Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
55. Jangan mendekat!


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah sampai di depan pintu Apartemen Erfan membuka pintu serta mengantar putrinya kekamar diikuti oleh Helena dibelakangnya.


Helena mengganti baju Luna sementara Erfan sudah kembali ke dalam kamarnya juga untuk membersihkan diri.


"Luna sangat manis jika sedang tertidur seperti ini!" Gemas Helena menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Luna hingga sebatas lehernya


"Tidur yang nyenyak anak Mama Helena," ucap Helena pelan seraya mengecup keningnya sebagai tanda sayang selamat malam dan perlahan keluar juga menutup pintu kembali.


Helena memilih kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri juga karena dirinya masih memakai long dress hingga kesusahan beraktivitas.


Usai membersihkan diri dan mengganti pakaian Helena merebahkan diri di tempat tidur tapi matanya tidak kunjung terpejam.


Helena tetap berusaha tidur bahkan menyelimuti tubuhnya hingga kepalanya, tapi tetap saja hasilnya sama.


"Sepertinya insomia kambuh lagi!" Helena menyingkirkan selimut hingga terjatuh dari tempat tidur dengan kesal.


Helena bangkit dari tidurnya berjalan kearah lemari penyimpanannya mengambil sesuatu.


"Akhirnya kau sangat berguna disaat aku membutuhkanmu!" Helena meraih dan juga memeluk satu cup mie instan kesukaannya seraya mengendap-ngendap keluar berjalan kearah dapur.


"Mumpung pak bos dikamar aku masak dulu ahh, sabar perut kamu pasti sangat merindukan mie instan kan?"


Helena tersenyum lebar saat mengambil panci untuk merebus air, saat menunggu air mendidih Helena membuka cup mie instannya.


"Kok lama banget sih mendidihnya!" Helena celingak celinguk melihat mungkin akan ada sesuatu yang kurang, tapi tidak ada yang kurang.


"Apa yang kau lakukan disini!"


Saat sedang fokus dengan memasak air Helena dikejutkan hingga mundur beberapa langkah oleh suara boss nya yang menggema memenuhi dapur.

__ADS_1


"Eh bapak, belum tidur udah larut?" Helena malah mengalihkan pembicaraan tentang hal lain.


"Masak apa kamu?" tanya Erfan sinis


"Mie instan Pak, apa anda ingin sesuatu?" Helena malah balas bertanya agar tidak kena marah oleh Erfan.


"Tidak perlu, mie instan tidak baik untuk kesehatan, untuk apa kau memasak itu?" Erfan mengambil segelas air putih hangat menegak minumannya.


"Sekali-kali tidak akan jadi masalah besar pak," jawab Helena malah nyengir menampakkan deretan giginya.


"Setelah selesai cari aku diruang tamu," Erfan pun berlengang pergi setelah menuangkan segelas air hangat lagi dan berjalan kearah ruang tamu.


Ada apa sih? Kenapa ada hal penting banget gitu, sok misterius deh pak, gak cocok!


Helena ngedumel di dalam hati dengan terus melanjutkan memasak mie instannya yang sangat menggugah selera.


"Enak banget nih, baunya pun enak!" Helena mengaduk mie instannya beberapa kali kali seraya mencium aromanya yang membuat perutnya bertambah lapar.


Padahal dirinya baru pulang dari pesta yang dimana tadi terdapat banyak makanan.


"Apa yang kau mau makan mie instan di sini?" Erfan tidak percaya sofa dijadikan tempat makan olehnya


"Tentu saja pak, kan kau barusan memanggilku! atau Anda ingin menunggu aku selesai makan semua ini?" Helena menjawab dengan mulut penuh dengan mie yang sedang dikunyah-kunyah.


"Lupakan. Kudengar kau kenal dengan Deon?" tanya Erfan langsung pada inti permasalahannya.


"Siapa bilang! siapa Deon? tidak pak! Aku tidak punya teman bernama Deon." jelas Helena mengibaskan tangannya dan juga mengeleng kepala tidak bersalah.


"Lalu siapa dia?" selidik Erfan yakin betul mereka saling mengenal


"Mana aku tau, aku tidak kenal dengannya!" Helena mengangkat bahu tidak tau diselingi dengan memakan mie nya.

__ADS_1


"Bohong! aku melihat dia bicara denganmu tadi, tidak mungkin orang akan seakrab itu jika tidak saling mengenal."


"Dia itu Deon? Kok aku gak tau pak, dia tuh tiba-tiba narik tangan aku nih, ku suruh lepas dia malah meluk aku, mau aku bentak tapi banyak orang jadi aku sentak aja tangannya tadi dengan susah payah." ucap Helena memperagakan kejadian tadi dengan dramatis.


"Kau mencoba membohongi ku begitu?" Erfan tidak mudah percaya lagi jika perempuan pernah berhubungan dengan Deon.


"Tidak pak aku berkata jujur, tadi saja waktu berdansa dia menarik-"


"Cukup, mulai besok kau pergi dari sini, pergi saja bersama Deon itu, aku tidak ingin berurusan dengannya apalagi denganmu!" Erfan tidak mau mendengar penjelasan lagi, karena tidak. akan merubah apapun, ia berjalan melewati Helena menuju ruang kerjanya.


"Tapi pak! Aku tidak punya hubungan dengannya!" bantah Helena memang benar adanya, ia ikut bangkit dan mengikuti langkah Erfan dengan menenteng cup mie instannya


"Tapi-" Erfan membalikkan tubuhnya melihat Helena.


"Aaaa!"


Helena kembali tersandung kakinya sendiri melempar cup mie instan dan meraih tubuh Erfan agar tidak terjatuh tapi Erfan pun ikut terjatuh juga


Cup..


Bibir Helena tepat mendarat di leher Erfan yang mulus dan juga putih. Tanpa sadar Helena sedikit menghisapnya karena rasa pedas dimulutnya.


"Apa yang kau lakukan!" Bentak Erfan merasa aneh pada lehernya apalagi nafasnya yang menggelitik dirinya


"Pak, aku-" Helena bangkit dan duduk diatas tubuh Erfan berusaha menjelaskan tapi lagi-lagi dipotong oleh perkataan Erfan.


"Bangun dari tubuhku!" bentaknya memegang lehernya yang tiba-tiba terasa panas hingga menjalar ke pipinya.


Helena bangkit dengan tertunduk malu, mau membantu Erfan bangun juga mungkin saja dia kesakitan.


Ya ampun apa yang kulakukan! Helena kau mulai tidak tau malu sekarang! Helena meruntuki dirinya sendiri

__ADS_1


"Berhenti di sana, jangan mendekat!" Erfan mundur beberapa langkah.


****


__ADS_2