipenuhi oleh Erfan, padahal pagi tadi dirinya sudah bersemangat tapi memikirkan tragedi tadi membuat dirinya malu sendiri.
"Bagaimana caraku bekerja jika terus memikirkannya!" Helena menangkup kedua pipinya yang terasa panas, berjalan cepat memasuki kantor karena jam makan siang hampir habis.
Helena memasuki lift bersamaan dengan karyawan lainnya hingga ia sampai di lantai 17 belas seperti biasanya.
Helena kembali melanjutkan pekerjaannya dengan cepat, mana tau nanti beneran akan menjemput Luna dirumah neneknya.
__ADS_1
****