Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
119. Karena ulahmu


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah menghabiskan semua makan malam mereka sekarang sedang menyaksikan acara Tv bersama, terasa begitu sempurna bukan? sungguh indah.


"Mama Luna sudah ngantuk hah...." Luna menguap seraya merenggangkan kedua tangannya


"Kalau begitu ayo kita tidur!" ajak Helena bangkit dari duduknya dan menggandeng tangan Luna menuju kamarnya.


"Tidak bisa!" bantah Erfan bangkit juga dari duduknya membuat mereka berdua menoleh padanya.


"Hah? Kenapa tidak bisa?" tanya mereka berdua dengan serentak.


"Bukankah kau juga harus menidurkan aku juga seperti Luna?" tanya Erfan dengan berkacak pinggang melihat pada Helena dengantersenyum miring


"Ayahkan sudah besar masa harus dibacakan dongeng juga sih!" cebik Luna tidak terima Mamanya diambil.


"Lupakan sayang sesekali ayahmu memang begitu, dasar aneh!" cebik Helena memutar tubuhnya untuk pergi dari sana.


Helena menggeleng kepala tidak habis pikir dengan isi pikiran Erfan yang keterlaluan apa lagi berbicara dengan begitu polosnya.


"Bukankah kau sangat menginginkan adik ayah akan membuatnya dengan Mamamu ini!" ucap Erfan lagi langsung membuat langkah mereka kembali terhenti


"Benarkah?" tanya Luna dengan polos serta mata yang berbinar. Sementara Helena menatap tajam seperti akan melubangi tubuh Erfan dengan tatapannya itu.


"Erfan apa yang kau bicarakan, jangan pedulikan apa yang ayahmu katakan sayang, ayo kita masuk." ajak Helena lagi sangat kesal dengan tingkah Erfan yang tidak ada malunya.

__ADS_1


"Sudahlah Ma malam ini Luna bisa tidur sendiri, oh ya Luna mau adik perempuan." Setelah mengatakan hal itu Luna berlari masuk kedalam kamarnya sendiri dengan senyum gembira menghiasi wajahnya


"Erfan kau benar-benar keterlaluan, apa maksud mengatakan hal seperti itu kepada Luna untuk apa hah?" kali ini berganti Helena berkacak pinggang ingin rasanya meremat wajah polos Erfan.


"Tenanglah kenapa kau harus marah aku hanya bercanda saja." ucapnya santai kembali duduk di sofa.


"Bercanda katamu jadi kau suka kesalah pahaman ini terjadi, kalau begitu silahkan kabulkan permintaan putrimu, aku pamit kalau begitu!" Helena berbalik ingin pergi, lelucon Erfan tidak terdengar lucu sama sekali.


"Helena apa yang membuatmu begitu marah begini, aku hanya ingin bicara dengarkan aku!" Erfan bangkit dan mengikuti langkah Helena


"Kalau begitu bicara saja dengan dinding, bukan denganku!" kesal Helena bahkan menghentak langkah kakinya


"Lalu kenapa Nyonya Zergano menemuimu tadi siang?" tanya Erfan membuat langkah Helena terhenti dan berbalik seolah tidak percaya dengan perkataan Erfan barusan


"Kau-Kau membuntutiku begitu!" ucap Helena masih tidak mau kalah


"Sudahlah pria macam apa kau ini plin plan sekali


"Ya aku memang menyusulmu setelah lama kau tidak kembali, dan aku bertanya pada pedagang cilok itu tentangmu dan dia menunjuk mobil yang terparkir tidak jauh dari sana." jelas Erfan meluruskan masalah


"Ja-jadi kau sudah tau." ucap Helena pelan kali ini wajahnya tertunduk malu karena ketahuan berbohong.


"Mana aku tau, kau tidak memberi tahuku, katakan apa yang kalian bicarakan!" Erfan melipat tangan didepan dada menantikan jawaban dari Helena.


Mereka berdua akhirnya duduk di balkon atas rumah Erfan, kali ini Helena menceritakan tentang semua hal tanpa ada yang ditutupi mulai dari pak Seto yang membayar ciloknya karena lupa membawa uang hingga akhirnya dirinya berdamai dengan nyonya Zergano

__ADS_1


Sesekali Erfan mengepalkan tangannya dengan kesal saat Helena menyebutkan nama Deon dengan rasa kasian, tapi api seolah terpatik di tubuhnya


"Begitu kak, aku bilang akan meminta izinmu untuk menemui Deon secepatnya." Helena berucap pelan dengan tertunduk.


Braakk...


"Kenapa kau sangat ingin menemuinya apa kau mencintainya setelah kalian menghabiskan malam itu." Kemarahan Erfan membuncah sudah seakan tidak ada yang bisa memadamkan amarahnya itu.


Helena menggeleng kepala cepat dan memeluk pinggang Erfan dari belakang bersandar pada punggungnya.


"Sebenarnya malam itu dia tidak melakukan apapun padaku, Ya aku memang diberi obat tapi aku bisa jamim bukan dia pelakunya." Helena berkata benar walau hanya menutupi sedikit karena tidak mau Erfan bertambah marah.


"Setelah aku mendapatkan pisau dia terlihat sangat khawatir bahkan ingin merebut pisau itu agar aku tidak melukai diri sendiri, tapi aku terlalu takut melakukan sesuatu tanpa sadar hingga aku memilih melukai diri sendiri." Helena masih terus berbicara dengan memeluk Erfan begitu erat.


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi, jika kau tidak datang tepat waktu." Helena benar-benar merasa beruntung saat Erfan datang waktu itu.


Erfan mengenggam tangan Helena, membalikkan tubuhnya dan membawa Helena dalam pelukannya wanitanya terlihat begitu lemah.


"Jangan menangis lagi, untuk kali ini aku aku mengizinkanmu," ucap Erfan balas memeluknya dengan erat.


"Kau tidak boleh menemuinya sendiri aku akan akan ikut bersamamu." lanjut Erfan menyandarkan kepala dibahu Helena


"Terima kasih kak, sebenarnya tidak masalah bagiku jika kau tidak mengizinkan, hanya saja aku tidak mau kau salah paham."


"Bicara tentang salah paham, sepertinya Luna juga sedang salah paham dan mengira kita membuat seorang adik untuknya." kelakar Erfan membuat Helena terkekeh pelan

__ADS_1


"Ini semua karena ulahmu!" Helena memukul bahu Erfan hingga ia mengeluh kesakitan disertai tawa dari Helena.


...****...


__ADS_2