
...Happy reading...
Dalam perjalanan Aliza merogoh sapu tangan dari dalam tasnya untuk menutup sayatan luka dilengan kiri Helena yang terus mengeluarkan darah segar.
"Bertahanlah Helena!" ucapnya seraya membalut luka Helena
"Pak Apa Anda punya sapu tangan?"
"Didalam saku jas yang dipakai Helena di sebelah kiri, ambil saja." balas Erfan tetap berusaha fokus pada jalanan di depannya.
Aliza mengangguk samar merogoh sapu tangan Erfan dan menutup sayatan di lengan sebelah kanan Helena.
"Naa aku mohon bangunlah!" Aliza merengkuh tubuh sahabatnya yang tidak lagi bertenaga sesekali juga menepuk pelan pipinya agar terbangun
"Naa bangun!"
"Helena bangun, buka matamu!" pinta Aliza tapi seakan sia-sia karena Helena tidak kunjung membuka matanya.
Erfan sesekali melirik melalui kaca spion begitu terlihat sangat jelas kesedihan dan kekhawatiran di wajah sahabatnya Helena itu.
Erfan bukan hanya sekedar marah kali ini tapi dirinya akan memberi hukuman yang akan disesali oleh Deon Zergano dan juga oleh Nadin karena sudah berani menyakiti Helena.
Begitu sampai didepan rumah sakit Erfan mengendong Helena kedalam rumah sakit dan menaruhnya di brangka.
"Helena ku mohon buka matamu, aku ada di sini!" ucap Erfan mengenggam erat tangan Helena tidak mau kehilangannya.
Langkah Erfan dan Aliza terhenti didepan pintu ruang UGD karena dihentikan oleh salah satu suster yang bertugas.
__ADS_1
"Helena kuharap kau baik-baik saja!" gumam Aliza mengigit ujung jemarinya karena merasa sangat khawatir sekarang.
Dokter sedang memeriksa keadaan Helena didalam sana, sementara itu Aliza dan Erfan menunggu dengan penuh kekhawatiran di luar ruangan.
Aliza sudah mondar mandir puluhan kali sementara Erfan hanya bisa termenung memegang sapu tangannya yang terlepas dari tangan Helena, terlihat darah masih membasahi sapu tangan itu.
Dari kejauhan Anton menghampiri mereka dengan napas terengah-engah, rasa sakitnya dari tadi pagi hilang sudah karena juga mengkhawatirkan keadaan Helena.
"Bagaimana apa Helena baik-baik saja." tanya Anton pada Aliza karena Erfan terlihat masih memandang sapu tangan.
Aliza mengeleng kepala tidak ada yang tau keadaan Helena sekarang, Aliza tidak bisa lagi membendung air matanya sejak tadi ditahan.
"Aku tidak tau kak, Helena pasti sangat kesakitan!" bahu Aliza terguncang seakan merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Helena.
Anton membawanya kedalam pelukan dan membiarkan dia menangis untuk beberapa saat, tidak peduli kemejanya basah karena air matanya.
"Tenang, semua akan baik-baik saja, berdoa semoga Helena baik-baik saja." ucap Anton dijawab dengan anggukan oleh Aliza dalam pelukannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Erfan langsung menghampiri dokter dan berhenti tepat di depannya.
"Dia baik-baik saja, karena pengaruh obat dia merasa shok dan berusaha melindungi diri, selebihnya semua baik-baik saja." jelas dokter tentang keadaan pasiennya
"Obat apa?"
Sejenis obat kuat atau biasa disebut...."
"Obat perangsang! Ya ampun apa salah Helena, kenapa mereka begitu tidak punya hati." potong Aliza cepat tiba-tiba merasa geram karena kelakuan pelaku yang begitu kejam.
__ADS_1
"Sekarang kami sudah mengeluarkan sisa obat itu, tidak ada efek samping apapun, dia akan baik-baik saja setelah sadar." ucap dokter lagi membuat mereka bernapas lega karena Helena baik-baik saja.
"Syukurlah!" ucap mereka bersamaan saling melemparkan senyum karena bahagia dengan keadaan Helena.
"Bolehkah kami menemuinya?" tanya Aliza tidak sabar menemui sahabatnya itu.
"Boleh setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat inap." ucap dokter kemudian pamit pada mereka bertiga untuk melanjutkan tugasnya yang lainnya.
...⚘⚘⚘...
Tidak menunggu pagi Erfan bergegas menyuruh orang kepercayan nya untuk mencari keberadaan Nadin yang sudah sangat berani padanya dan juga ingin menghukum Deon .
Bukannya dirinya yang tidak tau diri, Erfan sudah berkali-kali memperingati pada mereka agar tidak melewati batas, tapi sekarang kesabarannya habis sudah
Bukan hanya mempermainkan dirinya tapi juga mempermainkan Helena.
"Cris temukan keberadaan mereka secepatnya dalam keadaan hidup! Biar mereka merasakan apa arti sakit yang sebenarnya!" Geram Erfan bahkan mengetatkan rahangnya.
"Baik pak!" balas Cris tanpa bertanya itulah ciri khasnya.
Sambungan telpon terputus begitu saja, Erfan mengeratkan rahangnya sudah habis kesabarannya selama ini pada mereka berdua.
Helena sudah tertidur lagi setelah sadar beberapa lalu, Erfan menoleh pada Helena yang masih didampingi oleh sahabatnya itu.
"Tolong jaga dia, ada pengawal di luar jika ada hal mendesak panggil saja mereka." ucap Erfan berjalan kearah pintu.
"Tunggu, apa yang harus ku katakan jika Helena nanti sadar?" tanya Aliza yang kemudian hanya bisa meruntuki kebodohan karena menanyakan hal sepele seperti itu.
__ADS_1
"Aku akan kembali sebelum dia sadar." Erfan pun pergi dari ruangan itu dengan menahan amarahnya.
...*****...