
...Happy reading...
Pagi sekali Helena sudah menyeret keluar kopernya dari apartemen yang sudah ditinggali hampir genap 6 bulan terakhir yang memberi kesan baginya.
Helena meletakkan kunci kamar dimeja ruang tamu, pandangannya menyapu setiap sudut ruangan rumah ini yang penuh kenangan bersama dengan mereka.
Helena membuka pintu perlahan dan juga menutupnya dengan perlahan, setelah keluar Helena menyeret koper ke arah lift untuk turun ke lobi.
"Sampai jumpa lagi!" ucapnya melangkah keluar dari gedung apartemen itu dengan senyum.
Maaf Mama pergi seperti ini, Mama hanya tidak ingin membuatmu sedih sayang! semoga kamu akan baik-baik saja. Helena membayangkan wajah Luna yang penuh dengan senyum gembira
Sementara itu Erfan yang semalam tidak bisa tidur rupanya tertidur dengan posisi duduk di kursi kerjanya, ia tersentak mendengar suara pintu tertutup
"Helena!"
Erfan mengusap kasar wajahnya karena baru terbangun sudah menyebut nama Helena, ia pasti bermimpi karena terlalu memikirkan tentang Helena.
Erfan mencuci wajahnya dikamar mandi menyadarkan dirinya dari mimpi buruk, seharusnya ia senang Helena pergi tapi ada yang salah dengan dirinya, merasa sangat sedih.
Erfan turun ke lantai bawah tidak mendapati siapapun, mungkin Helena belum bangun pikirnya.
Erfan meminum segelas air putih dan kembali masuk kedalam kamarnya bersiap kekantor.
__ADS_1
"Tapi bukannya hari ini hari minggu?" Erfan menepuk jidatnya sendiri karena kebodohan bisa melupakan hal itu tapi ia tetap kekamar untuk membersihkan diri.
Erfan juga harus menjemput Luna yang ada di rumah orang tua angkatnya, Ia mengenakan baju santai dan turun kembali ke lantai bawah.
"Dimana Helena? Kenapa belum memasak sarapan?" gumamnya mengedarkan pandangan ke segala penjuru rumah.
Erfan melihat Helena ke kamarnya tapi tidak ada, begitu pun di kamar Luna dan juga kamar mandi, sebenarnya dimana d
"Oh ya ampun! Apa dia benar-benar pergi?" raut wajah Erfan seketika memucat apa Helena beneran pergi tadi pagi, ini tidak mungkin kan!
Erfan terduduk di sofa dengan pikiran berkecamuk, Helena sudah pergi dan bagaimana caranya menghadapi Luna nantinya.
Drrttt...drrttt
"Cihh awas kau Helena, beraninya kau pergi ku pastikan kau tidak akan pergi lagi dimasa depan." geram Erfan mengepalkan tangannya dengan kesal
Erfan mengambil ponsel itu mengangkatnya dengan cepat dan meletakkan di telinga tanpa mau menyapa
"Halo, ayah?" sapa Luna dengan suara imutnya yang terdengar begitu menggemaskan.
"Lu-Luna!" Erfan tergagap menyebut nama putrinya sendiri bagaimana tidak gugup pasti dia akan menanyakan tentang Helena.
"Iya ayah ini Luna, apa Mama ada? Luna sangat ingin makan cheese cake boleh?" pertanyaan beruntun diberikan putrinya membuat Erfan berfikir keras sebelum menjawabnya.
__ADS_1
"Bo-boleh tentu saja boleh, nanti ayah bilangin ya?" keringat sudah membasahi dahinya karena untuk pertama kalinya harus berbohong pada putrinya sendiri.
"Oke sekalian jemput Luna ya, Luna pengen banget main sama Mama Helena hari ini!" ucapnya riang lain halnya dengan Erfan yang malah khawatir dengan keadaannya nanti.
"Iya sayang nanti siang ayah jemput ya!"
"Iya ayah sudah dulu byee!" balasnya dengan nada yang begitu gembira
Hufthh
Erfan menghela napas panjang setelah memutuskan sambungan telpon, Ia mengacak rambutnya sendiri karena frustrasi, kemana perginya Helena sepagi ini.
"Helena kemana kau pergi sih! aku begitu bodoh bagaimana bisa tidak tau tempat yang sering dikunjungi!" Erfan pada dirinya sendiri
Erfan meraih ponsel dan kunci mobil miliknya, ia harus mencari Helena sekarang sebelum menjemput putrinya nanti siang.
Erfan melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih pagi yang masih begitu senggang, Helena tentu belum terlalu pergi begitu jauh.
"Helena tolonglah kembali Luna membutuhkanmu, aku mohon!" ucapnya mengenggam erat setir mobil serta sesekali mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, mungkin saja menemukan keberadaan Helena.
"Apa mungkin kau kembali kerumah orang tuamu itu? Tidak mungkin kan." Erfan tau Helena tidak mungkin kesana karena kondisinya
"Apa mungkin ke tempat sahabatnya itu?" tebak Erfan tapi dirinya tiba-tiba merasa bodoh, Dimana tempat tinggal sahabatnya itu? Aaa kau benar-benar bodoh Erfan! bagaimana kau bisa tidak tau
__ADS_1