Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
92. Bagaimana caranya?


__ADS_3

...Happy reading ...


Terhitung sudah lebih seminggu lamanya setelah Erfan mengucap perasaannya pada Helena dan sempai sekarang tidak mendapatkan jawaban membuat Erfan pusing.


Bukan hanya Erfan bahkan Helena pun tidak bisa menerimanya apa lagi setelah apa yang dikatakan oleh Mona beberapa hari lalu membuat dirinya bertambah bingung.


"Mama apa kita boleh makan ramen besok sebagai makan malam?" tanya Luna setelah Helena selesai membacakan dongeng sebelum tidur untuknya


"Boleh besok Mama akan memasaknya untuk Luna?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Helena.


"Mama yang terbaik!!" Luna bersorak dengan gembira.


"Terima kasih sayang, ini sudah larut tidurlah oke?" Luna mengangguk dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut serta memejamkan mata.


Huftt Luna sudah tertidur tapi aku harus menghadapi Erfan setelah ini. Helena hanya bisa menghela napas panjang untuk sedikit menghilangkan beban.


Pelan-pelan Helena membuka pintu kamar Luna, melihat seisi ruang tamu mencari sosok  pria itu tapi sepertinya keberuntungan berpihak padanya karena tidak ada tanda keberadaan Erfan.


Helena berjingkrak pelan dengan waspada bukan karena takut Helena belum siap memberi jawaban karena hatinya terasa bimbang, apalagi setelah perkataan Mona beberapa hari yang lalu.


Helena mundur terus perlahan hingga sampai didepan pintu kamarnya dengan selamat, Helena meraih handle pintu dengan perlahan juga.


"Ada apa denganmu?" tanya Erfan membuat Helena terlonjak kaget mendengar suara Erfan yang ternyata dari dapur, dia sedang memegang gelas berisi air putih.


"Eh pak Erfan, Anda belum tidur?" tanya Helena dengan polosnya padahal dirinya tau Erfan menunggunya.


"Aku menunggumu dan juga jawabanmu." ucap Erfan dengan serius.


"Haha. sebenarnya bukannya aku tidak mau,Tapi aku merasa sangat lelah kita bicaranya besok saja ya?" kilah Helena membuka pintu kamarnya untuk masuk.


Helena langsung masuk dan menutup pintu kamarnya dengan jantung berdegup kencang ia tidak tau mau menjawab apa, ingin menjawab tidak tapi dirinya mempunyai perasaan pada Erfan.


"Kenapa dia seperti menghindariku?" Erfan kebingungan sendiri


Erfan melanjutkan minum air karena merasa sangat haus menunggu Helena dari tadi, pikiran Erfan berkecamuk kenapa rasanya Helena seperti menghidari dirinya. Apa yang salah?

__ADS_1


Erfan berjalan kearah ruang kerjanya karena tidak mengatuk dirinya pun harus menyelesaikan pekerjaannya yang tadi tidak sempat dikerjakan


Dalam satu jam Erfan bisa menyelesaikan semua pekerjaan tapi pikirannya tiba-tiba tertuju pada Helena, gadis manis yang selalu menari-nari di pikirannya.


"Apa aku salah mengungkapkannya, kenapa dia seperti menghindariku, apakah aku begitu menyeramkan?" pertanyaan yang sama masih memenuhi benaknya


"Tidak mana mungkin aku menyeramkan, tampan gini kok!" Erfan berkaca pada layar laptop yang masih padam.


"Pertanyaanya kenapa dia begitu, sepertinya aku harus mencari tau tentang ini, tapi pada siapa?"


Erfan berfikir keras mungkinkah ada orang terdekatnya yang tahu menahu tentang seorang wanita, ketuk-ketuk suara jemarinya mengetuk meja makan begitu terdengar.


"Yolan, benar dia kan ahli dalam masalah wanita." akhirnya ada ide yang mampir di kepalanya.


Erfan meraih ponselnya yang dari tadi tergeletak di mejanya mencari kontak temannya yang sangat berguna dalam hal ini. Ia menghubunginya begitu saja bahkan tidak melihat sudah jam berapa sekarang.


Lama sekali rasanya menunggu panggilan diangkat bahkan Erfan menghubunginya beberapa kali yang membuat Erfan terus mengumpatnya walau tidak didengar hingga sambungan telpon terjawab.


"Halo, ya siapa ini?" ucapnya rada kesal orang dari mana yang tengah malam menghubunginya berkali-kali.


"Eh ehem Erfan, ada angin apa hingga kau menghubungiku?" Yolan masih mengantuk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.


"Aku punya sedikit masalah, i-ini tentang temanku, ya temanku."ucap Erfan tergagap sendiri karena gugup.


"Temanmu, Yang mana?" tanya Yolan malah bingung dengan tingkah Erfan. Lagian dia punya teman dari mana sih, kau bahkan tidak ingin berteman dengan siapapun.


"Ada dia teman yang dulu satu perguruan denganku." balas Erfan membuat Anton berdengus kesal.


"Teman ya!" Yolan tersenyum licik.


Cih boro-boro punya teman bahkan kamu tidak mau berteman dengan siapapun, pasti kau mencoba membohongiku. Beruntung kau menyelamatkanku hingga kita jadi teman


"Iya temanku, jadi begini temanku itu sudah mengungkapkan cinta pada seorang perempuan-" belum selesai ia bicara Yolan sudah memotong karena sangking tidak percayanya.


"Apa kau mengungkapkan cinta!" sentaknya kaget

__ADS_1


"Bukan aku tapi ini temanku." Erfan kembali menekankan bahwa ini adalah tentang temannya bukan dirinya.


"Ya ya temanmu maksudku." Anton mulai jengah tapi ia penasaran dengan kelanjutan cerita Erfan ini


"Setelah dia mengungkapkan cinta pada perempuan itu malah seperti menghidar bahkan membuat segala alasan untuk menjauh seperti menghindarinya." terdengar dengusan kesal dari suara Erfan yang memang merasa kesal karenanya


"Mungkin dia tidak mencintaimu."


"Apa! Tidak mungkin, Dia menganggap aku sebagai penyemangat hidupnya selama ini bahkan kami pernah berciuman beberapa kali." ujar Erfan dengan gamblang tanpa malu-malu


"Apa?" Yolan sampai melonggo mendengar Erfan, masa sih dia sudah mendahuluiku!! Rasa kesal tiba-tiba menyerang hati Yolan.


""Eh maksudku temanku."


"Ya ya intinya adalah perempuan itu harus  kau perjuangkan, kejar cintanya, pasti dia akan luluh walau dengan balok es, berikan semua yang disukai, itu yang utama."


"Sudah kubilang bukan aku tapi temanku!" Erfan kembali menekankan agar Yolan tidak salah paham padanya.


"Ya ya terserah kau saja, kau bisa memberinya bunga, coklat atau apapun lah yang disukainya." balas Yolan malas tapi tetap menasehati temannya ini.


"Tapi dia suka uang."


"Kalau itu aku tidak tau, atau berikan saja uang padanya atau kartu hitam milikmu."


"Enak saja, tidak mau!"


Haha Karena kau adalah Erfan jadi tidak akan memberikan hal begitu pada seorang perempuan yang kau cintai tapi kau akan memberikannya cinta yang tulus.


"Ya sudah terserah saja, Fan hari sudah sangat larut tidurlah." Yolan kembali mengantuk karena setelah ini pasti tidak ada lagi cerita menarik.


"Tapi bagaimana caranya?" Erfan kembali dilema


"Terserah kau saja!" balasnya malas dan memutuskan sambungan secara sepihak.


"Halo Yolan, Yolan!" teriak Erfan kesal tapi tidak didengar lagi oleh Yolan.

__ADS_1


***


__ADS_2